Data yang dirilis oleh UNICEF pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 20,9 persen anak di Indonesia tidak memiliki sosok ayah, yang sering disebut sebagai fatherless. Hal ini setara dengan hampir 3 juta anak di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama mengungkapkan bahwa hanya 37,17 persen anak berusia 0-5 tahun yang dirawat oleh kedua orang tua mereka secara bersamaan. Kehadiran ayah dalam proses pengasuhan sangat penting, karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran ayah berpengaruh besar terhadap perkembangan anak dalam berbagai aspek, termasuk emosional, psikologis sosial, dan akademik, serta kesehatan mental mereka.
Menurut Direktur Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Edi Setiawan, "Penelitian menyebutkan bahwa anak dengan ayah yang tidak terlibat aktif (fatherless) dalam pengasuhan akan lebih rentan mengalami masalah akademik, emosional, kesehatan mental, perilaku agresif, hingga keterlibatan dalam perilaku berisiko." Edi juga menambahkan bahwa kondisi fatherless menjadi salah satu faktor dalam terbentuknya fenomena yang dikenal dengan istilah strawberry generation. Istilah ini menggambarkan individu yang dianggap lemah, mudah menyerah, dan kesulitan dalam menghadapi kegagalan, serta memiliki tingkat stres yang tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan Edi saat membuka acara Gerakan Ayah Teladan Indonesia dan Siap Nikah Goes to Campus di Universitas Diponegoro (UNDIP) secara daring melalui akun Youtube kemendukbangga_bkkbn, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Kamis(27/3/2025).
Advertisement
Dalam acara yang sama, Rektor Universitas Diponegoro (UNDIP) Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si menyampaikan harapannya agar materi mengenai peran ayah dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat dalam mempersiapkan pernikahan. "Membutuhkan pendidikan pembelajaran untuk getting married (menikah) pasti tidak gampang perlu pengetahuan yang cukup. Karena membina hubungan dari dua pihak tentu bukan untuk hubungan yang sesaat," ujar Suharnomo.
Beliau menekankan pentingnya pendidikan yang memadai sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Menurutnya, pemahaman yang baik tentang peran masing-masing dalam sebuah pernikahan sangatlah krusial. Hal ini bertujuan agar pasangan dapat membangun hubungan yang kokoh dan langgeng. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi tantangan dalam pernikahan. Kesadaran akan pentingnya pengetahuan ini diharapkan dapat mengurangi tingkat perceraian di masa depan.
Advertisement
Dokter spesialis kandungan, Julita D. L. Nainggolan, memberikan penjelasan mengenai peran suami atau ayah dalam menjaga kesehatan prakonsepsi. "Peran yang dapat dilakukan suami/ayah dalam menjaga kesehatan prakonsepsi yaitu menjaga gaya hidup sehat (seperti menghindari alkohol, merokok, dan menjaga berat badan ideal) yang nantinya akan berpengaruh pada kualitas sperma, dan mempersiapkan diri untuk mendukung ibu secara emosional dan fisik," ungkap Julita.
Selain itu, Yohanes Agung, Instruktur Coaching Pendidik Guru Penggerak di Kemendikbud Ristek, memaparkan bahwa 33 persen remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Namun, hanya 4,3 persen orangtua yang mampu mendeteksi bahwa anak mereka membutuhkan bantuan, menurut The Conversation, Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).
Advertisement
Yohanes menyatakan bahwa terdapat tiga jenis pendampingan yang dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak di masa depan. "Ada 3 jenis pendampingan yang berdampak buruk di masa depan anak yaitu pertama otoriter, kedua permisif atau serba boleh dan menuruti semua permintaan anak, dan yang ketiga pengabaian yaitu tidak menganggap dan memperhatikan anak," terangnya. Ia menekankan bahwa pendekatan yang paling efektif adalah melalui wellness dengan cara holistik, yang mencakup enam dimensi utama: fisik, emosional, intelektual, spiritual, sosial, dan lingkungan.
Lebih lanjut, wellness juga dapat dipahami sebagai proses adaptasi. Terdapat dua jenis adaptasi yang perlu diperhatikan, yaitu adaptasi mental yang melibatkan emosi, perasaan, pikiran, dan aspek spiritual, serta adaptasi komunikasi yang melibatkan interaksi dengan anggota keluarga. Dengan memahami kedua jenis adaptasi ini, diharapkan orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih baik bagi anak-anak mereka, sehingga anak dapat tumbuh dengan baik dan sehat di lingkungan yang mendukung.