Peningkatan Pemotongan Sapi di RPH Mataram Melonjak Signifikan Jelang Ramadhan
Kebutuhan daging sapi segar di Kota Mataram melonjak signifikan seiring masuknya bulan suci Ramadhan 1447 H, mengakibatkan **peningkatan pemotongan sapi Mataram** di dua RPH utama.
Sejak memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Rumah Potong Hewan (RPH) di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mencatat adanya peningkatan signifikan dalam jumlah pemotongan sapi. Kenaikan ini terjadi karena tingginya permintaan masyarakat akan daging sapi segar.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Hapiludin, pada Jumat (27/2), mengungkapkan bahwa peningkatan pemotongan ini mencapai 4-6 ekor sapi per hari. Fenomena ini menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa.
Kenaikan jumlah pemotongan sapi ini didorong oleh animo masyarakat yang besar untuk menyiapkan menu berbuka puasa dan sahur. Biasanya, aktivitas pemotongan sapi di dua RPH tersebut berkisar antara 60-70 ekor per hari. Namun, kini telah meningkat menjadi 66-74 ekor setiap hari.
Lonjakan Aktivitas di RPH Mataram
Kota Mataram memiliki dua RPH utama yang melayani kebutuhan daging lokal, yaitu RPH Majeluk dan RPH Gubuk Mamben Sekerbela. Pada hari-hari normal, masing-masing RPH biasanya memotong sekitar 30 hingga 35 ekor sapi setiap harinya.
Namun, sejak H-1 Ramadhan, kedua fasilitas ini mengalami peningkatan aktivitas yang cukup kentara. Lalu Hapiludin menjelaskan bahwa setiap RPH kini memotong tambahan 2-3 ekor sapi per hari.
Peningkatan ini, meskipun signifikan, masih dianggap wajar mengingat pola konsumsi masyarakat. Kenaikan yang lebih drastis diperkirakan akan terjadi menjelang Idul Fitri, saat permintaan daging mencapai puncaknya.
Preferensi Daging Segar dan Dinamika Harga
Meskipun ada opsi daging beku, masyarakat Kota Mataram secara konsisten menunjukkan preferensi kuat terhadap daging sapi segar, meskipun harganya cenderung sedikit lebih tinggi. Lalu Hapiludin menyoroti bahwa preferensi ini menjadi faktor utama tingginya pemotongan sapi lokal.
Daging beku, di sisi lain, memiliki pangsa pasar yang berbeda dan tidak diizinkan dijual di pasar tradisional. Produk ini lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) di Mataram.
Mengenai harga, seringkali terjadi kesalahpahaman di masyarakat karena harga yang disebutkan adalah untuk daging kualitas super, yang bisa mencapai Rp150.000 per kilogram. Padahal, terdapat berbagai kelas kualitas daging dengan harga yang bervariasi.
Kualitas daging sapi, mulai dari super, medium, hingga campuran, mempengaruhi harga jual di pasaran. Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk memahami bahwa harga daging dapat berbeda tergantung pada bagian organ sapi dan kualitasnya.
Antisipasi Puncak Permintaan Jelang Idul Fitri
Dinas Pertanian Kota Mataram memprediksi bahwa puncak peningkatan pemotongan sapi akan terjadi pada H-1 Idul Fitri. Pada periode tersebut, jumlah pemotongan di kedua RPH bisa melonjak drastis untuk memenuhi kebutuhan perayaan hari kemenangan.
Lalu Hapiludin memperkirakan bahwa setiap RPH mampu memotong antara 50 hingga 70 ekor sapi pada H-1 Idul Fitri. Ini berarti total pemotongan bisa mencapai 100 hingga 140 ekor sapi dalam satu hari.
Persiapan telah dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan ini, memastikan ketersediaan daging sapi segar bagi masyarakat Mataram. Peningkatan ini merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi menjelang hari raya besar.
Sumber: AntaraNews