LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

PGN dikhawatirkan jadi sapi perah Pertamina dalam holding energi

Jika di bawah Pertamina, akan banyak sentimen negatif yang akan mempengaruhi kinerja keuangan PGN.

2016-07-26 16:12:52
PGN
Advertisement

Pelaku pasar modal khawatir akan rencana pemerintah yang memberikan jalan PT Pertamina (Persero) untuk akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Sebab, dikhawatirkan PGN menjadi 'sapi perah' Pertamina dalam ekspansi bisnis usahanya.

"Untuk diketahui, sentimen market atau pelaku pasar kurang suka jika PGN berada di bawahnya Pertamina. Pasar maunya di bawah pemerintah," ujar Analis Woori Korindo Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (26/7).

Jika di bawah Pertamina, kata dia, akan banyak sentimen negatif yang akan mempengaruhi kinerja keuangan PGN secara keseluruhan. PGN, lanjut Reza, masih mencatatkan kinerja positif di tengah perlambatan ekonomi.

Advertisement

"Nah, yang sebenarnya ditakuti pelaku pasar di tengah laba yang masih berhasil dicatatkan PGN yakni nantinya hanya dijadikan sapi perah saja oleh Pertamina," kata Reza.

"Utang Pertamina yang besar nantinya bisa saja digunakan untuk menutup utang. Ujung-ujungnya dividen payout ratio juga kecil alhasil pemegang saham di bursa yang memegang PGN pun dividennya berkurang," tambahnya.

Ada baiknya, menurut Reza, pemerintah selaku pemegang saham mayoritas haruslah mengadakan RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham minoritas PGN. Hal ini untuk menjelaskan secara transparan mengenai rencana akuisisi tersebut.

Advertisement

Sebelumnya, Ekonom Dradjad Wibowo mengatakan rencana akuisisi haruslah ditunda. Pasalnya transparansi harus dinomorsatukan agar mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Rencana pemerintah menggabung Pertamina dan PGN sebaiknya dikaji ulang dengan cermat," imbuhnya.

Dradjad menjelaskan alasan pemerintah untuk mengkaji ulang akuisisi PGN oleh Pertamina. Pertama, alasan klasik dari merger dan akuisisi, yaitu adanya kesulitan likuiditas atau solvabilitas, tidak berlaku dalam kasus Pertamina dan PGN. Sebagai target (sasaran), PGN justru bagus likuiditas dan solvabilitasnya.

"Kedua, belum terdapat kajian yang meyakinkan bahwa penggabungan Pertamina dengan PGN akan memberikan sinergi operasional yang menghasilkan efisiensi," ungkapnya.

Adapun alasan ketiga, merger besar yang terjadi akhir-akhir ini lebih dipicu keinginan meningkatkan efisien dan memangkas biaya dalam salah satu sub sektor, minyak saja atau gas saja.

"Bukan menggabungkan minyak dan gas. Contohnya merger antara Shell dan BG Group. Motivasi utama adalah pemangkasan biaya dalam pengembangan ladang gas di Australia," katanya.

Dengan perkembangan di atas, dan ketiga alasan di atas, Dradjad menyarankan perlunya kajian yang lebih komprehensif terhadap rencana pembentukan holding BUMN migas ini.

Baca juga:
'Aneh jika holding energi hanya libatkan Pertamina dan PGN'
Kobagas: 80 persen sopir bajaj sudah gunakan gas dari PGN
Sopir bajaj gas: Pakai BBG, mesin kendaraan jauh lebih awet dan irit
Para sopir bajaj gas minta pemerintah perbanyak SPBG
Pakai BBG, pengemudi bajaj gas bawa pulang Rp 300.000 per hari
PGN utamakan penggunaan gas di kawasan usaha kecil dan menengah
PGN tambah 2.000 pelanggan gas rumah tangga

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.