Cantik tapi Mematikan, Ini Fakta-Fakta Menarik Ular Weling yang Wajib Diketahui

Dengan tubuh belang hitam-putih yang cantik dan elegan, ular ini seringkali dipandang menarik oleh pecinta reptil. Namun, sebaliknya ular ini sangat bahaya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Cantik tapi Mematikan, Ini Fakta-Fakta Menarik Ular Weling yang Wajib Diketahui
Tewaskan Satpam Serpong, Begini Cara Mengatasi Gigitan Ular Weling (sumber: Pixabay) (© 2025 Liputan6.com)

Ular weling (Bungarus candidus) adalah salah satu spesies ular berbisa yang terkenal berkat pola coraknya yang mencolok dan menarik perhatian. Dengan tubuh belang hitam-putih yang cantik dan elegan, ular ini sering kali dipandang menarik oleh para penggemar reptil. Namun, di balik keindahan tersebut, ular ini menyimpan ancaman yang sangat berbahaya. Racunnya termasuk dalam kategori neurotoksin yang sangat kuat, mampu melumpuhkan sistem saraf manusia dalam waktu singkat, sehingga menjadikannya salah satu ular paling ditakuti di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Ular weling sering dijumpai di sekitar permukiman atau lahan terbuka pada malam hari, mengingat sifatnya yang nokturnal. Sayangnya, banyak orang yang belum dapat membedakan ular weling dengan spesies lain yang memiliki pola serupa namun tidak berbisa. Dalam artikel ini, kita akan mengulas beragam fakta menarik tentang ular weling mulai dari ciri fisik, perilaku, hingga mitos yang berkembang di masyarakat, agar lebih waspada sekaligus memahami pentingnya melindungi ekosistem ular ini.

Fakta-Fakta Ular Weling yang Menarik Diketahui, Si Cantik yang Mematikan
Tewaskan Satpam Serpong, Begini Cara Mengatasi Gigitan Ular Weling (sumber: Pixabay) © 2025 Liputan6.com

Ular weling memiliki ciri khas yang paling mencolok yaitu warna tubuhnya yang memiliki pola belang hitam dan putih. Pola belang ini biasanya melingkar secara menyeluruh (cincin penuh) dengan ukuran yang hampir seragam, dari kepala hingga ujung ekor. Perut ular ini berwarna putih, sedangkan ekornya runcing dengan panjang sekitar 16 cm. Secara lebih rinci, ular weling memiliki 15 deret sisik dorsal, 209-219 sisik ventral, 40-50 sisik subkaudal, serta satu sisik anal dan tujuh sisik perisai labial.

Menurut O'Shea dalam bukunya Venomous Snakes of the World (2005), pola warna ini berfungsi sebagai bentuk aposematis, yaitu peringatan visual bagi predator bahwa ular ini berbahaya karena memiliki bisa. Namun, terdapat variasi warna pada beberapa populasi. Dalam laporan yang ditulis oleh Kuch & Mebs di Zootaxa (2005), ditemukan individu yang berwarna hitam polos di beberapa daerah di Jawa, yang menunjukkan adanya variasi fenotipe dalam spesies ini.

Tubuh ular weling berbentuk ramping dan silindris, dengan permukaan sisik yang halus serta mengkilap. Chanhome et al. dalam African Journal of Biotechnology (2011) menyatakan bahwa sisik yang halus ini memudahkan ular untuk bergerak lincah di atas tanah atau di antara vegetasi rendah saat berburu di malam hari. Taring ular weling meskipun kecil, sangat efektif dalam menyuntikkan neurotoksin langsung ke sistem saraf mangsa, terutama saat ia berburu ular lain atau hewan pengerat.

Ular weling terkenal karena bisa yang sangat berbahaya. Penelitian yang dilakukan oleh Chanhome et al. dalam jurnal African Journal of Biotechnology mengungkapkan bahwa racun dari ular ini mengandung neurotoksin yang kuat, yang dapat menyebabkan kelumpuhan otot serta kegagalan pernapasan. Selain itu, studi tersebut juga menunjukkan bahwa variasi geografis dapat mempengaruhi potensi racun, di mana spesimen dari Indonesia memiliki neurotoksisitas yang lebih cepat dibandingkan dengan spesimen yang berasal dari Thailand dan Malaysia.

Lebih lanjut, sebuah penelitian oleh Hodgson et al. yang dipublikasikan dalam Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases mengindikasikan bahwa racun ular weling tidak hanya bersifat neurotoksik, tetapi juga memiliki aktivitas miotoksik dan nefrotoksik. Dengan kata lain, racun ini dapat merusak jaringan otot dan ginjal, sehingga menambah kompleksitas dalam penanganan medis untuk kasus gigitan ular ini.

7 Arti Ular Weling Masuk Rumah Menurut Primbon Jawa, Bisa Jadi Pertanda Baik Atau Buruk
7 Arti Ular Weling Masuk Rumah Menurut Primbon Jawa, Bisa Jadi Pertanda Baik Atau Buruk @ 2024 merdeka.com

Ular weling dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap berbagai jenis lingkungan. Hewan ini dapat ditemui di berbagai lokasi seperti hutan, hutan mangrove, semak-semak, perkebunan, lahan pertanian, dan bahkan di sekitar area pemukiman manusia. Habitatnya bervariasi dari dataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Kemampuan beradaptasi yang luar biasa ini membuat ular weling sering kali berinteraksi dengan manusia, terutama di kawasan pedesaan.

Ular weling termasuk dalam kategori hewan nokturnal, yang artinya ia aktif pada malam hari. Meskipun ular ini cenderung tidak agresif dan lebih memilih untuk menghindari konfrontasi dengan manusia, gigitan ular weling sering terjadi saat manusia sedang tidur atau tidak menyadari keberadaannya. Oleh karena itu, perilakunya menjadikan ular weling sebagai ancaman yang tersembunyi, terutama di daerah dengan pencahayaan yang minim.

Ular weling dikenal memiliki kebiasaan makan yang khas, yaitu ophiophagi, yang berarti ia mengonsumsi ular lainnya. Selain itu, menurut Kuch dalam Herpetological Bulletin, ular ini juga berburu kadal, amfibi, dan mamalia kecil.

Kebiasaan makan yang unik ini menjadikan ular weling sebagai predator utama dalam ekosistemnya, berperan dalam pengendalian populasi ular lainnya dan menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Memahami peran ekologis ular weling sangat penting dalam rangka upaya konservasi dan pengelolaan habitat yang efektif.

Ular weling merupakan spesies yang berkembang biak dengan cara bertelur, atau dikenal sebagai ovipar. Dalam presentasi yang disampaikan oleh Weiss et al. dalam Malayan Krait Presentation, dijelaskan bahwa musim kawin ular ini berlangsung pada bulan Maret dan April, di mana betina dapat bertelur antara 4 hingga 10 butir.

Menariknya, betina ular weling memiliki kebiasaan menjaga telurnya sampai menetas, yang merupakan perilaku yang jarang ditemui pada spesies ular lainnya. Tindakan ini menunjukkan adanya tingkat perawatan parental yang tinggi, yang berpotensi meningkatkan peluang kelangsungan hidup bagi anak-anaknya.

Rekomendasi