Persaudaran Ukraina-Rusia yang Dulu Hangat di Mariupol, Kini Lebur Dihantam Perang
Merdeka.com - Marina Levinchuk mengatakan dia menerima SMS peringatan dari pemerintah lokal di kota Mariupol yang terkepung beberapa hari lalu, sebelum dia memutuskan melarikan diri.
"Jika seseorang mati dalam keluargamu," ujarnya, mengingat SMS yang dikirimkan padanya, "taruh saja jasadnya di luar, tutup, ikat tangan dan kakinya dan tinggalkan di luar."
"Itu yang terjadi di Mariupol sekarang," lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Kamis (10/3).
Mariupol saat ini dikepung pasukan Rusia dengan bom, rudal, dan artileri, dan menghantam sebuah rumah sakit bersalin pada Rabu.
"Ada jasad yang tergeletak di jalan-jalan," ujarnya.
"Tidak ada air, tidak ada pemanas, tidak ada gas," lanjutnya melalui panggilan video WhatsApp pada Rabu.
"Dan mereka mengumpulkan, mencairkan, dan merebus salju."
Sebuah video yang diunggah di Facebook pada Rabu malam menampilkan pusat kota Mariupol setelah digempur dari udara. Kota itu terlihat seperti tanah kosong, batang-batang pohon hangus terbakar, jendela blok seluruh apartemen pecah, dan rumah sakit bersalin yang hancur.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengutuk serangan terhadap rumah sakit itu, menyebut kekuatan dunia gagal menghentikan pembunuhan dan kembali menyerukan agar NATO menerapkan zona larangan terbang di atas Ukraina.
"Mariupol. Serangan Langsung pasukan Rusia di rumah sakit bersalin," tulisnya di Twitter pada Rabu sore.
"Orang-orang, anak-anak di bawah reruntuhan. Kejam! Berapa lama lagi dunia mengabaikan teror? Tutup wilayah udara sekarang juga! Kalian punya kekuatan tapi kalian tampak kehilangan kemanusiaan."
Sebanyak 17 orang terluka dalam serangan rumah sakit itu, termasuk staf dan pasien bangsal bersalin. Demikian disampaikan gubernur regional, Pavlo Kyrylenko kepada stasiun televisi Ukraina.
Siapkan kuburan massal
Pertempuran di sekitar kota itu salah satu yang paling intens, kata para penduduk yang berusaha melarikan diri.
"Ada gempuran sepanjang waktu. Ada pengeboman," kata jurnalis dari Mariupol, Juliia Diderko (33).
"Jika siapapun bisa membantu, tolong lakukan ini," lanjutnya.
"Tolong bantu sekarang juga. Karena orang-orang meregang nyawa."
Penduduk Mariupol melakukan apapun yang mereka bisa untuk bertahan hidup. Pohon-pohon ditebang dan makanan disiapkan di luar, karena tidak ada listrik maupun gas.
"Semua tetangga, mereka saling membantu satu sama lain, berbagi makanan dan air jika mereka memilikinya," kata Levinchuk (28).
"Dan orang-orang berusaha bertahan hidup seperti ini."
Mariupol sejak lama dinilai sebagai titik panas konflik, karena merupakan koridor darat strategis antara daerah yang memisahkan diri di Ukraina timur yang didukung Rusia dan Krimea, yang dicaplok Rusia pada 2014. Mengendalikan kota ini tidak hanya memudahkan Rusia mengirim pasokan dan pasukannya lebih jauh ke wilayah Barat, tapi juga memutus jalur pelayaran Ukraina dari Laut Azov dan Laut Hitam.
Wali Kota Mariupol, Vadym Boichenko menolak menyerah. Dia juga mengeluhkan kesulitan menghitung korban tewas karena gempuran tak pernah berhenti.
Pemerintah lokal berencana menggali kuburan massal untuk semua jasad, termasuk bocah perempuan enam tahun bernama Tanya yang meninggal karena dehidrasi pada Selasa setelah ibunya terbunuh.
"Pertama kali dalam puluhan tahun, tampaknya, sejak invasi Nazi seorang anak mati karena dehidrasi di Mariupol," kata Zelenskiy.
Ledakan terus menghantam kota itu, menciptakan "situasi yang sangat, sangat buruk" bagi warga lansia dan disabilitas, kata anggota Doctors Without Borders di Mariupol dalam sebuah pesan audio yang tersedia untuk The New York Times.
"Mereka bahkan tidak bisa menemukan makanan, dan mereka tidak bisa menyalakan api untuk memasak makanan mereka."
Kondisi ini juga sangat buruk bagi para orang tua dan anak-anak mereka yang sangat membutuhkan perlengkapan higienitas dan lainnya.
Mayor Denis Prokopenko, bersama batalion Azov yang mempertahankan kota itu, meminta bantuan komunitas internasional.
"Orang-orang tak berdosa di kota Mariupol hampir kelaparan, ini terjadi sekarang, terjadi di Eropa modern," jelasnya dalam sebuah video yang diunggah di Facebook. Ledakan dapat terdengar dalam video itu.
"Upaya untuk membentuk koridor aman untuk evakuasi Mariupol gagal karena beberapa tindakan musuh," lanjutnya, menambahkan pasukan Rusia menggempur lokasi di mana warga sipil berkumpul untuk menunggu bus yang akan membawa mereka keluar dari kota itu.
"Jika zona larangan terbang tidak diterapkan di Ukraina secepatnya, kami tidak akan bisa mengelola pasokan air dan makanan, obat-obatan, juga mengevakuasi warga dengan aman," lanjutnya.
Persaudaraan yang lebur
Mariupol hanya sekitar 56 kilometer dari perbatasan Rusia, dan penduduknya sering bepergian ke negara itu. Pada 2014, orang-orang di Mariupol menyaksikan unjuk rasa Maidan yang melengserkan presiden pro Moskow.
"Kami tidak ingin ke Eropa karena kami merasa seperti kami menjadi bagian Rusia, kami sangat dekat," kata Levinchuk.
"Seperti saudara," lanjutnya.
Tapi rasa itu kemudian berubah ketika perang pecah pada 2014 antara separatis yang didukung Rusia dan Kiev. Pasukan separatis menguasai Mariupol selama sebulan selama konflik tersebut, sebelum direbut kembali pemerintah Ukraina. Pengalaman itu dan melihat apa yang terjadi di dekat kantong-kantong separatis terdekat dan di Rusia pada tahun-tahun berikutnya membuat penduduk kota melawan Moskow, kata Levinchuk.
"Dalam delapan tahun ini, segalanya berubah karena sekarang, tidak ada orang yang ingin pergi ke Rusia," katanya.
"Kami merasa kami seperti orang Ukraina."
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya