Perang Dagang Dimulai Trump Buat Ekonomi AS Porak-poranda, Belanja Konsumen Melambat Tajam
Selama kuartal pertama, belanja konsumen AS juga melambat tajam. Hanya tercatat tumbuh sebesar 0,5 persen.
Ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun 2025, dengan laju penyusutan sebesar 0,5 persen pada basis tahunan, dari Januari hingga Maret. Angka ini lebih buruk dari pada perkiraan sebelumnya yang diperkirakan hanya mengalami penurunan sebesar 0,2 persen.
Melansir dari South China Morning Post, laporan terbaru dari Departemen Perdagangan menunjukkan bahwa kemerosotan ini disebabkan oleh gangguan akibat perang dagang yang dimulai oleh Presiden AS, Donald Trump.
Perang dagang ini menyebabkan ketegangan dalam dunia bisnis, dengan lonjakan impor yang signifikan sebagai respons terhadap tarif yang diterapkan Trump pada barang-barang asing.
Selama kuartal pertama, belanja konsumen juga melambat tajam. Hanya tercatat tumbuh sebesar 0,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 4 persen pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran konsumen terhadap dampak tarif impor yang diterapkan oleh pemerintah AS, yang menyebabkan mereka menunda pembelian barang dan jasa.
Selain itu, lonjakan impor yang tercatat pada periode tersebut mencapai angka 37,9 persen, yang merupakan kenaikan tercepat sejak tahun 2020, dan berdampak langsung pada penurunan hampir 4,7 poin persentase terhadap produk domestik bruto (PDB) AS.
Tren Positif Kuartal Sebelumnya
Penyusutan ekonomi ini membalikkan tren positif yang terjadi pada kuartal sebelumnya, di mana PDB tumbuh sebesar 2,4 persen. Ini juga menjadi kali pertama dalam tiga tahun terakhir ekonomi AS mengalami kontraksi.
Bahkan, tingkat keyakinan konsumen semakin terpuruk. Berdasarkan data terbaru dari Conference Board, indeks keyakinan konsumen AS turun menjadi 93 pada bulan Juni, mengalami penurunan tajam sebesar 5,4 poin dari bulan sebelumnya yang tercatat di angka 98,4.
Laporan tersebut juga mencatat penurunan signifikan pada ekspektasi warga AS terhadap pendapatan, kondisi bisnis, dan pasar kerja mereka, yang turun hampir 5 poin dan berada jauh di bawah angka 80 suatu level yang sering kali menjadi sinyal adanya kemungkinan resesi di masa mendatang.
Sementara itu, kategori yang mengukur kekuatan dasar ekonomi, seperti belanja konsumen dan investasi swasta, masih tercatat mengalami kenaikan, meskipun ada penurunan dalam angka pertumbuhannya.
Pada kuartal pertama, angka ini meningkat sebesar 1,9 persen pada tingkat tahunan, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan estimasi Departemen Perdagangan sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,5 persen.
Faktor Ikut Memperburuk PDB
Salah satu faktor utama yang turut memperburuk PDB adalah penurunan pengeluaran pemerintah federal, yang tercatat turun sebesar 4,6 persen secara tahunan penurunan terbesar sejak tahun 2022.
Selain itu, defisit perdagangan juga menjadi penyebab utama tergerusnya PDB. Meskipun begitu, para ekonom memperkirakan bahwa lonjakan impor yang terjadi pada kuartal pertama kemungkinan besar tidak akan terulang pada kuartal berikutnya, yang diperkirakan dapat kembali mencatatkan angka pertumbuhan positif sekitar 3 persen pada kuartal kedua 2025.
Survei oleh firma data FactSet menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun 2025 kemungkinan akan kembali pulih, dengan para ekonom memperkirakan bahwa angka pertumbuhan PDB akan mencapai 3 persen. Estimasi resmi untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua ini akan diumumkan pada 30 Juli mendatang.