LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Meski sudah lengser, SBY terus dikritik gagal majukan ekonomi

Indef menyebut ada 10 indikator kegagalan ekonomi Indonesia masa pemerintahan SBY.

2014-11-27 12:37:42
Ekonomi Indonesia
Advertisement

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati menilai kinerja perekonomian masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengalami kegagalan. Menurut Enny, terdapat 10 indikator kegagalan sektor ekonomi masa SBY seperti ketimpangan si kaya dan miskin semakin melebar atau indeks gini ratio yang naik 0,5 persen.

"Kontribusi sektor industri terhadap PDB pun menurun. Pada 2004 share industri mencapai 28 persen, sementara di 2013 turun menjadi 23,5 persen," ujar Enny di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/11).

Indikator selanjutnya, neraca perdagangan yang sebelumnya surplus USD25,06 miliar, menjadi defisit USD4,06 miliar. Pertumbuhan ekonomi tinggi namun tidak menciptakan lapangan kerja.

"Elastisitas 1 persen pertumbuhan dalam membuka lapangan kerja, turun dari 436 ribu menjadi 164 ribu. Lalu Efisiensi ekonomi pun semakin buruk. ICOR melonjak 0,33 persen dari 4,17 persen menjadi 4,5 persen. Ini didorong karena adanya inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur," tegasnya.

Kemudian tax ratio (rasio pajak) justru turun sebesar 1,4 persen dari sebelumnya 12,2 persen menjadi 10,8 persen. Selain itu, kesejahteraan petani menurun 0,92 persen.

Lalu Rasio utang terhadap PDB turun. Namun utang per kapita justru naik dari USD531,29 per penduduk, menjadi USD1,002.69 per penduduk.

"Pembayaran bunga utang menyedot rata-rata 13,6 persen dari anggaran pemerintah pusat, dengan realisasi pembayaran rata-rata 92,7 persen per tahun," ungkapnya.

Selanjutnya APBN naik namun disertai defisit keseimbangan primer. Tahun 2004 keseimbangan primer surplus 1,83 persen dari PDB, tahun 2013 justru defisit 1,19 persen. "Postur APBN semakin tidak proporsional, boros, dan semakin didominasi pengeluaran rutin dan birokrasi," tutupnya.

Baca juga:
Penghematan ala Presiden Jokowi dikhawatirkan cuma pencitraan
Jokowi dinilai berlebihan batasi tamu kawinan pejabat
Jokowi harus waspadai warisan ekonomi pemerintah SBY
Pemerintah dorong pengusaha SPBU asing bangun SPBG
4 Kondisi memprihatinkan sektor energi nasional
Nasib Petral ditentukan enam bulan ke depan

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.