Kisah sedih pembelot Korut mencoba bertahan di bawah diskriminasi
Merdeka.com - Pemutaran film dokumenter "Under the Sun" membawa kenangan tersendiri bagi Cho Chung-hui. Dia merupakan seorang pembelot Korea Utara yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Korut.
"Saya hidup dan besar di Korea Utara dan baru terbebas dari negara itu pada 2011 silam," kata Cho saat ditemui usai pemutaran film pada diskusi di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, Senin (28/11).
Menurut Cho, kisah bocah 8 tahun bernama bernama Min-zi di film "Under the Sun" sangat mirip dirinya dulu.
"Saya merasakan kesedihan yang dalam saat menonton film tersebut. Kisah di dalamnya sama seperti cerita saya. Dan tokoh utama di film tersebut, Min-zi hanyalah gadis kecil 8 tahun yang dipaksa masuk ke dalam organisasi politik dan berperan seperti politisi kecil," papar Cho.
Cho yang sempat menetap lima tahun di Hiroshima, Jepang sebelum pindah kembali ke Korut pada usia lima mengaku sempat mendapatkan diskriminasi dari pemerintah. Terlebih saat pemerintah tahu dirinya punya sejarah keluarga yang tidak disukai pemerintah Korut.
"Saya punya beberapa relatif di negara yang dianggap musuh besar Korut, Korea Selatan. Jadi saya dimasukkan ke dalam kelas tidak dianggap di sana. Saya didiskriminasi. Saya bahkan tidak boleh ikut wajib militer yang sebenarnya diwajibkan di negara itu. Sebagai gantinya, saya harus melakukan pengabdian kepada masyarakat selama 10 tahun," beber Cho.
Kehidupan Min-zi dalam film tersebut menggambarkan situasi Korut dengan tepat. Bagaimana pelanggaran hak asasi manusia sering terjadi di Korut.
"Kami tidak punya kebebasan berbicara. Kami juga tidak bisa memilih sesuatu dengan bebas," ungkap Cho.
Setelah lepas dari Korut, Cho memang tidak pernah mendapatkan tekanan tertentu dari Korut. Tapi, dirinya tetap meminta kepada masyarakat di berbagai negara agar ikut memperjuangkan pelanggaran HAM yang terjadi di Korut.
(mdk/che)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya