Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan si Raja Ular, Kobra dan King Kobra
Merdeka.com - Kobra dan king kobra merupakan dua ular yang sangat ditakuti oleh manusia, karena racun atau bisa mematikan. Bahkan racun king kobra dapat membunuh orang dewasa hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit.
Walaupun memiliki nama yang serupa dan bisa yang sama-sama mematikan, nyatanya kedua ular ini memilikI banyak perbedaan.
Peneliti reptil dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amir Hamidy mengungkapkan, ular kobra dan king kobra berbeda.
"Secara ilmiah, ular kobra genusnya yaitu Naja, sedangkan king kobra yaitu Ophiophagus," ujar Amir dilansir dari situs BRIN.
Amir mengatakan di Indonesia ular kobra terdiri dari dua jenis. Pertama kobra Jawa atau Naja sputatrix, terdapat di Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Flores. Jenis kedua yakni kobra Sumatera atau Naja Sumatera, yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, dan Bangka.
Sedangkan king kobra (Ophiophagus hannah) terdapat di India hingga ke Asia Tenggara. Keduanya adalah kategori ular yang sangat berbisa dan memiliki efek terhadap manusia. Di mana venom-nya yang diantarkan melalui gigitan bisa menyebabkan kematian atau bisa menyebabkan kecacatan.
Berbeda Fisik

©2013 Merdeka.com
Selain itu yang menjadi pembeda antara kobra dan king kobra adalah fisiknya. King kobra memiliki ukuran tubuh lebih panjang jika dibandingkan dengan ular kobra. Sehingga, king kobra merupakan ular berbisa terpanjang di dunia, dimana ukurannya bisa mencapai 5 hingga 6 meter.
Sedangkan ukuran ular kobra paling panjang sekitar 1,8 meter, itupun ular kobra jawa, karena ukurannya relatif lebih besar dibandingkan kobra sumatra.
Perbedaan lainnya, kata Amir, yaitu ular kobra dapat menyemprotkan bisanya (venom), sedangkan king kobra tidak bisa. Selain itu, ular kobra memiliki tudung lebih lebar daripada king kobra.
"Kedua ular tersebut jika sedang marah akan menaikkan kepala dan mengembangkan tudungnya, bahkan king kobra bisa mengangkat sepertiga tubuhnya," katanya Amir.
Habitan Kobra dan King Kobra
Perbedaan selanjutnya ada di habitan ke dua ular tersebut. king kobra umumnya hidup secara alami di hutan dan pinggiran hutan, tidak hidup di sekitar pemukiman, kecuali yang ditangkap dan dipelihara dalam kendang.
Sedangkan ular kobra hidupnya di lokasi yang lebih terbuka, persawahan, ladang, bahkan di sekitar pemukiman. Tak jarang kita menemukan sarang kobra di sekitar rumah, terlebih saat musim pancaroba merupakan waktu yang sangat tepat bagi ular kobra kawin, bertelur, dan kemudian menetas.
"Secara alami, ular kobra yang paling banyak berinteraksi dengan manusia," ujar Amir.
Dirinya menambahkan, ular kobra bisa bertahan hidup di sekitar perumahan karena spesies ini secara aktif berburu katak dan tikus, di mana hewan-hewan ini berada di sekitar manusia, seperti persawahan dan ladang.
Amir juga menjelaskan, king kobra mempunyai perilaku reproduksi yang unik di antara ular-ular lainnya. King kobra betina membuat sarang berupa gundukan dedaunan misalnya daun bambu. Telurnya dijaga oleh induk betina. Pada periode tertentu, ketika telurnya akan menetas, induknya pergi sehingga anaknya tidak mengenal induk.
Sedangkan ular kobra menggunakan lubang untuk menyimpan telurnya, di tempat yang lembab, gelap, dan hangat.
Bisa Ular

©2015 Merdeka.com/The Sunday Mail/Brian Cassey
Secara umum, tipe bisa ular memiliki racun jenis neurotoksin atau racun menyerang saraf, dan hemotoksin atau racun yang menyerang darah. Amir menjelaskan jika kobra dan king kobra apabila menggigit mangsanya, dia akan menyuntikkan bisa melalui taringnya yang kaku terletak di depan atau type proteroglypha.
Selain itu, ada juga jenis bisa sitotoksin, kardiotoksin, dan lain-lain. "Tetapi neurotoksin dan hemotoksin yang paling besar efeknya, tergantung komposisi protein yang ada di venom," jelasnya.
King kobra jenis neurotoksinnya kuat sekali, sedangkan ular kobra memiliki neurotoksin, sitotoksin, dan sebagainya. Secara global, jenis neurotoksin dan hemotoksin berbeda karakter.
Untuk jenis neurotoksin, apabila seseorang tergigit, dia tidak merasakan sakit, tetapi efeknya cepat sekali, menyebabkan kematian karena melumpuhkan syaraf pernapasan. Sedangkan hemotoksin mengakibatkan pendarahan yang hebat, namun efeknya tidak secepat neurotoksin.
Amir mengatakan, jika terjadi kasus gigitan ular, maka penanganan pertama seharusnya bisa mengikuti guideline dari WHO tentang management snake bite. Pada umumnya, dilakukan imobilisasi pada anggota tubuh yang kena gigitan, kemudian sesegera mungkin korban dievakuasi ke rumah sakit terdekat, penanganan medis, sampai pemberian antivenom akan dilakukan di rumah sakit.
Dia juga menekankan pentingnya identifikasi jenis ular, karena ini akan memudahkan penanganan medis. "Dan disitulah peran herpetologi membantu identifikasi ular untuk menyelamatkan orang yang tergigit," ucapnya.
Perlu diketahui masyarakat luas, bahwa tidak semua jenis ular berbisa. Di Indonesia, ada sekitar 350-an jenis ular, menyumbang sepuluh persen dari jumlah ular di dunia. Dari jumlah itu, hanya sekitar 77 jenis saja yang berbisa, itupun 20 jenis merupakan ular laut, artinya hanya sekitar 57 jenis adalah terestrial.
Jika tidak mengetahui jenis ularnya, kata Amir, dapat melihat gejala yang ditunjukkan. Penanganannya menggunakan anti bisa ular yang polivalen (neurotoksin dan hemotoksin). Saat ini memang belum ada pengobatan yang efektif tanpa menggunakan antibisa.
Sedangkan untuk menghindari masuknya ular ke rumah, Amir mengimbau agar masyarakat dapat selalu menjaga kebersihan rumah. "Gunakan pembersih lantai dengan aroma yang menyengat, karena ular tidak suka dengan aroma yang menyengat," tutur Amir.
Selain itu, bersihkan rumah dari tumpukan barang-barang, karena dapat menjadi sarang ular untuk berlindung. Dia juga mengingatkan agar sampah harus dibuang setiap hari, agar tidak mengundang tikus, karena tikus merupakan salah satu mangsa ular.
Hal penting yang wajib diketahui yakini letak rumah sakit terdekat yang memiliki stok anti bisa ular, jika terjadi kondisi emergency.
Amir juga menyampaikan, jika bertemu ular harus jaga jarak, kemudian isolasi tempat ular ditemukan, dan jangan tangani ular secara sendiri. Lebih baik meminta bantuan kepada pemadam kebakaran untuk evakuasi.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya