Bursa saham Arab Saudi ikut terimbas aksi 'bersih-bersih' Pangeran Muhammad

Senin, 6 November 2017 06:01 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Bursa saham Arab Saudi ikut terimbas aksi 'bersih-bersih' Pangeran Muhammad pangeran muhammad bin salman. ©SPA

Merdeka.com - Gejolak di dalam pemerintahan Arab Saudi berimbas kepada bursa saham di negara itu. Pasar saham Arab Saudi anjlok setelah lembaga antikorupsi baru disahkan menangkap sebelas pangeran, sejumlah menteri aktif serta mantan pejabat, dan beberapa pengusaha diduga terlibat rasuah.

Dilansir dari laman Reuters, Minggu (5/11), akibat aksi 'bersih-bersih' itu, indeks ekuitas Saudi turun satu persen dalam 25 menit sejak pembukaan perdagangan. Harga saham perusahaan investasi, Kingdom Holding, milik jutawan Pangeran Alwalid bin Talal yang kabarnya merupakan salah satu yang ditahan, anjlok hingga 9,9 persen.

Begitu juga dengan harga saham perusahaan National Industrialization, yang merosot 1,3 persen. Sama halnya dengan saham Banque Saudi Fransi dikabarkan terjun hingga 2,8 persen. Kingdom Holding punya saham di kedua perseroan itu. Masing-masing 6,2 persen dan 16,2 persen.

Meski demikian, peristiwa itu tidak menyebabkan kepanikan di lantai bursa. Terbukti saham perusahaan petrokimia ternama, Saudi Basic Industries, cuma terpangkas 0,2 persen.

Meski demikian, para pengamat masih cemas dengan keadaan itu karena sebagian pengusaha ikut ditangkap kemungkinan besar bakal menjual saham mereka, yang bisa berakibat harganya bakal jatuh. Bahkan nilai modal baru ditanam pun bisa menyusut.

Meski demikian, banyak juga pengusaha Saudi yang merasa diuntungkan dengan langkah diambil Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, yakni dengan menyingkirkan lawan politik dan memangkas prosedur dianggap rumit dalam iklim usaha. Agenda ekonomi dia dengungkan seperti reformasi, privatisasi, serta proyek pembangunan diharapkan bisa dikebut.

Kementerian Keuangan Arab Saudi turut buka suara terkait dengan gonjang-ganjing di dalam negeri. Mereka menyatakan langkah keras Pangeran Muhammad membentuk 'KPK' dan membekuk sejumlah figur penting di negara itu sudah sesuai dengan aturan hukum.

"Keputusan itu buat mengembalikan iklim penanaman modal di Arab Saudi," demikian pernyataan Kementerian Keuangan Arab Saudi.

Kendati demikian, bantahan juga datang dari pihak-pihak dianggap terlibat dugaan rasuah di Arab Saudi. Kingdom Holding menyatakan justru mereka untung jutaan dolar.

Kingdom Holding yang memegang saham di Citigroup dan Twitter mengatakan mendapat laba pada kuartal ketiga tahun ini sebesar SAR 247,5 juta (sekitar lebih dari Rp 890 miliar). Tahun lalu mereka dikabarkan merugi hingga SAR 355 juta (sekitar lebih dari Rp 1,2 triliun).

Mereka mengklaim laba didapat dari sektor industri jasa seperti hotel, pemasukan dari pembagian keuntungan, dan keuntungan dari penanaman modal.

Belum diketahui bagaimana nasib seluruh pejabat dan keluarga kerajaan Arab Saudi itu. Pangeran Muhammad dikabarkan sedang mengusut kembali dugaan penyimpangan anggaran negara, dimulai dari bencana banjir di Jeddah pada 2009 dan merebaknya Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS). [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini