PBB: Kekerasan Seksual Jadi Senjata Perang di Tigray

Jumat, 16 April 2021 18:44 Reporter : Pandasurya Wijaya
PBB: Kekerasan Seksual Jadi Senjata Perang di Tigray korban konflik di tigray ethiopia. ©Eduardo Soteras/AFP

Merdeka.com - Kekerasan seksual digunakan sebagai senjata perang di Tigray Ethiopia, kepala bantuan PBB mengatakan kepada Dewan Keamanan pada Kamis (15/4), mendorong utusan AS untuk menantang diamnya badan tersebut, dengan bertanya: "Apakah kepedulian orang Afrika tak sebesar mereka yang mengalami konflik di negara lain? "

Pejabat PBB itu, Mark Lowcock, mengatakan krisis kemanusiaan di Tigray telah memburuk selama sebulan terakhir dengan tantangan untuk membantu akses dan orang-orang yang sekarat karena kelaparan. Dia mengatakan badan dunia itu belum melihat bukti bahwa tentara dari negara tetangga Eritrea - yang dituduh melakukan pembantaian dan pembunuhan di Tigray - telah ditarik.

"Sangatlah jelas: konflik belum berakhir dan keadaan tidak membaik," kata Lowcock, menurut catatannya untuk pengarahan pribadi, yang diminta oleh Amerika Serikat, seperti dilansir laman Antara mengutip Reuters, Jumat (16/4).

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Linda Thomas-Greenfield mencatat bahwa pengarahan Kamis adalah pertemuan dewan nonkenegaraan kelima sejak pertempuran antara pasukan pemerintah federal Ethiopia dan bekas partai yang berkuasa di Tigray dimulai pada November, menurut para diplomat yang mengetahui pernyataannya.

"Dewan Keamanan telah bersatu di Suriah, Yaman dan bahkan di Burma, di mana kami dapat bersatu untuk mengeluarkan pernyataan," katanya, menurut para diplomat. "Kami meminta dewan untuk mempertimbangkan kembali pernyataan tentang Ethiopia. ... Para korban perlu tahu bahwa Dewan Keamanan peduli dengan konflik ini."

Dewan sejauh ini tidak dapat menyetujui pernyataan publik tentang Tigray, dengan negara-negara Barat diadu melawan Rusia dan China, yang menurut para diplomat mempertanyakan apakah badan tersebut - yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan internasional - harus terlibat dalam krisis.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memaksa ratusan ribu lainnya mengungsi dari rumah mereka di wilayah pegunungan yang berpenduduk sekitar 5 juta itu. Eritrea telah membantu pasukan Ethiopia, meskipun Eritrea berulang kali membantah pasukannya berada di Tigray.

Baca Selanjutnya: Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini