Cek Fakta: Prabowo Sebut Indonesia Deindustrialisasi

Sabtu, 13 April 2019 21:03 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Cek Fakta: Prabowo Sebut Indonesia Deindustrialisasi Cikarang, kawasan industri yang berkontribusi besar untuk masyarakat. ©Shutterstock

Merdeka.com - Dalam debat capres pamungkas yang digelar di Hotel Sultan, Sabtu (13/3), Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menilai, ekonomi Indonesia saat ini berjalan di arah yang salah. Menurut Prabowo, jika kondisi ini diteruskan maka tidak mungkin membawa kesejateraan bagi bangsa.

Prabowo juga menyebut, Indonesia mengalami kondisi deindustrialisasi. Ini berbeda dari negara lain.

"Terjadi deindustrialisasi, kalau negara lain industrialisasi, kita justru deindustrialisasi. Kita sekarang enggak produksi apa-apa. Kita hanya bisa menerima bahan produksi dari bangsa-bangsa lain. Ini keliru dan harus kita ubah," ujar Prabowo.

Bagaimana faktanya?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan dalam negeri tumbuh sebesar 4,27 persen. Meski masih mencatat pertumbuhan, tetapi pertumbuhan industri pengolahan masih stagnan. Bahkan turun bila dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan industri pengolahan di 2017 sebesar 4,29 persen, dan di 2016 sebesar 4,26 persen.

Besarnya kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap total industri membuat pergerakan pertumbuhan industri pengolahan ditentukan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas. Sepanjang 2018, industri non migas tumbuh 4,77 persen lebih rendah dibandingkan 2017 yang sebesar 4,85 persen.

Meski pertumbuhan industri pengolahan stagnan, tetapi industri pengolahan berkontribusi sebesar 19,86 persen terhadap perekonomian nasional di 2018. Namun, kontribusi ini juga terus menunjukkan penurunan setiap tahunnya. Pada 2017 industri pengolahan berkontribusi 20,16 persen, 2016 sebesar 20,51 persen, dan 2015 sebesar 20,99 persen.

Pada 2018, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi prematur. Alasannya, porsi manufaktur di dalam Produk Domestik Bruto (PDB) semakin tipis.

Indonesia pernah disebut sebagai negara industri karena porsi manufaktur dalam PDB mencapai 30 persen. Namun, kontribusi industri tersebut kini kian menyusut.

"Indonesia belum berhasil reindustrialisasi, tapi yang terjadi adalah deindustrialisasi prematur. Dulu sempat kontribusi industri mencapai 30 persen terhadap PDB, tapi kini tercatat 20 persen saja meski memang porsinya masih paling besar," kata Bambang, Kamis (22/11). [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini