Perkenalkan Raymond Sapoen, capres Suriname berdarah Banyumas

Dia mewakili Koalisi Pertjaja Luhur, partai didukung etnis Jawa Suriname.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Perkenalkan Raymond Sapoen, capres Suriname berdarah Banyumas
Capres Suriname Raymond Sapoen. ©2015 Merdeka.com/gov.sr

Raymond Sapoen namanya. Pria 48 tahun ini adalah kandidat presiden Suriname yang akan bertarung dalam pemilu Mei mendatang seperti dilansir oleh de surinaamse krant.

Dari gurat-gurat wajahnya, masih sangat jelas ciri khas etnis Jawa. Tak heran, sebab dia generasi kedua imigran asal Jawa yang awal abad 20 dikirim Kolonial Belanda menggarap perkebunan di Suriname.

Sapoen dan lima calon lain, akan melawan presiden petahana Desi Bouterse yang menguasai mayoritas parlemen. Dalam sambutan di hadapan konstituen, pria diduga memiliki leluhur asal Banyumas, Jawa Tengah, ini mengaku tidak takut bersaing.

"Apa anda semua siap untuk mengambil alih kekuasaan pada 26 Mei mendatang?" tutur Sapoen.

"Saya merasa terhormat mendapat kepercayaan ini. Kita mungkin pernah kalah di masa lalu, tapi kita terbukti bisa bersatu sampai sekarang," imbuhnya.

Sapoen terhitung politikus kawakan di negara wilayah pantai utara Amerika Selatan ini. Dia mengawali karir sebagai pengacara, lantas bergabung sebentar ke Partai Demokrasi Nasional (NDP).

Tak berapa lama, politikus Paul Somohardjo mengajaknya bergabung ke Partai Pendawa Lima, yang banyak mengincar suara pemilih Jawa. Belakangan Sapoen menjadi petinggi koalisi partai Jawa Pertjaja Luhur.

Berkat kendaraan politik tersebut, Sapoen masuk ke pemerintahan Presiden Jules Wijdenbosch. Diawali sebagai penasehat hukum Departemen Perecanaan Pembangunan Suriname pada 1996, disusul menjadi Wakil Menteri Pendidikan tiga tahun berikutnya.

Di Departemen Pendidikan karirnya menanjak. Sampai akhirnya

pada 2010 dia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan saat koalisi besar yang diikuti Pertjaja Luhur menguasai parlemen. Walau Presiden Bouterse pecah kongsi dengan Pertjaja Luhur, Sapoen masih dipercaya di kabinet. Sejak 2012, dia adalah Menteri Perdagangan dan Perindustrian di Suriname.

Selain memperebutkan dukungan etnis Jawa yang banyak tinggal di Distrik Nickerie, Saramacca, Wanica, atau Commewijne, Sapoen juga mengandalkan dukungan etnis minoritas di Suriname lainnya. Semisal peranakan China atau warga kreol.

Adapun dari penelusuran situs Kluban.net (30/1) melalui arsip pengiriman tenaga kerja Jawa ke Suriname, kemungkinan besar kakek buyut Sapoen berasal dari Desa Kanding Banyumas. Sang kakek berangkat mengadu nasib ribuan kilometer jauhnya sebagai buruh perkebunan pada 1928.

Sekadar informasi, lebih dari 30 ribu penduduk Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dikirim ke Suriname. Kontinen pertama pekerja kontrak berangkat pada 1890. Tak sedikit dari orang-orang itu adalah korban perdagangan manusia atau biasa disebut werk. Ada juga yang diming-imingi gaji tinggi, tapi ternyata mereka nyaris diperbudak sesampainya di Suriname.

Saat ini, kurang lebih penduduk Suriname yang berdarah Jawa mencapai 500 ribu jiwa. Cukup banyak dari mereka aktif dalam politik atau menjadi sosok penting dalam perekonomian. Paul Somohardjo, mentor politik Sapoen, adalah satu-satunya warga etnis Jawa yang pernah mencapai posisi politik paling tinggi yakni Ketua Parlemen.

Rekomendasi