Makan sahur merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, terutama selama bulan Ramadan. Sebagai kegiatan yang dilakukan sebelum fajar, sahur termasuk dalam kategori sunnah yang memiliki nilai religius tinggi dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Meskipun tidak wajib, sahur memiliki banyak keutamaan dan manfaat, baik dari segi spiritual maupun kesehatan. Dalam pandangan Islam, sahur merupakan bagian penting dari ibadah puasa yang menyempurnakan proses peribadatan selama bulan Ramadhan. Banyak ulama menegaskan bahwa sahur termasuk sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) berdasarkan hadits dan sunnah Rasulullah SAW yang selalu melakukannya dan mendorong para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama.
Dengan mengikuti anjuran ini, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan keberkahan dalam beribadah tetapi juga mendapatkan energi yang cukup untuk menjalani aktivitas selama berpuasa. Para ahli kesehatan dan nutrisi modern juga menekankan bahwa sahur adalah kebiasaan yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Dengan mengonsumsi makanan dan cairan yang tepat saat sahur, tubuh dapat mempertahankan energi dan cairan selama periode puasa yang panjang.
Makan sahur adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah dehidrasi, menjaga kadar gula darah tetap stabil, serta mempertahankan fokus dan produktivitas selama menjalankan ibadah puasa. Kombinasi antara nilai religius dan manfaat kesehatan inilah yang menjadikan sahur sebagai praktik yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Berikut penjelasan lengkap yang telah dirangkum oleh Merdeka.com pada Kamis (27/2).
Advertisement
Makan Sahur dalam Islam
Sahur dalam konteks Islam merujuk pada makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh umat Muslim sebelum fajar atau menjelang adzan Subuh sebagai persiapan untuk berpuasa. Kata "sahur" berasal dari istilah "sahar" dalam bahasa Arab yang berarti waktu menjelang fajar atau dini hari.
Dalam bulan Ramadan, sahur menjadi ritual yang sangat penting, memiliki makna spiritual dan praktis. Praktik sahur ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari sunnah yang diteruskan oleh para sahabat dan generasi Muslim setelahnya.
Nabi Muhammad SAW sangat menekankan pentingnya sahur, sebagaimana tercantum dalam berbagai hadits yang sahih. Salah satu hadits yang terkenal adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di mana Nabi bersabda: "Tasahhar fa inna fis-sahri barakah" yang artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini secara jelas menunjukkan anjuran kuat dari Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan sahur sebelum berpuasa, dengan menjanjikan keberkahan bagi mereka yang melakukannya. Keberkahan yang dimaksud mencakup aspek spiritual dalam bentuk pahala dari melaksanakan sunnah, serta aspek fisik yang memberikan energi dan kekuatan untuk menjalani puasa dengan lebih baik. Dalam praktiknya, makan sahur sebaiknya dilakukan pada waktu yang tidak terlalu jauh dari imsak (awal puasa).
Bahkan, terdapat anjuran untuk mengakhiri sahur, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad: "Inn ma'syaral anbiy'i umirn bita'jlil ifri wa ta'khris-sahri wa wa'il aymni 'alasy-syam'ili fi-alh" yang artinya: "Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat." (HR. Ahmad).
Hadits ini menunjukkan bahwa mengakhiri waktu sahur hingga mendekati waktu imsak adalah praktik yang dianjurkan dalam Islam. Hikmah di balik hal ini adalah agar durasi puasa tidak terlalu panjang dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyerap nutrisi dari makanan sahur dengan lebih baik sebelum memasuki periode puasa.
Advertisement
Hukum Makan Sahur Menurut Pandangan Islam
Dalam konteks fikih Islam, sahur dianggap sebagai sunnah muakkadah, yaitu sebuah amalan yang sangat dianjurkan, meskipun tidak termasuk dalam kategori wajib. Anjuran untuk melaksanakan sahur sangat kuat, hal ini terlihat dari konsistensi Nabi Muhammad SAW dalam melakukannya serta mendorong para sahabat untuk turut serta.
Para ulama dari berbagai mazhab sepakat mengenai hukum sahur ini. Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama telah mencapai kesepakatan (ijma') bahwa sahur adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban.
Bagi seorang Muslim, melaksanakan sahur akan memperoleh pahala sebagai pelaksana sunnah, dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Dasar hukum sahur bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik: "Tasahhar fa inna fis-sahri barakah." Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits lain yang mendukung anjuran sahur berasal dari Ibnu Hibban: "Ista'n bia'mis-sahari 'al iymin-nahri, wa biqaillatin-nahri 'al qiymil-lail."
Artinya: "Bantulah puasa di siang hari dengan makan sahur, dan bantulah shalat malam dengan tidur siang." (HR. Ibnu Hibban).
Hadits ini mengandung hikmah bahwa sahur adalah persiapan penting untuk menjalankan puasa dengan lebih baik, sama halnya dengan tidur siang yang membantu seseorang dalam beribadah di malam hari dengan lebih optimal. Secara praktis, anjuran untuk sahur berlaku untuk semua jenis puasa, baik itu puasa wajib di bulan Ramadan maupun puasa sunnah di luar bulan Ramadan.
Namun, anjuran ini lebih ditekankan pada puasa Ramadan karena durasi puasa yang panjang (sebulan penuh) dan statusnya sebagai ibadah wajib yang memerlukan persiapan fisik dan spiritual yang lebih. Para ulama juga menyatakan bahwa minimal sahur dapat dilakukan dengan meminum seteguk air, meskipun lebih baik jika disertai dengan makanan yang bergizi dan memenuhi kebutuhan tubuh selama berpuasa.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keberkahan sahur dapat dicapai meskipun dengan konsumsi yang sedikit, namun tentu lebih optimal jika dilakukan dengan makanan yang cukup dan bergizi.
Advertisement
Manfaat dan Keutamaan Sahur
Makan sahur memiliki banyak keutamaan dan hikmah yang mendalam, baik dari segi agama maupun praktis. Dengan memahami keutamaan tersebut, umat Muslim dapat lebih termotivasi untuk menjalankan sahur dengan kesadaran yang tinggi. Berikut ini adalah beberapa keutamaan dan hikmah dari sahur:
1. Keberkahan (Barakah)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW disebutkan: "Tasahhar fa inna fis-sahri barakah".
Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim).
Konsep keberkahan dalam Islam mencakup tambahan kebaikan dari Allah SWT yang tidak terduga. Dalam konteks sahur, keberkahan ini dapat berupa pahala, kemudahan dalam berpuasa, peningkatan kualitas ibadah, serta manfaat kesehatan yang diperoleh.
2. Pembeda dengan Praktik Ahli Kitab
Sahur menjadi salah satu pembeda antara puasa umat Islam dan puasa yang dilakukan oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Nabi Muhammad SAW bersabda: "Falu m baina iymin wa iymi ahlil kitbi aklatus-sahar".
Artinya: "Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah adanya makan sahur." (HR. Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa sahur adalah karakteristik unik puasa dalam Islam, yang membedakannya dari praktik puasa di agama lain, serta menjadi bagian dari identitas seorang Muslim dalam beribadah.
3. Mendapatkan Salawat dari Allah dan Para Malaikat
Orang yang melaksanakan sahur akan mendapatkan kemuliaan berupa salawat (doa dan rahmat) dari Allah SWT dan para malaikat. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Innallha wa mal'ikatahu yuallna 'alal mutasahhirn".
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang makan sahur." (HR. Ahmad). Mendapatkan salawat dari Allah dan malaikat adalah kehormatan yang besar bagi seorang hamba, di mana salawat Allah berarti rahmat dan ampunan, sedangkan salawat malaikat merupakan doa dan istighfar untuk hamba tersebut.
4. Meneladani Sunnah Nabi
Melaksanakan sahur adalah salah satu cara untuk meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW yang selalu melakukannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi bersabda: "Ni'ma sahrul mu'mini at-tamr".
Artinya: "Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma." (HR. Abu Daud). Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi tidak hanya menganjurkan sahur, tetapi juga memberikan contoh makanan yang baik untuk sahur.
Meneladani Rasulullah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara berpuasa, adalah bentuk kecintaan dan ketaatan seorang Muslim kepada beliau.
5. Hikmah Praktis untuk Kesehatan
Selain keutamaan spiritual, sahur juga memiliki hikmah praktis yang berkaitan dengan kesehatan. Sahur membantu menyediakan energi dan cairan yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa, mencegah dehidrasi, menjaga kadar gula darah tetap stabil, serta membantu tubuh agar tetap produktif selama menjalankan ibadah puasa.
Para ahli kesehatan modern menyatakan bahwa pola makan dengan jeda waktu tertentu (intermittent fasting), seperti yang diterapkan dalam puasa Islam dengan sahur dan iftar, memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk peningkatan metabolisme, detoksifikasi tubuh, dan potensi penurunan berat badan yang sehat.
Dengan memahami berbagai keutamaan dan hikmah sahur ini, umat Muslim dapat melaksanakan sahur tidak hanya sebagai rutinitas selama bulan Ramadan, tetapi juga sebagai ibadah yang penuh makna dan kesadaran akan manfaatnya baik secara spiritual maupun fisik.
Advertisement
Tata Cara dan Adab saat Makan Sahur
Dalam Islam, setiap ibadah dan ritual memiliki tata cara serta adab yang disarankan untuk diikuti agar mendapatkan manfaat yang maksimal.
Sahur juga memiliki berbagai adab dan tata cara yang dianjurkan berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW dan ajaran para ulama. Berikut adalah beberapa tata cara dan adab saat makan sahur:
1. Mengakhirkan Waktu Sahur
Salah satu adab penting dalam sahur adalah memperlambat waktu sahur hingga mendekati waktu imsak (awal puasa). Hal ini merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Tasahharn ma'an-nabiyyi allallhu 'alaihi wa sallama thumma qma ila-alti qultu kam kna bainahum qla qadru khamsna yah."
Artinya: "Kami makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, 'Berapa jarak antara keduanya?' Beliau menjawab, 'Kira-kira (waktu yang diperlukan untuk membaca) 50 ayat.'" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengakhirkan sahurnya hingga waktu yang dekat dengan waktu shalat Subuh. Para ulama menjelaskan bahwa hikmah dari mengakhirkan sahur adalah untuk memperpendek durasi puasa dan memberikan energi yang lebih bertahan lama selama berpuasa.
2. Memilih Makanan yang Baik dan BergiziPemilihan makanan untuk sahur sangat krusial untuk mendukung kesehatan dan stamina selama berpuasa. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: "Ni'ma sahrul mu'mini at-tamr."
Artinya: "Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma." (HR. Abu Daud).
Hadits ini menunjukkan bahwa kurma adalah salah satu makanan yang direkomendasikan untuk sahur karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan kemampuannya untuk memberikan energi yang tahan lama.
Selain kurma, para ahli gizi menyarankan agar kita mengonsumsi makanan yang kaya akan protein, serat, dan karbohidrat kompleks saat sahur, serta menghindari makanan yang terlalu asin, manis, atau berlemak tinggi.
3. Minum Air yang Cukup
Mengonsumsi air putih yang cukup saat sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi selama berpuasa. Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memperhatikan asupan air, sebagaimana dalam hadits: "Tasahhar wa lau bijar'atin min m'."
Artinya: "Bersahurlah kalian walaupun hanya dengan seteguk air." (HR. Ibnu Hibban).
Hadits ini menekankan pentingnya sahur, bahkan jika hanya dengan minuman, yang menunjukkan bahwa hidrasi adalah aspek penting dalam persiapan puasa.
4. Memulai dengan Doa dan Basmalah
Seperti halnya aktivitas makan lainnya dalam Islam, sahur dianjurkan dimulai dengan membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim) dan diakhiri dengan hamdalah (alhamdulillah).
Membaca doa sebelum dan sesudah makan merupakan bentuk pengakuan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT serta ungkapan syukur atas nikmat-Nya.
5. Tidak Berlebihan dalam Makan
Islam mengajarkan kita untuk bersikap moderat dalam segala hal, termasuk dalam konsumsi makanan. Makan sahur sebaiknya tidak berlebihan hingga terlalu kenyang, karena hal ini dapat menyebabkan rasa malas dan mengantuk setelahnya, serta berpotensi menimbulkan masalah pencernaan selama berpuasa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Wa kul wasyrab wa l tusrif, innah l yuhibbul musrifn."
Artinya: "Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31).
6. Menjaga Kebersamaan Keluarga
Sahur adalah momen yang baik untuk berkumpul bersama keluarga, memperkuat ikatan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Nabi Muhammad SAW sering melakukan sahur bersama keluarga dan sahabatnya, yang menunjukkan nilai sosial dari ritual ini.
7. Memanfaatkan Waktu untuk Ibadah
Waktu sahur merupakan bagian dari sepertiga malam terakhir, yang dianggap sebagai waktu mustajab (dikabulkan) untuk berdoa. Setelah sahur, dianjurkan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum imsak untuk beribadah, seperti shalat tahajud, membaca Al-Qur'an, atau berdoa.
Dengan memperhatikan tata cara dan adab sahur ini, umat Muslim dapat memaksimalkan manfaat dari sahur, baik secara spiritual maupun fisik, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik dan penuh keberkahan.
Advertisement
Keuntungan Mengonsumsi Sahur untuk Kesehatan
Makan sahur tidak hanya memiliki makna spiritual dalam Islam, tetapi juga memberikan sejumlah manfaat kesehatan yang penting. Penelitian terbaru di bidang nutrisi dan kedokteran telah membuktikan banyak hikmah di balik anjuran sahur yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 14 abad yang lalu. Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan dari sahur:
1. Menjaga Kestabilan Gula Darah
Makan sahur berperan dalam menjaga kestabilan kadar gula darah selama berpuasa. Tanpa sahur, risiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) meningkat, yang bisa menyebabkan pusing, lemas, dan kesulitan berkonsentrasi.
Dengan melakukan sahur, tubuh memiliki waktu untuk mencerna makanan dan menyimpan glukosa sebagai glikogen di hati, yang dapat diubah kembali menjadi glukosa saat diperlukan selama puasa.
Para ahli kesehatan menyarankan agar makanan yang dikonsumsi saat sahur memiliki indeks glikemik rendah, seperti gandum utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein, karena makanan ini dicerna lebih lambat dan memberikan energi yang lebih stabil.
2. Mencegah Dehidrasi
Pentingnya mengonsumsi cukup air saat sahur tidak bisa diabaikan, terutama untuk mencegah dehidrasi selama puasa, terutama di musim panas atau daerah yang panas.
Dehidrasi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti sakit kepala, kelelahan, dan gangguan konsentrasi, bahkan bisa berakibat serius pada fungsi ginjal.
Selain mengonsumsi air putih, makan makanan yang kaya akan kandungan air seperti buah-buahan dan sayuran saat sahur juga membantu menjaga hidrasi tubuh.
Para ahli merekomendasikan untuk meminum minimal 8 gelas air dari waktu berbuka hingga sahur, dengan sebagian besar dikonsumsi saat sahur.
3. Menjaga Fungsi Metabolisme
Tanpa sahur, metabolisme tubuh dapat melambat karena tubuh masuk ke dalam mode "kelaparan". Namun, dengan makan sahur, metabolisme tetap aktif karena tubuh mendapatkan nutrisi yang diperlukan, meskipun kemudian berpuasa.
Ini penting untuk menjaga berat badan yang sehat dan fungsi organ yang optimal. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan dengan jeda waktu tertentu (intermittent fasting), seperti yang diterapkan dalam puasa Ramadan dengan sahur dan iftar, dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki profil lipid, serta memberikan efek positif bagi kesehatan otak.
4. Menyediakan Nutrisi Penting
Sahur memberikan kesempatan untuk mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung vitamin, mineral, dan nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan tubuh. Tanpa sahur, tubuh berisiko kekurangan nutrisi selama periode puasa yang panjang.
Makanan yang kaya nutrisi seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, serta protein tanpa lemak sangat dianjurkan untuk sahur. Nabi Muhammad SAW menganjurkan kurma sebagai pilihan sahur yang baik, dan penelitian modern menunjukkan bahwa kurma kaya akan serat, potasium, magnesium, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
5. Mencegah Makan Berlebihan saat Berbuka
Makan sahur dapat membantu menghindari kebiasaan makan berlebihan saat berbuka puasa. Ketika seseorang melewatkan sahur dan berpuasa dalam keadaan sangat lapar, mereka cenderung makan terlalu banyak dan cepat saat berbuka, yang dapat mengganggu pencernaan dan menyebabkan peningkatan berat badan.
Dengan makan sahur yang seimbang, rasa lapar saat berbuka dapat dikelola dengan lebih baik, memungkinkan untuk makan dengan lebih teratur dan perlahan, yang lebih baik untuk pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.
6. Meningkatkan Konsentrasi dan Produktivitas
Asupan nutrisi yang tepat saat sahur dapat membantu menjaga fokus dan produktivitas selama berpuasa. Penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat saat sahur dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif dan mengurangi kelelahan. Hal ini sangat penting bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik atau mental yang intens selama puasa, seperti bekerja atau belajar.
7. Memperkuat Sistem Imun
Konsumsi makanan bergizi saat sahur dapat menjaga sistem kekebalan tubuh tetap berfungsi dengan baik selama puasa. Nutrisi seperti vitamin C, vitamin D, zinc, dan antioksidan yang diperoleh dari sahur dapat memperkuat imunitas dan melindungi tubuh dari infeksi serta penyakit.
Fokus pada makanan bergizi saat sahur sejalan dengan ajaran Islam tentang kesehatan, di mana Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.
8. Meningkatkan Kualitas Tidur
Sahur yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas tidur setelah seharian berpuasa. Makanan yang mengandung triptofan, seperti susu, pisang, dan kacang-kacangan, yang dikonsumsi saat sahur dapat mendukung produksi serotonin dan melatonin yang berperan dalam pengaturan tidur.
Tidur yang baik sangat penting untuk pemulihan tubuh dan persiapan aktivitas keesokan harinya, terutama saat Ramadan ketika banyak Muslim melakukan ibadah tambahan di malam hari.
Dengan memahami berbagai manfaat kesehatan dari sahur ini, umat Muslim dapat lebih menghargai hikmah di balik anjuran Nabi Muhammad SAW untuk bersahur sebelum berpuasa.