Pasar Modal Bergairah, Menko Airlangga Soroti Capaian Setahun Prabowo-Gibran
Airlangga menuturkan, kondisi ekonomi nasional tetap solid meski dihadapkan pada dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan berbagai capaian signifikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam satu tahun terakhir, khususnya di sektor keuangan dan pasar modal.
Airlangga menuturkan, kondisi ekonomi nasional tetap solid meski dihadapkan pada dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Salah satu indikator keberhasilan terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni di atas level 8.000.
"Kita lihat, indeks harga gabungan itu mencapai all time high, jadi tinggi di atas 8.000," kata Airlangga dalam sambutannya di acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, di Jakarta, Kamis (16/10).
Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga terjaga kuat di kisaran USD 150 miliar, menandakan stabilitas ekonomi yang terjaga dengan baik.
"Dan cadangan devisa kita juga terjaga di angka USD 150-an miliar di bulan Maret menandainya relatif tinggi, namun rata-rata sekitar USD150 miliar," ujarnya.
Emas Jadi Pilar Baru Ketahanan Ekonomi Nasional
Airlangga juga menyoroti keberhasilan Indonesia meluncurkan bullion bank atau bank emas pertama di Asia Tenggara, yang menandai era baru pengelolaan aset emas nasional.
Peluncuran yang dilakukan pada Februari lalu bertepatan dengan harga emas dunia di kisaran USD 2.400 per troy ons, dan kini melonjak tajam menjadi USD 4.000 per troy ons per Oktober.
"Jadi, itu sudah naik yang luar biasa besar, seperti yang disampaikan pada saat peluncuran, bahwa emas itu salah satu safe haven investment di dalam berbagai gejolak perekonomian," ujarnya.
Dorongan Likuiditas dan Kebijakan Pro-UMKM
Selain sektor emas, pemerintah juga berfokus pada penguatan sistem keuangan domestik. Airlangga menyebut, Kementerian Keuangan telah menempatkan dana Rp200 triliun untuk menjaga likuiditas di sektor perbankan.
"Kemudian pemerintah melalui Menteri Keuangan telah menempatkan dana Rp200 triliun. Dan ini untuk mendorong likuiditas dan juga memaksa perbankan untuk menurunkan cost of fund mereka," ujarnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengambil langkah agresif lainnya dengan menghapus utang UMKM yang telah terbengkalai lebih dari dua dekade.
"Pemerintah juga sudah melakukan hapus tagih daripada hutang UMKM. Ini adalah persoalan lama, lebih dari 20 tahun. Mereka yang terkena tidak mampu bayar hutang karena gempa bumi, karena banjir, dan yang lain. Dan untuk pertama kali mereka bisa dihapuskan sehingga tentunya ini membuka kesempatan mereka untuk kembali berkegiatan ekonomi," katanya.