Petani Menes Pandeglang Mulai Garap Tanam Ubi Jalar, Optimis Tingkatkan Ekonomi Daerah
Petani di Kecamatan Menes, Pandeglang, mulai menanam ubi jalar pada Februari 2026 dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi daerah. Panen ubi jalar ini diprediksi akan menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat setempat.
Sejumlah petani di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, telah memulai penanaman ubi jalar pada awal Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk meningkatkan pendapatan ekonomi di wilayah tersebut. Penanaman komoditas ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani lokal.
Musim tanam ubi jalar kali ini dilakukan di areal persawahan setelah para petani selesai memanen padi. Dengan perkiraan masa panen pada Mei 2026, para petani optimis bahwa hasil produksi akan melimpah dan mampu memenuhi permintaan pasar yang tinggi. Ubi jalar memang telah menjadi komoditas andalan bagi petani Menes selama puluhan tahun.
Menurut Ade, seorang petani dari Desa Cilaban Bulan Menes, penanaman ubi jalar yang dimulai pada Februari ini akan siap dipanen dalam waktu sekitar 100 hingga 110 hari setelah tanam. Produksi harian dari ubi jalar ini secara konsisten mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun regional. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran ubi jalar dalam menopang perekonomian masyarakat Menes.
Potensi Ekonomi Ubi Jalar Pandeglang
Pertanian ubi jalar di Menes, Pandeglang, telah terbukti menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak keluarga petani. Ade mencontohkan, dari tiga petak sawah yang ditanami, ia bisa menghasilkan sekitar 5 ton ubi jalar. "Kami tanam tiga petak sawah bisa menghasilkan 5 ton dan dijual ditingkat pengepul Rp3.000 per kilogram (kg), dan jika dikalkulasikan Rp15 juta," kata Ade.
Senada dengan Ade, petani lainnya, Juhdi, juga mengembangkan ubi jalar di lahan yang lebih luas. Juhdi menanam ubi jalar seluas enam petak atau sekitar 5.000 meter persegi (setengah hektare) dan mampu menghasilkan produktivitas hingga 10 ton. "Jika dijual 10 ton ke pengepul Rp3.000 per kg, sehingga menghasilkan pendapatan uang Rp30 juta," jelas Juhdi.
Eme (55), seorang pengepul ubi jalar di Kecamatan Menes, Pandeglang, membenarkan tingginya permintaan pasar terhadap komoditas ini. Setiap hari, Eme memasok ubi jalar antara 4 hingga 6 ton kepada pelanggan tetapnya di Pasar Rangkasbitung, Pasar Rau Serang, dan Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang. Ketersediaan pasokan yang stabil ini menunjukkan kapasitas produksi yang besar dari petani Menes.
Produksi ubi jalar dari Kecamatan Menes secara konsisten menjadi unggulan pendapatan ekonomi bagi petani setempat, dengan pasokan yang bisa mencapai puluhan ton per hari. Eme menambahkan bahwa aktivitas ini tidak hanya membantu pendapatan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi empat orang pekerja. Ini menunjukkan efek berantai yang positif dari sektor pertanian ubi jalar.
Dukungan dan Prospek Pertanian Ubi Jalar
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Nuridawati, menjelaskan bahwa pertanian palawija jenis ubi jalar kini banyak dikembangkan oleh petani di lahan persawahan. Sebaran penanaman tidak hanya di Menes, tetapi juga di kecamatan lain seperti Mandalawangi, Jiput, Saketi, dan Cikedal.
Nuridawati menekankan bahwa perekonomian petani yang mengembangkan ubi jalar cukup terbantu, terutama dengan harga di tingkat penampung atau tengkulak yang stabil di angka Rp3.000 per kg. Harga yang kompetitif ini memastikan petani mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil jerih payah mereka.
Secara keseluruhan, produksi ubi jalar di Kabupaten Pandeglang mencapai 10.345 ton per tahun. Dengan harga jual Rp3.000 per kg, perputaran uang dari komoditas ini dapat mencapai miliaran rupiah setiap tahunnya. Angka ini menegaskan posisi ubi jalar sebagai komoditas strategis yang berkontribusi signifikan terhadap ekonomi daerah.
Pengembangan ubi jalar yang berkelanjutan di Pandeglang diharapkan dapat terus meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan lokal. Dukungan dari pemerintah daerah dan stabilitas harga pasar menjadi kunci untuk menjaga momentum positif ini. Petani terus berinovasi dalam metode tanam guna memaksimalkan hasil panen dan kualitas ubi jalar.
Sumber: AntaraNews