Pertama Kalinya, Warga Australia Boleh Tanam dan Pakai Ganja

Kamis, 26 September 2019 17:11 Reporter : Merdeka
Pertama Kalinya, Warga Australia Boleh Tanam dan Pakai Ganja Ilustrasi daun ganja. ©shutterstock.com/Ronen

Merdeka.com - Australia untuk pertama kalinya melegalkan kepemilikan dan penanaman ganja. Aturan ini baru akan berlaku di Ibu Kota Canberra pada awal Januari mendatang.

Pemberlakuan aturan ini bertentangan dengan undang-undang federal di Australia, di mana penggunaan ganja dapat dijerat hukuman penjara. Menurut Anggota Parlemen Michael Pettersson, dengan mengizinkan kepemilikan ganja justru akan mengurangi bahaya narkoba di tengah masyarakat.

"(Aturan) ini akan berguna untuk mengurangi bahaya narkoba di masyarakat kami dengan mengurangi stigma penggunaan narkoba dan mendorong orang untuk mencari bantuan tanpa takut ditangkap," jelasnya, seperti dikutip The New York Times, Kamis (26/9).

Dengan aturan baru ini, penduduk Canberra di atas 18 tahun dapat memiliki 50 gram ganja kering dan menanam dua pohon per orang, atau empat pohon per keluarga. Sementara, menyediakan ganja untuk orang lain tetap ilegal.

Pengguna, tidak diperbolehkan mengisap rokok ganja di dekat anak di bawah umur. Tempat penyimpanan ganja juga harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Pengguna ganja dapat menambah batas kepemilikannya hingga 150 gram, atau lima ons untuk ganja segar. Sejumlah poin aturan ini merupakan hasil amandemen dari peraturan kepemilikan ganja yang berlaku sebelumnya.

Ganja adalah tanaman dengan kandungan zat adiktif yang dilarang di Australia. Berdasarkan survei pemerintah tahun 2016, sekitar sepertiga warga Australia di atas 14 tahun mengatakan mereka telah mengonsumsi ganja. Di mana, 10 persen dari mereka mengatakan baru mulai memakai ganja dalam setahun ke belakang.

Sejak 2016, pemerintah Australia hanya memperbolehkan penggunaan ganja untuk keperluan medis. Namun, kepemilikan dan pemakaian pribadi dilarang.

Pelegalan ganja telah lama diperdebatkan selama berbulan-bulan. Faktor kesehatan, menjadi salah satu yang menjadi pertimbangan dalam melegalkan ganja.

1 dari 2 halaman

Menuai Polemik

Sebelum legalisasi ganja diresmikan, petugas kepolisian sempat memberi kelonggaran bagi kepemilikan ganja dalam jumlah kecil. Para pelanggar tidak langsung ditangkap, melainkan ditawarkan denda sebagai hukuman pengganti.

Di kota lain, penggunaan ganja masih ilegal. Namun orang yang baru pertama kali memakai ganja, biasanya akan diberikan peringatan terlebih dahulu.

Berdasarkan hukum federal, kepemilikan ganja dapat dijerat hukuman dua tahun penjara. Jaksa Agung Gordon Ramsay mengatakan, kebijakan daerah itu tidak menghilangkan kemungkinan ditangkapnya warga Canberra menurut hukum federal.

Penetapan aturan baru kepemilikan ganja ini menuai polemik dari masyarakat. Penentang RUU ganja di Ibu Kota Canberra mengatakan, aturan ini akan meningkatkan konsumsi ganja di tengah masyarakat.

Beberapa peneliti menyatakan, konsumsi ganja dapat meningkatkan risiko psikologis. Dengan melegalkan kepemilikan ganja, dikhawatirkan pula akan lebih banyak kasus pengemudi yang mabuk akibat pengaruh ganja.

"Sebagian besar (menimbulkan) dampak yang merugikan," kata Jaksa Agung Partai Liberal Jeremy Hanson.

2 dari 2 halaman

Risiko Terhadap Kesehatan Rendah

Asosiasi Medis Australia mengatakan, penggunaan marijuana dapat menyebabkan masalah kesehatan kronis. Meski demikian tingkat risiko terhadap masalah kesehatan dikatakan rendah.

Polisi Canberra mengatakan akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan badan lain untuk melaksanakan undang-undang baru. Termasuk pula mencari cara untuk menyelaraskan aturan tersebut dengan hukum federal.

Di Amerika Serikat, lebih dari 10 negara bagian telah melegalkan penggunaan ganja untuk keperluan pribadi. Meskipun, dalam hukum federal pemakaian ganja tetap dilarang.

Jeremy Hanson berpendapat, hukum federal yang hingga saat ini masih berlaku di seluruh Australia merupakan yang paling efektif, dibandingkan aturan kepemilikan ganja yang baru.

"Hukum saat ini sudah bekerja efektif," tandas Hanson dengan sikap konservatifnya.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

Baca juga:
Mengunjungi Museum Ganja di Amerika
Kemenkes: Belum Ada Penelitian Ganja Bisa untuk Pengobatan dan Medis
Kota New York akan Legalkan Penggunaan Ganja
Mengembalikan Ganja Bob Marley yang Hilang Puluhan Tahun Lalu
BNN Tegaskan Indonesia Tak Mungkin Legalkan Ganja untuk Medis
Mengunjungi Festival Ganja di Thailand

[pan]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini