Inggris Jadi Negara Pertama di Dunia Setujui Penggunaan Pil Covid Buatan Merck

Jumat, 5 November 2021 10:07 Reporter : Hari Ariyanti
Inggris Jadi Negara Pertama di Dunia Setujui Penggunaan Pil Covid Buatan Merck molnupiravir. ©Twitter

Merdeka.com - Pada Kamis (4/11), Inggris menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui pil anti virus untuk obat Covid-19 yang dikembangkan Merck & Co Inc dan Ridgeback Biotherapeutics.

Badan Pengawas Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA) merekomendasikan obat tersebut, molnupiravir, digunakan untuk orang yang mengalami gejala ringan dan sedang Covid-19 dan setidaknya memiliki satu faktor risiko mengalami Covid yang parah seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Mengacu pada data klinis, MHRA menyampaikan, obat tersebut akan diberikan segera setelah pasien dites positif Covid dan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala.

Lampu hijau ini pertama kali diberikan untuk obat antivirus oral untuk mengobati Covid-19 dan pertama kalinya obat Covid akan diberikan secara luas di tengah masyarakat. Para penasihat AS akan menggelar rapat pada 30 November mendatang untuk meninjau data keamanan dan kemanjuran obat tersebut dan memilih apakah molnupiravir harus diberikan izin. Demikian dikutip dari Reuters, Jumat (5/11).

Pil tersebut, yang akan diberi merek Lagevrio di Inggris, bisa dikonsumsi dua kali sehari selama lima hari.

Obat dengan tingkatan yang sama seperti molnupiravir dikatikan dengan kelahiran cacat dalam penelitian pada hewan. Merck mengatakan uji coba hewan menunjukkan molnupiravir aman, tapi datanya belum dibuka ke publik.

Molnupiravir buatan Merck ini diawasi dengan ketat sejak data bulan lalu menunjukkan obat ini bisa mengurangi setengah potensi kematian atau rawat inap bagi mereka yang berisiko mengalami Covid parah ketika diberikan pada saat awal-awal sakit atau terinfeksi.

Persetujuan molnupiravir yang cepat di Inggris dilakukan ketika negara itu sedang berjuang menaklukkan lonjakan infeksi. Inggris mencatat sekitar 40.000 kasus Covid harian, menurut rata-rata tujuh hari terakhir. Data yang dirilis pada Rabu malam menunjukkan, prevalensi Covid di Inggris mencapai rekor titik tertinggi bulan lalu, didorong oleh tingginya kasus pada anak-anak dan lonjakan di wilayah selatan sampai barat negara tersebut.

Pemerintah Inggris mengatakan pihaknya tetap fokus memberikan vaksin booster atau penguat dan memvaksinasi anak-anak berusia 12 sampai 15 tahun.

“Tanpa kompromi soal kualitas, keamanan, dan efektivitas, masyarakat bisa mempercayai bahwa MHRS telah melakukan penilaian yang kuat dan menyeluruh data (molnupiravir) tersebut,” jelas kepala MHRA, June Raine dalam sebuah pernyataan.

Bulan lalu, Inggris menyepakati perjanjian dengan Merck untuk mengamankan 480.000 paket molnupiravir.

Merck mengatakan pihaknya memperkirakan akan memproduksi 10 juta paket pil molnupiravir akhir tahun ini, dan sedikitnya 20 juta akan diproduksi pada 2022.

Merck mengatakan obat ini efektif melawan semua varian virus corona, termasuk varian Delta yang lebih menular. Merck juga memberikan izin kepada produsen obat generik untuk memenuhi pasokan obat di negara-negara berpendapatan rendah. [pan]

Baca juga:
Jerman Catat Rekor Kasus Harian Covid-19
Pria China Ditahan Sembilan Hari karena Unggah Meme Diduga Menghina Polisi
The Economist: Jumlah Kematian Covid di Seluruh Dunia Bukan 5 Juta, Tapi 16,8 Juta
Kasus Covid Melonjak, Belanda Kembali Wajibkan Pemakaian Masker & Jaga Jarak Sosial
Covid-19 Masih Tinggi, Kios Jalanan di Singapura Gulung Tikar
Warga India Padati Layanan Kereta Api yang Kembali Normal

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini