Istri Omar Mateen, pelaku penembakan massal di kelab gay Pulse, Orlando, disebut mengetahui rencana brutal itu sejak jauh-jauh hari. Karenanya, perempuan bernama Noor Salman ini terancam dikenai dakwaan hukum.
Kantor berita Reuters melaporkan, Rabu (15/6), Salman dari penyelidikan polisi dan intelijen, rupanya memahami niat suaminya hendak menyerang klub gay. Belum jelas hukuman jenis apa yang bisa menimpa Salman karena mendukung penembakan massal terburuk sepanjang sejarah Amerika Serikat.
"Kami mencari bukti keterlibatan Salman sebagai pemberi akses kepada 49 pembunuhan dan 53 percobaan pembunuhan. Salman dinilai gagal memberitahu pihak berwajib tentang rencana serangan (Pulse)," kata sumber jaksa federal yang kini sedang menyelesaikan pemberkasaan dakwaan.
Angus King, anggota Komisi Intelijen Senat AS, menyatakan ada indikasi istri Mateen berkolaborasi memuluskan rencana jahat suaminya.
"Tampaknya (Salman) tahu cukup banyak apa yang sedang terjadi," kata King.
Jaksa mengatakan pelaku melakukan sambungan telepon dengan sang istri saat berada di dalam kelab di tengah penembakan massal.
Sampai sekarang Salman belum ditahan pihak berwajib. Dia baru sebatas diinterogasi.
Dari penyelidikan terbaru, rupanya Mateen tak pernah resmi berbaiat pada ISIS seperti laporan awal. Dia kemungkinan teradikalisasi lewat bacaan di Internet.
Mateen, menurut Presiden Barack Obama, adalah seorang yang mengidap problem kejiwaan alih-alih teradikalisasi. Indikasinya, dia justru punya kecenderungan menjadi penyuka sesama jenis. Saksi mata mengaku pernah melihat Mateen datang beberapa kali ke Pulse jauh sebelum serangan terjadi.