Arkeolog Temukan Senjata Api Tertua di Amerika Berusia 480 Tahun, Dibawa Penjelajah Spanyol Saat Ekspedisi Penemuan Kota Emas
Senjata ini ditemukan di sebuah bangunan tua di Arizona.
Sebuah studi baru mengungkap penemuan senjata tertua di benua Amerika, yang ditemukan di sebuah bangunan batu di Arizona.
Para peneliti menemukan senjata tertua berupa meriam perunggu atau “senjata dinding” di bekas pemukiman San Geronimo III di tempat yang sekarang disebut Arizona yang setelah diuji dengan penanggalan karbon berusia 480 tahun.
Berdasarkan penanggalan tersebut para ahli meyakini senjata ini merupakan peninggalan dari para penjelajah Spanyol yang sedang melakukan ekspedisi Corondo pada tahun 1539-1542, ekspedisi untuk menemukan kota emas Cibola yang ternyata hanya mitos belaka.
“Meriam ini adalah senjata pertama yang diketahui terkait dengan ekspedisi Coronado dan merupakan senjata api tertua yang pernah ditemukan di benua Amerika Serikat,” tulis Deni Seymour, seraya menambahkan bahwa meriam ini merupakan meriam tertua yang diketahui saat ini di benua Amerika, dikutip dari laman Popular Mechanics, Rabu (11/12).
Para peneliti mengungkapkan, meriam berusia 480 tahun ini berukuran panjang 107 sentimeter dengan berat 18 kilogram dan membutuhkan dua orang untuk mengoperasikannya.
Para peneliti juga menemukan banyak pedang dan belati yang patah, kail ikan, tembikar dan barang-barang lainnya. Namun, tidak ditemukan peluru ataupun residu di laras senjata tersebut, yang menunjukkan senjata itu tidak pernah ditembakkan.
Senapan Musket
Meriam dinding ini dianggap sebagai senapan musket yang sering digunakan di dinding bangunan atau pagar kapal. Senapan ini juga disebut sebagai meriam, terutama karena larasnya yang halus.
Seymour mengungkapkan keterkejutannya terkait penemuannya ini.
“Artefak seperti ini dapat menghubungkan orang dengan masa lalu, sejarah, dan benar-benar menggugah imajinasi mereka,” jelasnya.
Meriam berusia 480 tahun ini kemungkinan dibuat pada awal tahun 1500-an dan dibawa dalam ekspedisi setelah diproduksi di Meksiko atau Karibia sebelum ditinggalkan di lokasi itu ratusan tahun yang lalu. Seymour mengungkapkan, sejak penemuan pertamanya pada tahun 2020, ia telah menemukan meriam kedua yang serupa.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti