Menteri ESDM Targetkan Operasi Tambang GBC Freeport Dimulai Terbatas April 2026 Pasca Longsor
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan Operasi Tambang GBC Freeport yang longsor akan beroperasi terbatas April 2026. Evaluasi mendalam prioritas utama demi keselamatan pekerja.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menetapkan target penting terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI). Ia menargetkan bahwa tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PTFI, yang mengalami insiden longsor pada awal September 2025, dapat kembali beroperasi secara terbatas mulai April 2026. Keputusan ini diambil setelah serangkaian evaluasi mendalam yang sedang berlangsung.
Insiden longsor lumpur bijih basah di GBC Freeport telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur pendukung produksi. Pemerintah melalui Kementerian ESDM saat ini memfokuskan upaya pada identifikasi penyebab longsor, audit tambang, serta penyusunan rekomendasi perbaikan. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan keamanan dan kelayakan operasional tambang di masa mendatang.
Penetapan target waktu ini menekankan komitmen pemerintah untuk memulihkan kapasitas produksi PTFI, namun dengan prioritas utama pada keselamatan. Bahlil menegaskan bahwa evaluasi tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa, mengingat potensi risiko terhadap nyawa pekerja. Keselamatan menjadi pertimbangan utama di atas aspek bisnis.
Fokus Evaluasi dan Keselamatan Pekerja
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian ESDM, sedang bekerja keras untuk meninjau secara menyeluruh insiden longsor di tambang GBC Freeport. Fokus utama saat ini adalah untuk mencari tahu penyebab pasti dari longsor lumpur bijih basah yang terjadi. Proses ini melibatkan tim ahli yang akan melakukan audit tambang secara komprehensif, dengan tujuan menyusun rekomendasi perbaikan yang tepat dan efektif.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secara tegas menyatakan bahwa keselamatan pekerja adalah prioritas utama dalam seluruh proses evaluasi ini. "Di titik yang bermasalah, yang bencana itu, tim kami lagi evaluasi. Kami targetkan mungkin bulan 3, bulan 4 tahun depan beroperasi," ucap Bahlil, seraya menambahkan bahwa tidak ada keinginan untuk terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ia menekankan pentingnya evaluasi mendalam untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Bahlil juga menyoroti tanggung jawab moral terhadap keselamatan. "Nanti, siapa yang bertanggung jawab? Ini nyawa orang, bukan persoalan bisnis, nyawa orang," kata dia, menggarisbawahi bahwa aspek kemanusiaan harus selalu diutamakan. Pernyataan ini selaras dengan keterangan dari Freeport McMoRan Inc. yang memperkirakan operasi GBC akan dimulai secara bertahap, diawali oleh PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026, dan PB1C pada 2027.
Dampak Insiden dan Proyeksi Produksi
Insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu telah menimbulkan dampak signifikan terhadap infrastruktur pendukung produksi di area GBC. Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek, yang diperkirakan akan berlangsung mulai kuartal IV-2025 hingga sepanjang tahun 2026 di area tambang GBC. Penundaan ini tentu akan mempengaruhi target produksi perusahaan secara keseluruhan.
Meskipun tambang GBC mengalami penundaan, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengonfirmasi bahwa dua situs pertambangan PT Freeport Indonesia lainnya, yaitu Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, telah mulai beroperasi kembali. Kedua lokasi ini tidak terdampak langsung oleh insiden longsor di GBC. Meski sudah beroperasi, Tri Winarno menjelaskan bahwa kedua lokasi tersebut belum berproduksi secara penuh.
Nantinya, ketika DMLZ dan Big Gossan kembali berproduksi, hasil pertambangan dari kedua lokasi ini akan diserap sepenuhnya oleh smelter Freeport yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur. Hal ini menunjukkan upaya PTFI untuk tetap menjaga rantai pasok dan operasional hilirisasi meskipun salah satu tambang utamanya mengalami kendala. Fokus pada Operasi Tambang GBC Freeport tetap menjadi prioritas jangka panjang.
Kapasitas dan Signifikansi Tambang GBC
Tambang Grasberg Block Cave (GBC) merupakan salah satu zona tambang bawah tanah yang sangat vital bagi PT Freeport Indonesia. Berdasarkan catatan perusahaan, produksi bijih rata-rata PTFI pada tahun 2024 mencapai 208.356 ton per hari, yang mencakup tembaga, emas, dan perak. Angka ini menunjukkan skala besar operasi pertambangan yang dilakukan oleh Freeport di Indonesia.
Selain GBC, Freeport juga mengelola lokasi pertambangan lain seperti Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan. Namun, kontribusi GBC terhadap total produksi PTFI sangat signifikan. Dikutip dari laporan resmi Freeport, produksi konsentrat GBC mencapai sekitar 133.800 ton per hari, sementara DMLZ sekitar 64.900 ton per hari, dan Big Gossan sekitar 8.000 ton per hari.
Dengan demikian, produksi dari tambang GBC menyumbang sekitar 64 persen dari total kapasitas keseluruhan Freeport Indonesia. Angka ini menegaskan betapa krusialnya pemulihan Operasi Tambang GBC Freeport bagi keberlanjutan produksi dan kontribusi PTFI terhadap ekonomi nasional. Pemulihan ini diharapkan dapat mengembalikan kapasitas produksi perusahaan ke tingkat optimal.
Sumber: AntaraNews