Pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (Foreign Policy Community of Indonesia/FPCI), Dino Patti Djalal belum lama ini berkunjung ke Korea Utara bersama tujuh delegasi dari negara lain. Dalam pertemuan itu, para delegasi dari Asosiasi Korea-Asia itu bertemu dengan pejabat tinggi Korea Utara dan membahas beberapa isu terbaru, khususnya konflik dengan beberapa negara seperti Korea Selatan dan Amerika.
Salah satu isu yang belakangan kerap diperbincangkan dunia internasional ialah potensi reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara menyusul rencana pertemuan Presiden Korea Selatan dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un pada Mei mendatang.
Hubungan kedua negara juga mulai mencair setelah Korea Utara mengirimkan delegasi ke olimpiade musim dingin di Pyeongchang, dan sebagai balasan kemudian delegasi Korea Selatan yang diwakili musisi K-Pop tampil di Pyongyang belum lama ini.
Mulai mencairnya hubungan dua negara satu bangsa ini dinilai menjadi salah satu pintu pembuka menuju reunifikasi. Namun menurut Dino, reunifikasi belum akan terwujud dalam waktu dekat. Menurutnya reunifikasi semacam fantasi yang agak sulit terwujud.
Kendalanya ialah rasa curiga antara kedua negara masih sangat tinggi. "Jadi tidak ada saling percaya dan juga sistem kedua negara sangat berbeda. Kalau sistem itu dileburkan terutama Korea Utara masih sangat tidak bisa menerimanya," jelasnya di Kantor FPCI, Mayapada Tower, Jakarta, Selasa (10/4).
Bahkan ada pemikiran agar dibentuk federasi. Satu bangsa tapi ada dua sistem pemerintahan.
"Jadi sekarang ini konsepnya belum ada. Political will di luar retorika sangat lemah sekali karena mereka masih sangat bermusuhan," katanya.
Tanggapan elite pemerintah Korea Utara terkait reunifikasi ini secara retorika politik selalu dibicarakan. Pasalnya mereka merasa memiliki ikatan emosional dengan warga Korea Selatan. Mereka merasa sebagai bangsa yang terpecah dua.
"Jadi itu sangat penting bagi mereka. Tapi itu jangka panjang, long term aspiration bagi mereka," kata Dino.
Kunci utama terwujudnya reunifikasi berada pada Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan. "Tapi ke depan terpenting bukan reunifikasi karena masih fantasi untuk sekarang, masih long term sekali. Tapi yang penting bisa enggak yang tadinya sangat bermusuhan, sekarang mulai bisa bicara dan meredakan ketegangan dan membangun saling percaya," ujar dia.