Munculnya BAB berdarah sering kali dianggap sepele dan diasumsikan sebagai dampak dari wasir atau ambeien. Namun, kondisi ini seharusnya diwaspadai karena bisa menjadi salah satu indikasi kanker kolon. Dokter spesialis penyakit dalam di RS Siloam MRCCC Semanggi, dr. Randy Adiwinata, menekankan perlunya membedakan kanker kolon dari kondisi lain seperti wasir.
"Perdarahan yang disebabkan oleh kanker usus besar umumnya ditandai dengan darah berwarna merah segar yang tercampur dengan feses, disertai dengan penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, serta perubahan dalam pola dan konsistensi feses," ungkap Randy.
Berbeda dengan wasir, yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan darahnya menetes setelah BAB, tanpa bercampur feses. Sangat penting bagi masyarakat untuk mengenali perbedaan antara wasir dan indikasi kanker kolon, agar mereka dapat segera melakukan pemeriksaan. Setiap bentuk BAB berdarah sebaiknya tidak dianggap remeh.
Pemeriksaan tambahan seperti kolonoskopi sangat diperlukan untuk memastikan apakah gejala tersebut berkaitan dengan kanker kolon atau tidak. "Prinsipnya, setiap perdarahan dalam kotoran merupakan alarm bahwa pasien perlu dievaluasi oleh dokter. Sering kali pasien beranggapan bahwa ini adalah wasir. Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata itu adalah kanker usus besar pada stadium lanjut," jelas Randy, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Selasa(8/4/2025).
Advertisement
Metode untuk Mendeteksi Kanker Usus Besar
Untuk mengetahui apakah BAB berdarah adalah indikasi kanker kolon atau wasir, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan skrining. Metode utama yang digunakan untuk mendiagnosis kanker kolon adalah kolonoskopi. Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan alat endoskopi melalui anus untuk memeriksa kondisi usus besar dari dalam.
Dengan menggunakan kolonoskopi, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan (biopsi) dari area usus yang mencurigakan. Sampel yang diambil selanjutnya akan diperiksa di laboratorium guna menentukan jenis kanker kolon serta kemungkinan adanya mutasi genetik. Selain itu, pemeriksaan tambahan seperti CT scan, MRI, dan PET scan juga dilakukan untuk mengevaluasi seberapa jauh penyebaran kanker tersebut.
Advertisement
Lakukan Skrining Kolonoskopi meskipun tidak menunjukkan Gejala
American College of Gastroenterology merekomendasikan agar semua individu, baik yang mengalami gejala maupun yang tidak, menjalani kolonoskopi mulai usia 45 tahun. Langkah ini sangat penting untuk mendeteksi polip usus yang berpotensi berkembang menjadi kanker kolon. Selain itu, tes darah samar pada feses juga dapat dimanfaatkan sebagai metode skrining awal untuk menemukan BAB berdarah yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.
Salah satu contoh nyata mengenai pentingnya skrining adalah kasus aktor Ryan Reynolds. Melalui kolonoskopi, dokter berhasil menemukan polip di usus besarnya, yang jika tidak ditangani dengan baik, dapat berkembang menjadi kanker kolon. Randy menekankan bahwa deteksi dini seperti ini sangat berperan dalam meningkatkan peluang kesembuhan bagi pasien.
Advertisement
Pengelolaan Kanker Kolon setelah Diagnosis
Penanganan kanker kolon harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Dr. Randy menjelaskan bahwa terapi yang efektif memerlukan keterlibatan tim multidisiplin, yang mencakup dokter onkologi, gastroenterologi, bedah, radioterapi, serta ahli gizi dan perawat luka untuk pasien stoma. Salah satu rumah sakit yang menerapkan pendekatan ini adalah RS Siloam MRCCC Semanggi, yang berkomitmen dalam menangani pasien kanker kolon secara komprehensif.
Perkembangan terapi kanker kolon semakin pesat. Melalui pemeriksaan biomarker dan analisis mutasi genetik, dokter dapat menentukan terapi yang paling tepat, termasuk imunoterapi (immunotherapy) dan terapi bertarget (targeted therapy). Kedua jenis terapi ini dikenal menawarkan hasil yang lebih efektif dengan efek samping yang lebih sedikit. Untuk pasien dengan kanker kolon stadium awal, pembedahan biasanya menjadi langkah utama untuk mengangkat seluruh jaringan kanker. Sementara itu, kemoterapi dan radiasi dapat dijadikan terapi tambahan, tergantung pada stadium dan kondisi pasien.
Dalam beberapa situasi, kemoterapi dilakukan terlebih dahulu dengan tujuan mengecilkan ukuran kanker sebelum pembedahan. "Di RS Siloam MRCCC Semanggi, kami memiliki tim khusus untuk menangani kanker kolon. Kami melakukan diskusi tim multidisiplin agar setiap pasien mendapat terapi yang paling sesuai," ungkap dr. Randy. Selain itu, rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti CT scan, MRI, PET scan, dan laboratorium biomolekuler, serta menawarkan layanan perawat luka stoma dan unit paliatif untuk pasien kanker kolon stadium lanjut.
Semua layanan yang disediakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang terintegrasi ini, RS Siloam MRCCC Semanggi berusaha memberikan perawatan terbaik bagi setiap pasien yang membutuhkan.