Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keluarga mendiang jurnalis Malta dibunuh tolak uang santunan

Keluarga mendiang jurnalis Malta dibunuh tolak uang santunan Jurnalis Malta tewas dibom. ©REUTERS/Darrin Zammit Lupi

Merdeka.com - Keluarga mendiang jurnalis Malta, Daphne Caruana Galizia, yang tewas setelah dalam ledakan bom mobil menolak menerima uang santunan sebesar EUR 1 juta (sekitar Rp 16 miliar) dari negara. Mereka menuntut supaya aparat keamanan setempat membongkar siapa dalang di balik insiden itu.

Tiga anak Galizia, yaitu Andrew, Matthew, dan Paul, mendesak supaya Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat, mundur dari jabatannya. Mereka mengaku merasa dipaksa negara menerima uang santunan itu.

"Pemerintah dan kepolisian sudah gagal melindungi ibu saya ketika hidup, juga saat dia meninggal. Orang-orang yang selama ini selalu diam kami harap bisa muncul buat memberikan keadilan," tulis Matthew dalam laman Facebook-nya.

Ketiga anak mendiang Galizia menyatakan Muscat harus mundur sebagai bentuk tanggung jawab politik, lantaran dianggap gagal mempertahankan kebebasan berpendapat.

Jurnalis perempuan itu tewas dalam ledakan bom dipasang di mobilnya, tidak jauh dari rumahnya di Bidnija, Mosta, pada Senin sore lalu.

Menurut sumber di Kepolisian Malta, diduga kuat pelaku memasang bom plastik Semtex buatan Israel di mobil Galizia. Namun, sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya.

Menurut salah satu anak Galizia, Matthew Caruana Galizia, dia melihat mobil ibunya meledak dan berputar di udara, kemudian jatuh di sebuah tanah lapang. Matthew langsung berlari ke arah mobil ibunya yang masih terbakar dan klaksonnya menyalak, kemudian berusaha membuka pintunya. Dia meminta bantuan kepada dua polisi yang datang tidak lama kemudian buat memadamkan api.

"Mereka memandang saya dan mengatakan, 'tidak ada yang bisa kami lakukan'. Saya lalu melihat sekeliling, dan bagian tubuh ibu saya berserakan," kata Matthew yang mengikuti jejak sang ibu menjadi pewarta.

Matthew meyakini ibunya dibunuh karena pendiriannya teguh memerangi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Apalagi menurut dia ibunya tidak memihak kepada kelompok politik manapun. Dia menuding pejabat dan penegak hukum Malta menyuburkan budaya kebal hukum. Sebab, dugaan korupsi membelit para petinggi negara seolah mudah menguap. Apalagi lembaga keuangan Malta dikenal abai soal asal-usul uang simpanan dan menjadi surga bagi penggelap pajak dan pencucian uang. Dia berharap dengan kejadian ini membikin mata rakyat Malta terbuka dan membawa perubahan.

"Jika seluruh lembaga bekerja, maka tidak perlu ada kasus pembunuhan yang diusut. Dan saya beserta adik masih mempunyai ibu," ujar Matthew.

Galizia membikin Malta terkejut setelah tahun lalu dia menulis laporan investigasi tentang daftar orang-orang menyembunyikan kekayaan mereka melalui perusahaan fiktif di Panama, dikenal dengan Panama Papers. Isinya menyebut istri Perdana Menteri Joseph Muscat diduga memiliki perusahaan cangkang di Panama buat menampung uang dari Azerbaijan.

Muscat dan istrinya membantah memiliki perusahaan cangkang. Mereka juga menggugat Galizia karena tulisannya. Muscat juga menolak kalau negaranya dianggap sebagai surga pencucian uang dan penggelapan pajak. Namun, Muscat mengakui kalau dia menganggap Galizia adalah musuh besarnya karena hasil laporannya soal Panama Papers.

"Sistem keuangan Malta sangat terbuka dan jelas. Kami memberlakukan aturan yang sama dan disetujui oleh Komisi Uni Eropa," kata Muscat.

Bisnis gim daring dan jasa keuangan belakangan ini sedang naik daun di Malta. Hal itu justru menarik perhatian organisasi kejahatan Italia. Menurut kejaksaan Italia, mereka sudah memperingatkan Malta kalau sindikat mafia mencuci duit mereka menggunakan jasa keuangan di Malta. Bahkan, kelompok mafia Camorra beroperasi di Naples disebut sudah merambah menguasai gim daring di Italia dan sejumlah negara lain, termasuk Malta.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP