Israel tolak penyelidikan Dewan HAM PBB atas pembantaian di Gaza
Merdeka.com - Kementerian Luar Negeri Israel kemarin mengatakan menolak keputusan Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk membentuk komisi penyelidikan atas pembantaian tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang tengah berunjuk rasa di Jalur Gaza.
Seperti dikutip dari Middle East Monitor, Senin (21/5), kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina Hamas menekankan penolakan Tel Aviv untuk membentuk komisi penyelidikan internasional adalah bukti keterlibatannya dalam kejahatan perang.
Juru bicara Hamas, Abdullatif Al-Qanoua, lewat pernyataan persnya mengatakan penolakan untuk membentuk komisi penyelidikan menggarisbawahi kebrutalan dan keteguhan Israel dalam meneror dan membunuh warga Palestina, serta mencemooh PBB dan mengabaikan keputusan lembaga internasional.
Pada Jumat, Dewan PBB mengadopsi resolusi yang menyerukan pengiriman mendesak sebuah komite independen untuk "menyelidiki dugaan pelanggaran dan perlakuan buruk dalam rangka serangan militer yang diluncurkan selama protes sipil besar yang dimulai sejak 30 Maret 2018 di Gaza".
Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan posisi resmi Tel Aviv melalui sebuah pernyataan, "Israel sepenuhnya menolak keputusan Dewan HAM PBB untuk membentuk komisi penyelidikan atas serangkaian peristiwa di Gaza."
Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa keputusan Dewan HAM PBB membuktikan sekali lagi bahwa itu (Dewan HAM PBB) adalah "sebuah badan yang didominasi oleh kemunafikan dan absurditas dengan mayoritas bermusuhan dengan Israel".
Komisaris Tinggi HAM PBB mengatakan Israel menggunakan kekuatan yang "sepenuhnya tidak proporsional" terhadap protes-protes di perbatasan Palestina yang telah menyebabkan lebih dari 100 orang tewas sejak aksi berlangsung pada 30 Maret 2018.
Seperti dikutip dari BBC, Sabtu, 19 Mei 2018, dalam sebuah pertemuan di Jenewa, Zeid Raad Al Hussein mengatakan bahwa warga Gaza secara efektif "dikurung di daerah kumuh yang beracun". Dia menegaskan bahwa pendudukan Gaza oleh Israel harus diakhiri.
Sementara itu, Duta Besar Israel mengatakan kelompok militan di Jalur Gaza (Hamas) sengaja menempatkan warga dalam bahaya.
Pada Senin, 14 Mei 2018, bertepatan dengan peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem, bentrokan antara warga Palestina dan militer Israel menewaskan lebih dari 60 orang. Fakta ini menjadikan hari itu sebagai hari paling mematikan di Gaza sejak perang tahun 2014 antara Israel dan Hamas.
Reporter: Khairisa Ferida
Sumber: Liputan6.com
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya