PLN hapus proyek kabel bawah laut di proyek 35.000 MW
Alasannya, pembangunan pipa transmisi tersebut tidak terlalu ekonomis.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basri berencana untuk menghapus pembangunan kabel bawah laut searah atau High Voltage Direct Current (HVDC) dari proyek 35.000 MW. Alasannya, pembangunan pipa transmisi tersebut tidak terlalu ekonomis.
"HVDC ini adalah pertimbangan keekonomian. Terus yang kedua masalah teknis, dalam arti kata hari ini Sumatera masih sangat membutuhkan daya listik yang besar. Jawa sudah masuk 23.000 MW dalam RUPTL. Ketiga, pengkajian perencanaan yang sudah terlampau lama harus dilakukan," ujar dia di Gedung PLN, Jakarta, Senin (30/5).
Sofyan menjelaskan RUPTN masih harus dikaji. Saat ini, kata dia, kondisi kelistrikan Sumatera belum terintegrasi dan masih adanya pemadaman di beberapa daerah.
"Bagaimana kalau listrik dibawa ke Jawa? Apa tidak marah orang Sumatera? Nah, pengkajian-pengkajian ini harus mendalam, karena waktu yang sudah terlampau lama berbeda. 10 tahun itu luar biasa perubahannya," jelas dia.
Sofyan mengatakan sebaiknya dana pembangunan HVDC digunakan untuk pembangunan transmisi intergrasi Sumatera.
Pembatalan proyek ini tidak akan mempengaruhi pembangunan PLTU Sumatera 8,9 dan 10. Ketiga PLTU tersebut bisa tetap dibangun dan listriknya bisa digunakan seluruhnya untuk wilayah Sumatera.
"Tanpa HVDC kan bisa jalan. Memangnya tidak bisa jalan? Kalau untuk di Sumatera bisa jalan tidak?," pungkas dia.
Baca juga:
PLN Jakarta gandeng polisi tindak penyelewangan listrik
Menteri Sudirman kirim Dirjen cek perkembangan krisis listrik Nias
Muara Teweh masih krisis listrik, pemadaman bergilir diperpanjang
Meski APR Energy setop pasok, Nias dipastikan tetap surplus listrik
PLN tak bayar utang, APR Energy tutup permanen PLTD di Nias
Ini jawaban PLN disebut tak bayar utang ke pemilik PLTD di Nias
Terungkap, PLN tak bayar utang ke pemilik PLTD di Nias