Wamendagri Bima Arya: Indonesia Punya 514 Potensi Daerah, Kunci Pengembangan Ekonomi Kreatif Ada pada Diferensiasi!
Wamendagri Bima Arya tegaskan diferensiasi adalah kunci pengembangan ekonomi kreatif, membuka 514 potensi daerah untuk pariwisata. Bagaimana strategi ini dapat mengubah wajah Indonesia?
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa diferensiasi merupakan kunci utama dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Penekanan ini disampaikan untuk mengungkit kemajuan sektor pariwisata nasional yang memiliki potensi besar. Pernyataan tersebut disampaikan Bima Arya pada Minggu, 12 Oktober, dalam acara The Top Tourism Leaders Forum.
Acara penting ini diselenggarakan di Hall 9, Nusantara International Convention Exhibition (NICE) di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten. Bima Arya menyoroti banyaknya destinasi wisata tersembunyi yang dapat dioptimalkan jika kepala daerah memiliki komitmen kuat dalam mengelola potensi wilayahnya. Ia yakin bahwa setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang perlu ditonjolkan.
Menurut Bima Arya, dengan 514 kabupaten/kota di Indonesia, seharusnya ada 514 potensi, 514 identitas, dan 514 karakter daerah yang berbeda. Konsep ini menjadi landasan penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan industri kreatif. Strategi diferensiasi ini diharapkan mampu menciptakan daya tarik unik bagi setiap wilayah.
Pentingnya City Branding dan Identitas Unik Daerah
Bima Arya secara khusus menyoroti pentingnya city branding yang unik dan membedakan satu daerah dengan daerah lainnya. Ia menekankan bahwa citra daerah tidak boleh stagnan hanya karena terus menggunakan tagline yang sama atau meniru daerah lain. Keunikan ini adalah aset yang harus digali dan dipromosikan secara efektif.
Dalam pidatonya, Bima Arya mengajak para ahli branding untuk berbagi pengetahuan dengan aparat, kepala dinas pariwisata, dan kepala daerah. "Bapak-Ibu yang sangat paham branding, tolong ajari, tolong tukar pikiran, tolong diskusi dengan para aparat, kepala dinas pariwisata, dan juga kepala daerah tentang city branding karena ini kaitannya dengan pariwisata kuat sekali. City branding ini adalah citra,” ujarnya. Hal ini menunjukkan kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan.
Pengembangan identitas daerah yang kuat akan menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Diferensiasi ekonomi kreatif melalui city branding yang otentik dapat membantu daerah bersaing di kancah pariwisata nasional maupun internasional. Ini juga akan mendorong masyarakat lokal untuk lebih bangga terhadap warisan budaya dan alam mereka.
Belajar dari Pengalaman Bogor: Mengubah Potensi Lokal Menjadi Destinasi Unggulan
Sebagai contoh nyata, Bima Arya membagikan pengalamannya saat membangun city branding Kota Bogor. Pada tahun 2018, ketika menjabat Wali Kota Bogor, ia melihat potensi besar di kawasan Mulyaharja, yang memiliki hamparan persawahan hijau berlatar Gunung Salak. Ia bermimpi menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata baru.
Tantangan muncul karena lahan tersebut merupakan milik warga dan perusahaan, namun berkat kesungguhan dan kolaborasi, perubahan pun terjadi. "Kita bekerja keras melibatkan warga, mengedukasi ibu-ibu. Kemudian mendidik para tour guide, mendidik komunitas supaya berkreasi di sana," jelas Bima. Upaya ini menunjukkan bahwa dengan kemauan dan kerja sama, hambatan dapat diatasi.
Hasilnya, kawasan yang tadinya salah satu desa termiskin di Kota Bogor kini ramai setiap akhir pekan. "Saat ini dari titik ini, anak-anak muda, ibu-ibu, emak-emak, ini bisa hidup karena setiap akhir pekan ramai. Mereka buat sistem sendiri,” kata Bima. Pengalaman ini membuktikan bahwa membangun ekosistem pariwisata membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengatasi hambatan kultural, struktural, dan infrastruktur.
Membangun Ekosistem Pariwisata Melalui Sport Tourism dan Event Kreatif
Selain itu, Bima Arya juga mencontohkan pengembangan sport tourism di Bogor melalui pembangunan jogging track sepanjang 4,3 kilometer di sekitar Istana dan Kebun Raya Bogor. Jalur tersebut kini ramai dimanfaatkan warga dan berdampak pada peningkatan ekonomi pelaku usaha di sekitarnya. Ini menunjukkan bagaimana investasi pada infrastruktur publik dapat memiliki efek domino positif bagi ekonomi lokal.
“Jadi, sport tourism hari ini, sesungguhnya kalau kita tekuni betul, ini bisa membangun ekosistem yang luar biasa," ujarnya. Ia menambahkan bahwa sport tourism tidak hanya bicara kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga kolaborasi dengan Forkopimda serta efeknya bagi UMKM. Sektor ini menjadi salah satu pilar penting dalam strategi diferensiasi ekonomi kreatif.
Bima juga menyoroti potensi event kreatif seperti konser musik sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, ia menekankan bahwa aspek perizinan, keamanan, dan infrastruktur harus diperkuat untuk mendukung acara berskala besar. Ia berharap Indonesia dapat menjadi destinasi utama bagi berbagai pertunjukan seni, yang akan semakin memperkaya pilihan pariwisata.
Tantangan dan Harapan untuk Pemerintah Daerah
Membangun ekosistem pariwisata, menurut Bima Arya, merupakan pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah daerah (Pemda). Ia mengamati bahwa belum semua kepala daerah memiliki kesadaran penuh bahwa pariwisata dan industri kreatif merupakan celah strategis dalam pembangunan ekonomi lokal. Kesadaran ini adalah langkah awal yang krusial.
Oleh karena itu, tugas insan pariwisata menjadi sangat berat, yaitu harus "gaul membangun jejaring dan mengayakan perspektif." Ini berarti perlunya proaktif dalam berkolaborasi, belajar, dan berinovasi. Dengan adanya diferensiasi ekonomi kreatif yang kuat, setiap daerah dapat menemukan identitas uniknya dan menarik lebih banyak wisatawan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat lebih aktif dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi lokal yang belum terjamah. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi pada infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan di seluruh pelosok Indonesia.
Sumber: AntaraNews