MU berhasil meraih kemenangan yang dramatis atas Southampton pada Jumat dini hari WIB (17-1-2025), namun ekspresi Sir Jim Ratcliffe menunjukkan ketidakpuasan selama laga pekan ke-21 Premier League tersebut. Gol bunuh diri yang dilakukan oleh Manuel Ugarte sempat membuat Southampton unggul hingga menit ke-80, tetapi Amad Diallo muncul sebagai pahlawan dengan mencetak hattrick yang luar biasa, sehingga mengubah arah pertandingan untuk tim tuan rumah.
Diallo mencetak tiga gol pada menit-menit akhir, yang membantu MU mengamankan tiga poin melawan tim yang diprediksi akan terdegradasi. Meskipun demikian, sebelum momen gemilang tersebut, Setan Merah mengalami kesulitan sepanjang pertandingan. Bahkan, para penggemar sempat merasa khawatir akan hasil yang kurang memuaskan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tim berhasil meraih kemenangan, masih ada banyak yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan performa mereka di masa mendatang.
Advertisement
Ketidakpuasan Sir Jim Ratcliffe
Di antara para penonton di Old Trafford, Sir Jim Ratcliffe, pemimpin Ineos dan pemegang saham utama Manchester United, tampak sangat kecewa, terutama pada dua momen krusial. Pertama, Antony, yang didatangkan dengan biaya yang sangat tinggi, tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas saat ia melewatkan gawang yang terbuka lebar.
Kemudian, Leny Yoro, bek muda yang juga dibeli dengan harga mahal, gagal menghentikan Kamaldeen Sulemana yang dengan mudah melewati dirinya dalam pertarungan satu lawan satu. Kedua pemain ini, yang total biaya transfernya mencapai 134 juta pound (setara dengan Rp2,6 triliun), menunjukkan performa yang sangat mengecewakan. Antony, yang tampaknya kariernya di MU akan segera berakhir, dan Yoro, yang masih dalam tahap pengembangan, jelas menjadi sorotan utama dalam pertandingan tersebut.
Advertisement
Periode Kepemimpinan Sir Jim Ratcliffe di Manchester United
Sir Jim Ratcliffe berhasil mengakuisisi 27,7 persen saham Manchester United (MU) dengan nilai mencapai 1,3 miliar pound pada tahun lalu, yang memungkinkan dirinya untuk mengambil alih pengelolaan operasi sepak bola dari keluarga Glazer. Sejak pengambilalihan tersebut, ia telah membuat sejumlah keputusan yang menuai kritik, terutama dalam hal penghematan biaya yang dianggap kontroversial.
Dalam wawancara yang dilakukannya dengan fanzine United We Stand bulan lalu, Sir Jim dengan tegas menyatakan bahwa MU telah menjadi tim yang biasa-biasa saja. "Manchester United telah menjadi medioker. Klub ini tidak lagi berada di level elite, padahal seharusnya menjadi salah satu klub sepak bola terbaik di dunia. Begitulah keadaannya di era [Sir] Alex [Ferguson]. Perubahan besar dibutuhkan untuk kembali ke level elite," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan keprihatinannya terhadap posisi klub yang pernah berjaya.
Sir Jim juga menekankan bahwa ada tantangan besar yang harus dihadapi untuk mengembalikan kejayaan klub tersebut. "Ini bukan tugas yang mudah dan cepat. Masalahnya sangat rumit karena telah terjadi begitu lama. Upaya untuk mengubah sesuatu yang medioker menjadi tim elite dan top membutuhkan kerja keras yang luar biasa," imbuhnya. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa proses pemulihan MU akan memerlukan waktu dan usaha yang signifikan dari semua pihak yang terlibat.
Sumber: Caughtoffside
Advertisement