Transaksi Pasar Modal Sulawesi Tengah Melonjak 28 Persen, Didominasi Investor Milenial
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kenaikan signifikan Transaksi Pasar Modal Sulawesi Tengah sebesar 28 persen YoY hingga Oktober 2025, mencapai Rp9,1 triliun, didorong oleh aktivitas investor.
Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) melaporkan peningkatan signifikan pada aktivitas pasar modal di wilayah tersebut. Jumlah transaksi saham pasar modal Sulawesi Tengah melonjak 28 persen secara tahunan (Year-on-Year) hingga Oktober 2025. Kenaikan ini menunjukkan geliat investasi yang positif di tengah masyarakat Sulteng.
Total nilai transaksi mencapai Rp9,1 triliun dalam periode Januari hingga Oktober 2025. Angka ini jauh melampaui pencapaian dua bulan sebelumnya yang hanya Rp1 triliun hingga Agustus 2025. Peningkatan ini menjadi indikator kuat terhadap kepercayaan investor lokal.
Kepala BEI Perwakilan Sulteng, Putri Irnawati, menyatakan bahwa pertumbuhan ini tidak terlepas dari aktivitas investor yang semakin gencar. Pihaknya mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam pasar modal. BEI berharap tren positif ini terus berlanjut hingga akhir tahun.
Pertumbuhan Investor dan Nilai Transaksi
Peningkatan transaksi pasar modal Sulawesi Tengah didorong oleh pertumbuhan jumlah investor yang signifikan. Jumlah Single Investor Identification (SID) di Sulteng kini mencapai 135.509 orang. Angka ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi terhadap investasi saham dan potensi pasar yang besar di daerah ini.
Dibandingkan tahun sebelumnya, pertumbuhan SID pada tahun 2025 meningkat pesat. Pada tahun 2024, jumlah SID Sulteng hanya 120.085 orang, menunjukkan penambahan lebih dari 15.000 investor baru. Hal ini sejalan dengan peningkatan nilai transaksi tahunan yang sebelumnya hanya Rp9 triliun, kini mencapai Rp9,1 triliun dalam 10 bulan.
Putri Irnawati menjelaskan bahwa sentimen positif ini menciptakan iklim investasi yang kuat di Sulawesi Tengah. "Peningkatan itu tidak terlepas dari aktivitas investor pasar modal di daerah ini," kata Putri. Aktivitas investor yang semakin gencar berkontribusi pada lonjakan transaksi yang signifikan.
BEI mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam pasar modal. "Kami mengapresiasi investor saham karena semakin gencar melakukan transaksi. Kami berharap hingga akhir tahun nanti, jumlah transaksi semakin tumbuh," ujar Putri. Optimisme ini didasarkan pada tren positif yang terus berlanjut.
Edukasi dan Demografi Investor Pasar Modal
Meskipun tren pertumbuhan transaksi dan SID semakin baik, BEI terus aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai galeri investasi yang tersebar di seluruh wilayah Sulteng. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan literasi keuangan masyarakat.
"Tidak ada yang instan, semua melalui proses. Peningkatan jumlah transaksi tidak terlepas dari sosialisasi kami lakukan selama ini," ucap Putri. Dalam setiap kegiatan sosialisasi, BEI juga selalu mengedukasi masyarakat tentang bahaya investasi bodong. Calon investor pasar modal harus memahami ciri-ciri investasi yang sah agar tidak terjerumus ke dalam skema yang menyesatkan.
Demografi investor pasar modal di Sulawesi Tengah menunjukkan dominasi kelompok usia milenial. Investor berusia 18 hingga 25 tahun menjadi mayoritas dalam aktivitas ini, menunjukkan kesadaran investasi sejak dini. "Investor pasar modal terbanyak di Sulteng yakni Kota Palu, di susul Kabupaten Morowali dan Banggai," kata Putri.
Distribusi investor yang merata di beberapa wilayah utama Sulteng menunjukkan potensi pertumbuhan yang luas. Fokus pada edukasi dan pemahaman risiko investasi menjadi kunci utama BEI. Dengan demikian, pertumbuhan transaksi pasar modal Sulawesi Tengah dapat berkelanjutan dan investor dapat berinvestasi dengan aman dan cerdas.
Sumber: AntaraNews