Yuan jadi mata uang global, BPS nilai Indonesia diuntungkan
Mendorong ekspor dan menekan impor.
Indonesia dinilai bakal menarik banyak keuntungan dari keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) menetakan yuan sebagai mata uang internasional. Mengingat, China adalah mitra dagang utama Indonesia.
"Jadi kalau menguat terhadap rupiah berarti harga barang-barang ekspor Indonesia ke sana bisa lebih murah. Kalau lebih murah, orang Tiongkok bisa beli lebih banyak, berarti nanti bisa membantu ekspor kita," kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Sasmito Hadi Wibowo, Jakarta, Selasa (1/12).
Di sisi lain, menurutnya, Indonesia bakal terpaksa mengurangi impor dari China lantaran harga barangnya semakin mahal. Dan, beralih membangun industri dalam negeri.
"Itu nanti akan mengurangi impor, kecuali kalau Tiongkok masih banting harga tapi kan ada batas bawahnya, jadi dampaknya kemungkinan besar neraca perdagangan kita akan lebih baik."
Kemarin, dewan petinggi IMF yang beranggotakan 188 negara menilai yuan memenuhi standar untuk ditetapkan sebagai mata uang bebas digunakan. Dengan demikian, yuan bergabung bersama dolar AS, euro, poundsterling, dan yen dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR) IMF.
Komposisi ini bakal berlaku mulai satu Oktober 2016. Dalam keranjang SDR, yuan memiliki bobot 10,92 persen, di atas yen (8,33 persen), dan poundsterling (8,09 persen). Namun, di bawah euro (30,93 persen), dan dolar AS (41,73 persen).
Pembobotan itu mencerminkan tingkat keutamaan mata uang tersebut dalam perdagangan dan pembayaran.
Terakhir kali IMF mengubah komposisi SDR pada 1999. Kala itu, euro menggantikan mark (Jerman) dan franc (Prancis).
Baca juga:
Yuan jadi mata uang IMF, China bakal banjir dana asing USD 3 triliun
Mendag Lembong: Penggunaan USD untuk impor China akan dikurangi
Beras hingga rokok jadi penyumbang inflasi November 2015
Inflasi jinak alasan PLN katrol tarif listrik rumah tangga
Ditolak Indonesia, kereta Jepang dilirik di mana-mana