Keputusan Stefano Cugurra Teco untuk mengundurkan diri dari posisi pelatih Bali United ternyata disambut positif oleh para suporter. Mereka merasa seolah mendapatkan harapan baru bagi tim kesayangan mereka. Langkah Teco ini juga mendapatkan apresiasi dari kalangan suporter, seperti yang diungkapkan oleh I Gede Hendra Ganjrung, pentolan North Bali Hooligan.
"Coach Teco memilih untuk mundur, ini sangat tepat. Kami, suporter, melihat coach Teco sudah tidak memberikan dampak terbaik untuk Bali United di Liga 1 musim ini," ujarnya.
Lebih lanjut, I Gede Hendra Ganjrung menambahkan, "Kami juga berterima kasih kepada coach Teco karena sudah menciptakan sejarah untuk Bali United. Tapi, semua itu ada masanya. Butuh penyegaran dengan pelatih baru dan suasana baru."
Advertisement
Pendukung Kembali Menunjukkan Semangatnya
Dalam situasi ini, ada peluang bagi para suporter untuk kembali mengisi Stadion Dipta. Sejak awal musim, jumlah suporter yang hadir di stadion cenderung sedikit. Hanya pada beberapa pertandingan tertentu, seperti saat Bali United melawan Persib Bandung dan Borneo FC, kehadiran suporter hampir mencapai 10 ribu orang dari total kapasitas 18 ribu.
Faktor kejenuhan serta aspirasi suporter yang tidak diakomodasi menjadi alasan utama mengapa mereka bersikap demikian. Namun kini, semangat suporter untuk kembali bersuara mulai muncul. "Biarkan euforia suporter bergumuruh kembali di Stadion Dipta. Suasana itu yang kami rindukan," ucap Gede Ganjrung.
Advertisement
2 Nama yang Ramai Diperbincangkan
North Bali Hooligan, bersama dengan kelompok suporter Bali United lainnya, secara kompak meminta agar manajemen klub merekrut pelatih asing yang lebih berkualitas dibandingkan Teco. Nama-nama yang saat ini ramai diperbincangkan adalah mantan pelatih Persib Bandung dan Timnas Indonesia, Luis Milla Aspas, serta pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares. Tavares bahkan telah lama menjadi kandidat yang diincar untuk melatih Bali United.
Namun, berdasarkan informasi yang beredar, klub harus membayar biaya transfer jika ingin mendapatkan Tavares, yang kontraknya baru akan berakhir pada tahun 2026. "Untuk menggantikan coach Teco, kami merasa perlu pelatih asing yang lebih kompeten. Dua nama yang kami usulkan adalah Luis Milla atau Tavares. Namun, kami lebih cenderung pada Tavares karena dia sudah memahami situasi di Liga 1," ujar Gede Ganjrung.
Advertisement
Manajemen Bali United Diharapkan Dapat Kembali Menjalin Hubungan Baik dengan Suporter
Dalam beberapa musim terakhir, terdapat kesan bahwa manajemen Bali United dan para suporter semakin terpisah. Hal ini dirasakan oleh Gede Ganjrung yang mewakili suara elemen suporter lainnya. Ia mengamati bahwa manajemen klub pernah memiliki kedekatan yang erat dengan suporter sejak awal berdirinya pada tahun 2015 hingga meraih juara Liga 1 pada tahun 2019.
Namun, setelah itu, mulai muncul jarak di antara keduanya, dan banyak masukan dari suporter yang tidak diindahkan. Keputusan untuk menaikkan harga tiket pun membuat suporter merasa tidak puas. Menurutnya, hal-hal seperti ini sudah mulai menghilang, dan inilah salah satu alasan mengapa kehadiran suporter Bali United di Stadion Dipta semakin berkurang.
“Awal-awal berdiri, manajemen Bali United merangkul kami. Selalu menjalin silaturahmi. Jatuh bangunnya Bali United, kami selalu mendukung,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Setia pada kegiatan di luar lapangan, kedua belah pihak saling dukung satu sama lain sehingga ikatan emosional terjalin dengan baik. Makanya, beberapa tahun lalu Stadion Dipta tidak pernah sepi dari suporter. Sekarang, rasa kekeluargaan tersebut hilang.”
Gede Ganjrung menegaskan bahwa suporter tidak berniat menekan pihak manapun, tetapi berharap agar manajemen Bali United menyadari bahwa suporter adalah bagian penting dari klub. Suporter juga berkontribusi dalam pemasukan tim. “Kedekatan ini yang membangun rasa emosional tumbuh antara suporter, pelatih, manajemen, dan pemain,” jelasnya.