Konsultan mata-mata Israel akui bantu redam kabar skandal Harvey Weinstein

Jumat, 10 November 2017 21:49 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Konsultan mata-mata Israel akui bantu redam kabar skandal Harvey Weinstein Harvey Weinstein. © Getty Images

Merdeka.com - Perusahaan jasa konsultan intelijen asal Israel, Black Cube, akhirnya mengakui mereka terlibat buat meredam kabar skandal pelecehan seksual dilakukan produser film asal Amerika Serikat, Harvey Weinstein. Mereka menyatakan meminta maaf atas peran mereka di dalam perkara itu.

Dilansir dari laman Associated Press, Jumat (10/11), permintaan maaf itu disampaikan oleh salah satu anggota Dewan Penasihat Black Cube, Asher Tishler. Dia mengakui kekeliruan karena dianggap membantu menutupi kebenaran soal pengakuan sejumlah perempuan dirudapaksa oleh Harvey.

"Kami meminta maaf kepada pihak-pihak yang tersakiti karena hal ini. Tentu para perempuan itu tersakiti. Kami malu telah melakukan pekerjaan ini," kata Tishler.

Sebagai gantinya, Tishler mengatakan Black Cube bakal menyumbangkan keuntungan dari proyek membantu Harvey kepada para perempuan yang mengaku menjadi korban pemerkosaan.

Menurut laporan di dalam majalah The New Yorker, Harvey dikabarkan menyewa jasa dua perusahaan 'konsultan' berkecimpung di jasa intelijen partikelir. Yakni Black Cube dan Kroll.

Black Cube didirikan oleh mantan jenderal militer Israel, ilmuwan, dan bekas agen intelijen elit negara Zionis itu, Mossad. Mereka memiliki tiga kantor, yakni di Ibu Kota Tel Aviv, Ibu Kota London-Inggris, dan Ibu Kota Paris-Prancis. Sedangkan Kroll bermarkas di Kota New York, Amerika Serikat.

Kedua perusahaan itu meredam pemberitaan dengan menggelar operasi pengumpulan informasi dari sejumlah jurnalis, dan mengerahkan mantan mata-mata buat mengorek keterangan dari orang-orang mengaku sebagai korban pelecehan seksual Harvey. Mereka juga menggunakan beragam cara buat menghentikan para korban, bila perlu dengan ancaman, tampil ke khalayak.

Kabarnya, dua telik sandi Black Cube menemui aktris Rose McGowan dengan mengaku sebagai advokat dan pegiat hak asasi manusia buat mengorek keterangan. Mereka merekam empat pertemuan dengan aktris itu. Hal itu dilakukan sebelum Rose buka suara dan mengaku kalau dia pernah diperkosa oleh Harvey.

Mata-mata dari kedua perusahaan itu juga berusaha menemui sejumlah pewarta dengan identitas palsu. Tujuannya buat menelaah perempuan mana saja yang bakal muncul dan mengaku kalau mereka pernah dirudapaksa oleh Harvey. Malah, mereka juga mengelabui sejumlah jurnalis buat menggali informasi serinci mungkin tentang perbuatan Harvey terhadap para korbannya.

Harvey juga mempekerjakan sejumlah mantan pegawainya buat mengumpulkan nama-nama korban dan mengontaknya satu-persatu menawarkan jalan damai. Dengan begitu, Harvey dan mata-mata partikelirnya bakal membikin profil kejiwaan dan perilaku seksualnya setiap perempuan mengaku menjadi korbannya, yang nantinya diolah buat membangun argumen dan menyerang balik.

Para intelijen partikelir itu tidak bekerja secara mandiri. Mereka juga harus melaporkan seluruh temuan ke kuasa hukum Harvey. Salah satunya adalah David Boeis. Boeis dikabarkan meneken perjanjian dengan Black Cube supaya mereka mencari informasi pembanding dan membendung pemberitaan soal Harvey di surat kabar New York Times. Padahal, Boeis juga disewa oleh New York Times menjadi kuasa hukum dalam dugaan pemberitaan fitnah lain.

Meski demikian, juru bicara Harvey, Sallie Hofmeister, menyangkal seluruh laporan itu. "Itu cuma cerita karangan saja, yang bilang kalau kami menekan orang-orang tertentu," kata Sally. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini