Pembelot Korea Utara ingin pulang

Meski Kim Hyung-deok sudah terbilang sukses di Korea Selatan, namun keluarga dan saudaranya masih berada di Korea Utara.

Vincent Asido Panggabean
Pembelot Korea Utara ingin pulang
tentara perempuan di sebuah kamp di Korea Utara. ©daily mail

Dalam dua dekade ribuan warga Korea Utara telah melarikan diri dari negara mereka dan mencari perlindungan di Korea Selatan. Namun, beberapa dari mereka sekarang memutuskan untuk kembali.

Kim Hyung-deok bertemu dengan istrinya di sebuah universitas ternama di Korea Selatan dan memiliki dua anak serta karir yang sukses. Dia memiliki sebuah rumah di pedesaan di luar Ibu Kota Seoul, seperti dilansir situs bbc.co.uk, Rabu (5/3).

Hyung-deok dilahirkan di Korea Utara, namun sekitar 20 tahun lalu dia melarikan diri ke Korea Selatan. Dia adalah satu dari sekitar 25.000 warga Korea Utara yang melakukan pelarian dalam dua dekade terakhir.

Meski itu menjadi perjalanan panjang dan berbahaya, tetapi setelah tiba di Korea Selatan para pembelot ini dijamin kewarganegaraannya. Namun, sejumlah kecil warga, di antaranya Hyung-deok, bermaksud pulang ke tanah air mereka yang represif.

"Ini mungkin terlihat seolah-olah saya sudah berhasil di Korea Selatan," kata Hyung-deok. "Tetapi saya belum benar-benar berhasil, karena orang tua saya dan saudara kandung saya masih berada di Korea Utara, dan saya belum mampu melihat mereka." 

"Ini adalah hal alami bagi saya untuk mencoba menemukan cara mengunjungi Korea Utara, secara terbuka dan legal," ujar dia. Beberapa tahun lalu, Hyung-deok pergi ke Kedutaan Besar Korea Utara di China dan mengatakan dia ingin kembali untuk 'liburan'.

"Saat itu, hubungan antara dua Korea cukup baik, dan warga Korea Selatan diperbolehkan mengunjungi Korea Utara," ucap dia. "Namun tak seorang pun benar-benar datang dari Korea Utara yang mencoba untuk melakukan itu, saya adalah yang pertama melakukannya. Ketika mereka tahu saya adalah seorang pembelot, mereka sangat marah."

Hyung-deok mengatakan bahwa dia berencana melakukan upaya lain untuk memasuki Korea Utara tahun depan.

Ini ilegal bagi warga korea selatan, termasuk para pembelot, untuk punya kontak langsung dengan Korea Utara, yang tidak ada telepon, surat elektronik, bakan surat. 

Para pembelot di Korea Selatan dengan keluarga masih bertahan di Korea Utara sering mendorong akan adanya hubungan hangat di antara kedua pemerintahan, dengan harapan mereka bisa saling melihat lagi. 

Karena patroli ketat di area perbatasan antara dua Korea, kebanyakan pembelot dari Korea Utara melarikan diri dengan cara menyeberangi sungai perbatasan dengan China. 

Hal ini juga membuat Kim Gwang-ho tiba di Korea Selatan 18 bulan lalu, tapi kembali lagi ke Korea Utara. 

Gwang-ho telah meninggalkan Korea Selatan setelah mendapat masalah keuangan. Awalnya dia berencana untuk berenang menyeberangi sungai, tapi dia memiliki istri dan anak bersama dia dan memutuskan tidak jadi sebab arus sungai terlalu kuat.

Jadi dia kemudian mengunjungi konsulat Korea Utara. Butuh waktu sepekan untuk membujuk mereka bahwa dia serius kembali.

Gwang-ho dan keluarganya kemudian dibawa ke Ibu Kota Pyongyang dan diarak di depan sebuah konferensi pers yang diadakan oleh rezim. Dia mengatakan orang-orang yang melarikan diri ke Korea Selatan adalah 'korban pegiat hak asasi manusia, berkomplot menentang Korea Utara'.

Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa 13 pembelot telah kembali ke Korea Utara sejak mereka mulai tiba di Korea Selatan 20 tahun lalu. Tapi pegiat mengatakan lebih banyak pembelot kembali secara tidak resmi.

Rekomendasi