Ada Cahaya di Ujung Lorong, Deretan Optimisme dalam Perang Melawan Pandemi Corona

Jumat, 27 Maret 2020 07:42 Reporter : Hari Ariyanti
Ada Cahaya di Ujung Lorong, Deretan Optimisme dalam Perang Melawan Pandemi Corona Tembok Besar China Dibuka Seiring Meredanya Wabah Covid-19. ©2020 REUTERS/Thomas Peter

Merdeka.com - Hampir empat bulan virus corona menyebar di seluruh penjuru dunia, sejak pertama kali muncul di kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China tengah pada Desember 2019. Wabah yang diduga muncul pertama kali di pasar hewan Wuhan itu kemudian menjadi epidemi saat meluas ke sejumlah wilayah di China, dan kemudian ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO karena telah menyebar luas ke sejumlah negara di dunia.

Di saat China telah mulai mengklaim berhasil melawan virus, kini sejumlah negara, termasuk Indonesia tengah berjuang keras memutus mata rantai penyebaran virus.

Sejumlah negara menerapkan karantina wilayah (lockdown) seperti Italia dan India. Kota-kota menjadi sepi di saat pemerintah mewajibkan warganya melakukan jaga jarak sosial. Warga, khususnya masyarakat yang menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai pengemudi ojek atau ojek daring maupun pedagang kecil sangat merasakan dampaknya.

Di tengah pandemi ini, masyarakat di seluruh dunia bersatu saling dukung serta menyemangati dan berdoa agar pandemi segera berakhir. Besar harapan pandemi akan segera berakhir, di mana saat ini sejumlah ilmuwan di berbagai negara sedang bekerja keras untuk menemukan vaksin maupun obat dari penyakit ini.

Merdeka.com merangkum dari berbagai sumber terkait upaya sejumlah negara dan ilmuwan menemukan obat Covid-19, dan pertanda penyebaran virus di beberapa negara mulai melambat:

1 dari 4 halaman

Obat Flu Jepang Dinilai Efektif Untuk Pasien Corona

jepang dinilai efektif untuk pasien corona rev3

Otoritas kedokteran di China mengatakan obat yang digunakan di Jepang untuk mengobati jenis baru influenza nampaknya efektif untuk mengobati pasien virus corona, seperti dilaporkan media Jepang pada Rabu.

Pejabat di Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Zhang Xinmin mengatakan, favipiravir, dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien.

"Obat itu memiliki tingkat keamanan tinggi dan jelas efektif dalam pengobatan," jelas Zhang kepada wartawan pada Selasa, dikutip dari The Guardian, Rabu pekan lalu.

Pasien yang diberi obat itu di Shenzhen berubah negatif dari virus setelah rata-rata empat hari sejak dinyatakan positif, dibandingkan dengan rata-rata 11 hari untuk mereka yang tidak diberikan obat tersebut, kata stasiun televisi NHK.

Selain itu, sinar-X mengkonfirmasi peningkatan kondisi paru-paru pada sekitar 91 persen dari pasien yang diobati dengan favipiravir, dibandingkan dengan 62 persen mereka yang tidak menggunakan obat.

Fujifilm Toyama Chemical, yang mengembangkan obat tersebut juga dikenal sebagai Avigan pada 2014, menolak mengomentari klaim itu. Saham perusahaan menguat pada Rabu setelah komentar Zhang.

Dokter di Jepang menggunakan obat yang sama dalam pengujian klinis pasien virus corona dengan gejala ringan sampai sedang, berharap dapat mencegah virus menyebar ke orang lain.

Tapi seorang sumber dari Kementerian Kesehatan Jepang menyebut obat itu tidak efektif untuk pasien dengan gejala parah.

"Kami memberikan Avigan kepada 70 sampai 80 orang, tapi nampaknya tidak cukup mempan ketika virus telah berlipat ganda," jelas sumber ini kepada Mainichi Shimbun.

Keterbatasan yang sama telah diidentifikasi dalam penelitian yang melibatkan pasien virus corona menggunakan kombinasi antiretroviral HIV lopinavir dan ritonavir, sumber menambahkan.

2 dari 4 halaman

Penyebaran Virus Corona Melambat

corona melambat rev3

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan epidemi virus corona Italia kemungkinan puncaknya pekan ini, menurut laporan dari layanan kawat Italia, ANSA.

"Perlambatan dalam laju pertumbuhan adalah faktor yang sangat positif, dan di beberapa daerah saya percaya kita dekat dengan titik penurunan dari kurva, oleh karena itu puncaknya dapat dicapai minggu ini dan kemudian turun," Wakil Direktur WHO, Ranieri Guerra kepada Radio Capital, dikutip dari Times of Israel, Kamis (26/3).

"Saya percaya bahwa pekan ini dan hari-hari pertama berikutnya akan menentukan karena mereka akan menjadi momen di mana langkah-langkah pemerintah 15-20 hari yang lalu terasa efeknya," katanya, merujuk pada lockdown nasional.

Perlambatan ini disebut sebagai salah satu dampak karantina wilayah (lockdown) yang dilakukan pemerintah. Bahkan bagi warga yang melanggar dengan tetap keluar rumah disanksi denda sampai 3.000 euro.

Saat ini jumlah kasus infeksi terkonfirmasi di Italia mencapai 69.176, sementara 6.820 orang meninggal dunia, angka kematian tertinggi di dunia.

Perlambatan penyebaran virus corona juga disampaikan peraih Nobel Kimia asal Israel, Michael Levitt. Menurutnya epidemi virus corona di China melambat, dan tak terlalu berisiko bagi mayoritas orang.

Ahli biofisika keturunan Amerika, Inggris, dan Israel ini secara akurat memperkirakan pelambatan penyebaran virus pada bulan Februari, memberikan harapan bagi mereka yang terkena dampak lockdown.

Dalam sebuah wawancara dengan Calcalist, dia mengatakan hanya mengkalkulasi.

Pada 1 Februari, dia pertama kali melihat statistik, Provinsi Hubei memiliki 1.800 kasus baru dalam sehari. Hingga 6 Februari, jumlah itu telah mencapai 4.700 kasus baru per hari.

Tetapi pada 7 Februari, sesuatu berubah.

"Jumlah infeksi baru mulai menurun secara linear dan tidak berhenti," kata Levitt.

"Sepekan kemudian, hal yang sama terjadi dengan jumlah kematian. Perubahan dramatis pada kurva ini menandai titik tengah dan memungkinkan prediksi yang lebih baik tentang kapan pandemi akan berakhir. Berdasarkan itu, saya menyimpulkan bahwa situasi di seluruh China akan membaik dalam dua pekan. Dan, memang, sekarang ada sangat sedikit kasus infeksi baru.

Levitt menyamakan tren dengan penurunan suku bunga: jika seseorang menerima suku bunga 30 persen pada tabungan mereka pada Hari 1, tingkat 29 persen pada Hari 2, dan seterusnya, Anda mengerti bahwa pada akhirnya, Anda tidak akan menghasilkan banyak.

Kendati kasus baru dilaporkan di China, mereka mewakili sebagian kecil dari yang dilaporkan pada tahap awal. "Bahkan jika tingkat bunga terus menurun, Anda masih menghasilkan uang," katanya. "Jumlah yang Anda investasikan tidak berkurang, itu hanya tumbuh lebih lambat. Ketika membahas penyakit, itu sangat menakutkan orang karena mereka terus mendengar tentang kasus baru setiap hari. Tetapi fakta bahwa tingkat infeksi melambat berarti akhir pandemi sudah dekat. "

Levitt memperkirakan virus kemungkinan akan hilang dari China pada akhir Maret.

Alasan pelambatan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa model eksponensial berasumsi bahwa orang dengan virus akan terus menginfeksi orang lain pada tingkat yang stabil. Pada fase awal Covid-19, angka itu rata-rata adalah 2,2 orang per hari.

"Dalam model pertumbuhan eksponensial, Anda menganggap bahwa orang baru dapat terinfeksi setiap hari, karena Anda terus bertemu orang baru," kata Levitt.

"Tetapi, jika Anda mempertimbangkan lingkaran sosial Anda sendiri, pada dasarnya Anda bertemu dengan orang yang sama setiap hari. Anda dapat bertemu orang baru di transportasi umum, misalnya; tetapi bahkan di bus, setelah beberapa waktu sebagian besar penumpang akan terinfeksi atau kebal. "

Namun, itu tidak berarti Levitt tak sepakat dengan tindakan pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah di seluruh dunia.

"Anda tidak memeluk setiap orang yang Anda temui di jalan sekarang, dan Anda akan menghindari bertemu muka dengan seseorang yang sedang flu, seperti yang kita alami," kata Levitt.

"Semakin Anda patuh, semakin Anda dapat mengendalikan infeksi. Jadi, dalam kondisi ini, operator hanya akan menginfeksi 1,5 orang setiap tiga hari dan angkanya akan terus turun."

3 dari 4 halaman

Ilmuwan Oxford Kembangkan Alat Tes Murah dan Cepat

kembangkan alat tes murah dan cepat rev3

Para ilmuwan di Universitas Oxford tengah mengembangkan alat tes virus corona atau Covid-19 yang bisa dilihat hasilnya dalam 30 menit, dan bisa dilakukan di manapun. Bahan baku alat ini berbiaya sekitar USD 25 atau sekitar Rp412.000.

Tim di Laboratorium Ilmu Teknik, bekerja sama dengan tim medis di China menyiapkan delapan minggu untuk memulai pengembangan tes, yang menggunakan campuran bahan kimia dan enzim yang berubah dari warna merah muda ke warna kuning jika terinfeksi virus.

Tes ini memiliki keunggulan terkait kecepatannya, tetapi juga karena bahan kimia hanya perlu dijaga pada suhu 65 derajat Celcius selama setengah jam, yang dapat dilakukan dengan mudah di rumah sakit mana pun, atau bahkan di rumah .

Kendati ada rintangan, tes ini diperkirakan dapat menyelesaikan uji klinis dalam beberapa hari mendatang.

"Ada tiga hal yang kami lakukan," kata Profesor Zhengfang Cui, yang memimpin tim, dikutip dari CNN, Selasa (24/3).

"Pertama adalah melakukan uji coba klinis. Kami baru memulainya di di sini di Rumah Sakit Universitas Oxford. Hal kedua adalah persetujuan regulasi, yang dasarnya adalah jumlah tes yang telah dilakukan," lanjutnya.

Hal ketiga yang harus dilakukan adalah mencari rekan industri untuk produksi massal.

"Untuk itu kami perlu ruangan yang bersih dan fasilitas manufaktur. Dan selanjutnya kami bisa memulai membuat produknya," jelasnya.

Dia juga berharap langkah-langkah tersebut bisa rampung dalam dua sampai empat minggu.

4 dari 4 halaman

Tembok Besar China Dibuka Kembali

china dibuka kembali rev3

Sebagian kecil kawasan Tembok Besar China dibuka kembali untuk pengunjung sejak 24 Maret, sebuah tanda kehidupan di China perlahan mulai normal kembali setelah pandemi virus corona. Virus corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, akhir Desember 2019. Kini virus telah menyebar ke seluruh dunia dan ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

Tembok Besar bagian Badaling, yang membentang dari Bei Liu Lou ke Nan Wu Lou Ban, akan dibuka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 16.00 waktu setempat.

Sekitar 70 kilometer (43 mil) dari Beijing, Badaling adalah bagian tembok paling populer bagi wisatawan, sampai para pejabat menetapkan batas 65.000 pengunjung per hari pada Juni 2019.

Pejabat China dalam sebuah pernyataan mengatakan mereka hanya akan mengizinkan 30 persen dari angka kunjungan biasanya masuk ke area Tembok Besar untuk saat ini.

Agar diizinkan masuk, pengunjung harus memesan tiket sebelumnya, baik itu di situs web resmi Tembok Besar Badaling atau melalui aplikasi WeChat.

Pengunjung akan menjalani pengecekan suhu tubuh. Pengunjung juga harus memiliki kode Kesehatan QR, yang memiliki kode berwarna merah, kuning, hijau, yang menandakan status kesehatan yang bersangkutan.

Mereka juga harus menggunakan masker dan jaga jarak sekurang-kurangnya 1 meter dari pengunjung lain sepanjang waktu.

Petugas medis dan anggota militer akan digratiskan, tapi harus mengikuti aturan yang sama. [pan]

Baca juga:
Daftar Negara Tidak Terjangkit Pandemi Corona, Sebagian di Asia dan Afrika
Jokowi Ikuti KTT Luar Biasa G20 Secara Virtual Bahas Covid-19
Virus Corona Bisa Menjadi Penyakit Musiman Seperti Flu
Perusahaan Medis Swasta Ini Jadi Garis Depan Penanganan Corona
Ritual Pendeta Ethiopia untuk Cegah Penularan Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini