Trump Serukan Serangan Militer ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan bakal melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu sepuluh hari ke depan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan bakal melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu sepuluh hari ke depan. Pernyataan tersebut langsung berdampak pada harga minyak global.
Trump menyampaikan rencana serangan ini pada hari Kamis dalam pertemuan pertama Dewan Perdamaian yang ia dirikan. "Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin juga tidak," kata Trump yang dikutip dari CNBC pada Jumat (20/2). "
Mungkin kami akan mencapai kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 10 hari ke depan," tambahnya. Ia menyiratkan bahwa masih ada kemungkinan untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, meskipun opsi militer tetap ada.
Pernyataan tersebut segera mempengaruhi pasar energi di seluruh dunia. Harga minyak mentah Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar USD 1,24 atau 1,9 persen, mencapai USD 66,43 per barel. Di sisi lain, harga minyak acuan dunia Brent juga menguat sebesar USD 1,31 atau 1,86 persen, mencapai level USD 71,66 per barel.
Negosiasi Nuklir
Trump mengakui bahwa menjalin kesepakatan dengan Iran merupakan tantangan yang tidak mudah. "Selama bertahun-tahun terbukti tidak mudah membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran," ungkap Trump.
Ia menegaskan bahwa "kita harus membuat kesepakatan yang bermakna, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi." Kenaikan harga minyak juga terlihat sepanjang pekan ini, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran tentang kemungkinan serangan AS terhadap Iran. Harga minyak mentah WTI tercatat naik lebih dari 5 persen dalam satu pekan dan hampir 16 persen sejak awal tahun ini.
Pekan ini, utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, melakukan pembicaraan dengan Iran mengenai program nuklir di Jenewa, Swiss. Namun, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa Iran belum memenuhi batasan-batasan yang ditetapkan oleh Trump dalam perundingan tersebut.
Di sisi lain, Gedung Putih berpendapat bahwa masih terdapat banyak alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Hal ini menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi oleh pemerintahan AS dalam upaya mencapai kesepakatan yang diinginkan.
Potensi Gangguan Pasokan Minyak
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa terdapat "banyak alasan dan argumen" yang mendukung kemungkinan serangan terhadap Iran. Meskipun demikian, ia juga mengungkapkan bahwa terdapat sedikit kemajuan dalam pembicaraan yang berlangsung di Jenewa. Namun, ia menekankan bahwa posisi Amerika Serikat dan Iran masih sangat berbeda dalam beberapa isu penting.
Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan sedang memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Saat ini, kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di wilayah tersebut, sementara kapal induk kedua, USS Gerald Ford, sedang dalam perjalanan menuju lokasi.
Sebagai respons terhadap situasi ini, Garda Revolusi Iran telah mengadakan latihan militer di Selat Hormuz pada pekan ini. Selat ini merupakan jalur penting untuk perdagangan minyak dunia, sehingga para pelaku pasar merasa khawatir bahwa konflik terbuka antara AS dan Iran dapat mengganggu arus distribusi minyak melalui selat tersebut.
Jika terjadi gangguan dalam distribusi, pasokan energi global berpotensi terpengaruh, yang pada gilirannya dapat mendorong harga minyak semakin tinggi. Oleh karena itu, situasi ini menjadi perhatian serius bagi banyak pihak, terutama bagi mereka yang terlibat dalam sektor energi dan perdagangan internasional. Keterlibatan militer AS yang semakin meningkat di kawasan ini menambah kompleksitas situasi yang ada dan dapat memicu ketegangan lebih lanjut di wilayah tersebut.