Pemerintah Thailand dan kelompok pemberontak muslim mengumumkan akan berhenti melakukan serangan satu sama lainnya selama bulan suci Ramadan.
Situs bbc.co.uk melaporkan, Jumat (12/7), kesepakatan ini merupakan langkah besar yang dilakukan sejak Februari lalu, ketika kedua pihak menandatangani perjanjian damai untuk pertama kalinya.
Malaysia turut memfasilitasi negosiasi di antara keduanya. Namun, dikatakan bahwa kemajuan dari hasil kesepakatan itu lambat.
Mediator Ahmad Zamzamin Hashim mengatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepemahaman bersama agar di bulan Ramadan bisa terbebas dari aksi kekerasan.
Di bawah kesepakatan 'Inisiatif Damai Ramadhan', pasukan keamanan Thailand akan menahan diri dari tindakan agresif. Sementara kelompok pemberontak, termasuk Barisan Revolusi Nasional (BRN) tidak boleh terlibat dalam serangan bersenjata, pengeboman, dan penyergapan terhadap tentara Thailand.
"Ini merupakan batu loncatan dari apa yang ingin kita capai di masa depan. Jika tidak ada insiden, kita dapat melihat cahaya di ujung terowongan. Ini akan menjadi sebuah contoh, sebuah batu loncatan," kata Hashim.
Dia mengatakan kesepakatan itu akan berlangsung selama 40 hari, yang dimulai dari 10 Juli sampai 18 Agustus, dan akan berlaku efektif di beberapa provinsi di selatan Negeri Gajah Putih itu, termasuk Yala, Pattani, Narathiwat dan Songkhla.
Konflik di antara kedua pihak telah menewaskan lebih dari 5.000 orang dalam satu dekade terakhir.