Arab Saudi Izinkan Perempuan Bepergian Tanpa Pendamping Pria

Minggu, 4 Agustus 2019 15:00 Reporter : Hari Ariyanti
Arab Saudi Izinkan Perempuan Bepergian Tanpa Pendamping Pria Perempuan Arab Saudi masuk stadion. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Arab Saudi mengumumkan pada Jumat akan mengizinkan perempuan dewasa mendapatkan paspor, bepergian dan bekerja tanpa harus ada izin dari anggota keluarga pria mereka, menjadi pukulan terhadap apa yang disebut sistem perwalian kerajaan yang telah lama dikritik para aktivis hak asasi sebagai penindasan bagi perempuan.

Regulasi baru itu dikeluarkan kabinet Arab Saudi dan diterbitkan dalam sebuah publikasi pemerintah, adalah seri terbaru dari sejumlah langkah yang diambil oleh pemimpin de facto Arab Saudi, putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), untuk mengubah citra kerajaan sebagai salah satu negara yang paling membatasi gerak perempuan di dunia. Demikian dilansir dari laman The New York Times, Minggu (4/8).

Perubahan peraturan diterbitkan pada Jumat di Um Al-Qura, sebuah publikasi lembaran resmi kerajaan, dan menandai langkah signifikan menuju perubahan dengan menempatkan laki-laki dan perempuan Saudi pada posisi hukum yang setara dalam beberapa masalah.

Peraturan baru ini memberi ruang bagi orang dewasa Saudi, tanpa memandang jenis kelamin, kemampuan untuk mendapatkan paspor, bepergian, mendaftarkan kelahiran, pernikahan dan perceraian, dan berfungsi sebagai wali sah bagi anak di bawah umur. Aturan baru itu juga menyatakan pekerjaan adalah hak warga negara, dan bahwa pengusaha tidak boleh mendiskriminasi karyawan berdasarkan jenis kelamin, usia atau kondisi tubuh (kecacatan).

Sejak ayahnya, Raja Salman, mengangkatnya menjadi putra mahkota pada 2015 dan menyerahkan kekuasaannya, MBS mengeluarkan sejumlah inisiatif dalam rangka diversifikasi ekonomi Arab Saudi, menentang musuh-musuh regional kerajaaan dan memperlonggar pembatasan sosial dengan mengizinkan konser musik dan bioskop beroperasi.

Setelah kerajaan ini mencabut larangan yang berlangsung cukup lama yaitu mengemudi bagi perempuan sejak Juni 2018, para aktivis yang bertahun-tahun kampanye melawan pembatasan itu mengalihkan fokus mereka pada sistem perwalian kerajaan, perpaduan antara hukum, peraturan, dan adat istiadat yang disebut para kritikus memberi perempuan status yang sama dengan anak di bawah umur. Di bawah sistem, semua perempuan harus memiliki wali laki-laki, biasanya ayah atau suami, tetapi kadang-kadang seorang putra atau saudara lelaki lainnya, yang izinnya diperlukan bagi seorang perempuan untuk mendapatkan paspor, bepergian ke luar negeri, mendapatkan pekerjaan atau mendapat prosedur medis tertentu.

Pembatasan bagi perempuan ini menyebabkan banyak perempuan Arab Saudi meninggalkan negaranya dalam beberapa tahun terakhir, mencari suaka di luar negeri karena kontrol dan kekerasan oleh keluarga dan sistem legal yang diyakini tak akan melindungi mereka.

Ketika ditanyakan terkait perwalian dalam sebuah wawancara tahun lalu, MBS mengatakan ingin melonggarkan peraturan tetapi harus menyeimbangkan antara Saudi yang menginginkan perubahan dan pihak konservatif yang tidak setuju perubahan.

"Saudi tak ingin kehilangan identitasnya, tapi kami ingin menjadi bagian budaya global. Kami ingin meleburkan budaya kami dengan identitas global," ujarnya.

Perempuan dan laki-laki Saudi mendukung perubahan tersebut, memberikan tanggapan melalui media sosial dengan tagar Arab "Tidak ada perwalian untuk perjalanan perempuan" dan "Terima kasih Muhammad bin Salman." [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Kediktatoran Arab Saudi
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini