Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Demo Anti UU Kewarganegaraan Meluas, Polisi India Serbu Kampus dan Pukuli Mahasiswa

Demo Anti UU Kewarganegaraan Meluas, Polisi India Serbu Kampus dan Pukuli Mahasiswa Mahasiswa di Delhi, India, menolong demonstran yang terluka setelah unjuk rasa penolakan UU Amandeme. ©2019/Adnan Abidi/Reuters

Merdeka.com - Polisi menembakkan gas air mata dan memukul para demonstran dengan tongkat pada Minggu di ibu kota India, dimana ribuan orang, termasuk mahasiswa di Universitas Jamia Millia Islamia, berunjuk rasa menentang UU baru yang akan memberikan status kewarganegaraan terhadap warga non-Muslim yang kabur dari negaranya akibat persekusi berbasis agama.

Hari ketiga protes damai terhadap UU tersebut, yang disahkan parlemen pekan lalu, berujung ricuh pada Minggu sore. Tiga bus dibakar, kata pejabat kepolisian.

Chinmoy Biswal, pejabat tinggi kepolisian, mengatakan enam personel polisi terluka dalam bentrokan di Delhi selatan. Korlap mahasiswa menyalahkan orang luar terkait kericuhan.

"Kami punya waktu dan sekali lagi menyatakan bahwa protes kami damai dan tanpa kekerasan," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

"Kami mendukung pendekatan ini dan mengutuk pihak mana pun yang terlibat dalam kekerasan," lanjutnya, dilansir dari laman France 24, Senin (16/12).

Eskalasi terjadi sejak pihak berwenang di negara bagian Assam di India timur laut di perbatasan Bangladesh, tempat kekerasan meletus setelah diberlakukannya undang-undang tersebut. Demonstran khawatir gelombang masuk orang asing akan melemahkan kekuasaan dan budaya politik penduduk asli Assam. Lima orang tewas dalam unjuk rasa yang meningkat, pertama kalinya dalam sejarah India, memberikan kewarganegaraan atas dasar agama.

Di Universitas Jamia Millia Islamia di Delhi, slogan #SecularIndia memenuhi tembok-tembok bangunan, sejumlah mahasiswa menyampaikan kepada The Associated Press (AP) polisi menembakkan gas air mata ke dalam perpustakaan kampus dan memukul pengunjuk rasa sebelum menyegel semua gerbang kampus.

"Kami diperlakukan seperti penjahat. Banyak yang terluka dan saya melarikan diri dari kampus demi keselamatan nyawa saya," kata salah seorang mahasiswa, Tufail Ahmad.

Di luar kampus, di wilayah sekitar Jamia Nagar, yang merupakan kawasan Muslim, toko-toko dan rumah-rumah ditutup setelah kericuhan.

Bekas batu yang dilempar pengunjuk rasa termasuk pecahan kaca dan serpihan darah terlihat dalam sebuah rekaman video. Video yang dibagikan kepada AP menunjukkan adegan kekacauan di perpustakaan kampus saat polisi menembakkan gas air mata dan mahasiswa berkerumun di bawah meja dan mengunci diri dalam kamar mandi.

"Polisi memaksa memasuki kampus, tak ada izin diberikan. Pegawai kami dan mahasiswa dipukul dan dipaksa meninggalkan kampus," kata pejabat tinggi Universitas Jamia Millia Islamia, Waseem Ahmad Khan.

Mahasiswa yang terluka dibawa ke rumah sakit terdekat, termasuk ke Holy Family dimana sekitar 26 mahasiswa dirawat, menurut juru bicara rumah sakit, Father George.

"Polisi memukul saya tanpa ampun. Teman-teman saya yang lain juga tidak bisa menghindar, "kata Mujeeb Raza, seorang mahasiswa yang dirawat di rumah sakit Al Shifa terdekat.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP