Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ratusan orang hadiri pemakaman jurnalis Palestina yang ditembak di Gaza

Ratusan orang hadiri pemakaman jurnalis Palestina yang ditembak di Gaza Ratusan orang mengantar kepergian jurnalis video Palestina yang ditembak mati militer Israel ke pema. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Ratusan kolega dan teman-teman telah menghadiri pemakaman seorang jurnalis video Palestina, untuk menghormati Yasser Murtaja pemuda berusia 31 tahun, yang terbunuh oleh pasukan Israel saat meliput aksi protes Jumat lalu, di perbatasan Gaza.

Murtaja ditembak meskipun mengenakan jaket antipeluru dan pengenal pers resmi. Saat itu ia sedang merekam kepulan asap hitam tebal dari pembakaran ban yang dibakar oleh pengunjuk rasa di Khuzaa, timur Khan Yunis. Dia adalah salah satu dari sedikitnya sembilan orang Palestina yang tewas oleh tembakan Israel di berbagai titik di sepanjang perbatasan pada siang hari.

Kematian Jumat lalu itu menambah jumlah korban tewas menjadi 31 orang Palestina tewas selama sepekan. Sejak pecahnya peristiwa unjuk rasa yang dilakukan warga Palestina pada peringatan Land Day Jumat pekan lalu.

Militer Israel, yang bersikeras bahwa mereka menargetkan penghasut dalam aksi pembakaran ban tersebut. Soal serangan itu pihaknya sedang menyelidiki kematian Murtaja. Israel menambahkan bahwa pasukannya beroperasi sesuai dengan aturan yang jelas dan tidak sengaja menembak seorang jurnalis.

Berbalut bendera Palestina, jenazah Murtaja dibawa dari masjid utama al-Omari di Kota Gaza ke pemakaman. Setelah upacara pemakaman, jurnalis foto freelance Shadi al-Assar, menggambarkan peristiwa yang menimpa teman seprofesinya itu. Mereka berdiri bersama sekitar 100 meter dari pagar perbatasan hingga kemudian Murtaja memutuskan untuk pergi ke dalam kepulan asap untuk mendapatkan gambar yang lebih baik.

"Tak lama kemudian saya melihat beberapa pria muda membawanya dengan tandu. Saya ingin mengambil gambar itu dan kemudian saya menyadari itu Yasser, teman saya. Saya pikir itu adalah cedera ringan," kata Assar, seperti dikutip dari Guardian, Minggu (8/4).

Assar dan yang lainnya kemudian berinisiatif melepas jaket yang dikenakan Murtaja, dan menemukan luka kecil di sisi kirinya. Tetapi Murtaja yang dibawa dengan ambulans ke rumah sakit Nasser di Khan Yunis, meninggal pada Sabtu dini hari.

Sosok yang dicintai semua orang

Assar menggambarkan bahwa temannya merupakan sosok yang baik, "Dia orang baik, selalu tersenyum dan dicintai oleh semua orang. Dia sangat ambisius, selalu mencari kesempatan yang lebih baik. Seperti banyak warga Gaza di saat ini, Murtaja tidak pernah keluar dari Jalur Gaza," ujar pria berusia 35 tahun terebut.

Murtaja merupakan salah satu wartawan pertama yang menggunakan drone kamera di Gaza. Dia mendirikan Ain Media, sebuah perusahaan produksi TV yang telah bekerja untuk media asing termasuk BBC dan Al Jazeera berbahasa Inggris. Di bawah gambar drone dari pelabuhan Gaza yang dia posting di Facebook, dia menulis "Saya berharap saya bisa mengambil foto ini dari langit, bukan dari daratan. Nama saya Yasser Murtaja, saya berumur 30 tahun. Saya tinggal di Kota Gaza. Saya tidak pernah bepergian".

Meskipun Murtaja diketahui tidak berafiliasi dengan semua faksi politik manapun, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menghadiri pemakamannya. Dia mengatakan protes mingguan ini digambarkan sebagai 'Return March' sebagai pertempuran kebenaran dan kesadaran.

Jumlah korban tewas meningkat ketika warga Palestina protes di perbatasan Gaza. Terakhir termasuk 19 warga Palestina yang tewas dalam demonstrasi massa sebelumnya pada Maret atau meninggal setelah luka-luka mereka, bersama dengan dua militan bersenjata yang ditembak mati oleh pasukan Israel dalam insiden perbatasan terpisah.

Hamas telah mengakui bahwa lima dari mereka yang tewas pada 30 Maret adalah anggota sayap militernya, sementara Israel mengatakan bahwa 10 dari 19 orang yang tewas diidentifikasi sebagai Hamas atau faksi lainnya.

Protes diperkirakan akan berlanjut hingga bulan depan dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Mei, ketika orang Palestina memperingati 70 tahun nakba, atau bencana, ketika lebih dari 700.000 orang diusir atau meninggalkan rumah mereka di tempat yang sekarang menjadi bagian Israel selama perang tahun 1948.

(mdk/frh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP