Pelantikan Htin Kyaw sebagai presiden berlangsung lancar hari ini, Rabu (30/3), di Gedung Parlemen, Ibu Kota Naypyidaw, Myanmar. Kyaw, sosok intelektual pro-demokrasi veteran, menjadi pemimpin sipil pertama sukses menjadi penguasa negara yang lebih dari setengah abad dikangkangi junta militer itu.
Kyaw (69) adalah tangan kanan Aung San Suu Kyi, Ketua Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Beleid dari junta militer melarang Suu Kyi menjadi presiden, dengan alasan suami serta anak kandung Suu Kyi warga negara asing.
Kendati begitu, Kyaw tetaplah orang kepercayaan Suu Kyi. Dia membiarkan politikus perempuan itu memegang kendali pemerintahan lebih besar. Seperti sudah diramalkan, Suu Kyi memperoleh peran tak sedikit dalam pemerintahan NLD yang kini menguasai Myanmar.
Peraih Nobel Perdamaian itu resmi ditunjuk mengisi empat pos penting di kabinet. Yakni Menteri Luar Negeri, Menteri Pendidikan, Menteri Kelistrikan dan Energi, serta Kepala Kantor Staf Kepresidenan, seperti dilansir oleh Kantor berita Xinhua.
Penunjukan Suu Kyi untuk empat pos menteri itu diumumkan oleh Juru Bicara Parlemen Mann Win Khaing Than di sela-sela upacara sumpah jabatan presiden. Isu bahwa politikus 70 tahun ini bakal menjabat sebagai Menlu bagi kabinet Presiden Kyaw, beredar sejak sepekan lalu.
Sebelum mengikuti pemilu parlemen pada November 2015, Suu Kyi pernah menggelar jumpa pers yang mengindikasikan dirinya siap memerintah, apapun posisinya. "Saya akan berada di atas presiden. Ini sebuah pesan yang sangat sederhana."
Anggota parlemen Myanmar dari NLD, Than Aung Soe,menyatakan dipilihnya Suu Kyi menjadi menlu, serta mengisi tiga posisi menteri lainnya, adalah kompromi terbaik dengan tentara. Militer Myanmar masih belum rela jika Suu Kyi langsung menjadi penguasa mutlak di negara itu.
"Saya kira dengan Aung San Suu Kyi menjabat dalam pemerintahan, pemerintah dapat bekerja lebih baik untuk membangun negeri ini," ujarnya.
Pada pemilihan presiden di parlemen 15 Maret lalu, Kyaw meraih 360 suara anggota parlemen, dari total 652 yang diperebutkan untuk pemilihan presiden. Majelis rendah maupun tinggi parlemen Myanmar semua menyumbangkan suaranya. Selain Kyaw, ada sosok Henry Van Thio berlatar sipil yang juga tokoh NLD, serta Myint Swe, seorang pensiunan jenderal yang diajukan fraksi utusan khusus militer.
Dalam pidatonya setelah dilantik, Kyaw mengajak militer bekerja sama, serta memberikan janji pada rakyat Myanmar untuk mengubah keadaan.
"Pemerintahan baru kami ini meletakkan rekonsiliasi nasional sebagai dasar agar tercipta kedamaian di negara kita. Kami juga berjanji menghasilkan konstitusi yang memperkuat demokrasi serta meningkatkan taraf hidup masyarakat," ujarnya.