Whoosh Terus Merugi dan Utang Menumpuk, Budi Arie Bela Jokowi : Itu Karya Terbaik
Mantan Menteri Koperasi era Presiden Prabowo Subianto tak mau jika Jokowi terus diserahkan. Bahkan Budi Arie menyebut (KCJB) sebagai karya terbaik Jokowi.
Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh terus menjadi polemik. Tak sedikit yang menyalahkan Joko Widodo (Jokowi), Presiden ke-7 Indonesia yang menginisiasi kereta buatan China itu.
Ketua Umum relawan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie pun buka suara. Mantan Menteri Koperasi era Presiden Prabowo Subianto tak mau jika Jokowi terus diserahkan. Bahkan Budi Arie menyebut (KCJB) sebagai karya terbaik Jokowi.
"Nggaklah (nggak ada kaitan utang Whoosh dengan Jokowi). Itu karya terbaik. Kalau nggak ada Whoosh, harusnya ditambahi tuh kereta cepatnya dari Jakarta ke Surabaya, Banyuwangi," ujar Budi seusai bertemu Jokowi di kediaman pribadi Jalan Kutai Utara, Sumber, Solo, Jumat (24/10).
Dikatakan Budi, operasional Whoosh di Indonesia merupakan investasi.
"Itu kan investasi, detailnya tanya yang itu, ini kan investasi. Wong buat bagus buat rakyat loh program itu," tegas Budi.
Lebih lanjut Budi mengatakan sebelum diluncurkan di Indonesia, Whoosh sudah melalui berbagai kajian. Baik dari sisi ekonomi maupun manfaat.
"Itu kan kajiannya sudah dilakukan. Nanti kalau secara teknikalnya tanya yang berkompeten ya, perhubungan dan pihak-pihak terkait. Tapi kalau saya kan ngelihatnya begitu itu sudah berguna kok, berguna buat masyarakat," tukasnya.
Bayang-Bayang Beban Utang
Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, yang dikenal sebagai Whoosh (Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat), hadir dengan ambisi besar. Tujuannya adalah mewujudkan efisiensi waktu tempuh dari sekitar tiga jam menjadi kurang dari satu jam, meningkatkan konektivitas, serta menjadi simbol lompatan transportasi modern Indonesia.
Whoosh juga disebut sebagai tonggak sejarah baru, menandai masuknya Indonesia ke fase moda transportasi modern berkecepatan tinggi. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok, diimpikan sebagai cikal bakal revolusi infrastruktur transportasi di negeri ini.
Namun, di balik euforia kebanggaan atas kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini, terselip kenyataan yang belum sepenuhnya mulus. Bayang-bayang Beban utang Whoosh masih membayangi neraca keuangan negara, memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutannya tanpa menjadi beban APBN.
Kompleksitas Beban Utang Whoosh
Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung awalnya dirancang dengan biaya sekitar US$6 miliar. Namun, seiring waktu, berbagai faktor seperti pembebasan lahan, perubahan desain, dan kenaikan harga bahan konstruksi menyebabkan pembengkakan biaya (cost overrun) hingga mencapai sekitar US$7,2 miliar, atau setara Rp116 triliun.
Sebagian besar pembiayaan proyek ini berasal dari pinjaman luar negeri, khususnya dari China Development Bank (CDB) yang menanggung sekitar 75 persen total utang. Sisanya dibiayai oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), di mana PT KAI menjadi pemegang saham mayoritas dari pihak Indonesia.
Struktur keuangan proyek ini mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan serius. Setiap tahun, beban bunga atas pinjaman tersebut diperkirakan mencapai US$120 juta hingga US$130 juta, setara hampir Rp2 triliun. Jumlah ini hanya untuk membayar bunga, belum termasuk pokok pinjaman, yang sangat besar untuk proyek yang baru beroperasi.
Laporan keuangan semester I tahun 2025 menunjukkan bahwa KCIC mencatat kerugian sekitar Rp1,6 triliun. Dengan jumlah penumpang sepanjang 2024 yang hanya mencapai sekitar 6 juta orang dan rata-rata tarif Rp250 ribu per tiket, total pendapatan kotor setahun tidak lebih dari Rp1,5 triliun. Angka ini masih jauh di bawah kebutuhan untuk membayar bunga saja, menunjukkan tantangan finansial yang besar.