Menkeu Purbaya: Tambah Utang atau Krisis 1998, Pilih Mana?
Menkeu Purbaya menjelaskan penambahan utang darurat guna menyelamatkan perekonomian nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah di tengah tekanan ekonomi global yang mengemuka pada awal tahun ini. Ia menyampaikan bahwa dalam situasi yang penuh tantangan, pemerintah dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah guna menjaga stabilitas nasional.
Menurut Purbaya, perlambatan ekonomi yang terjadi belakangan ini menuntut pemerintah untuk menentukan strategi dengan risiko paling kecil bagi masyarakat luas. Ia juga menyinggung pengalaman krisis keuangan di masa lalu sebagai pembelajaran penting agar kebijakan yang diambil saat ini tetap terukur dan berhati-hati.
"Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya," ungkap Purbaya di The Tribrata Darmawangsa, yang ditulis pada Senin (16/2).
Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan untuk meningkatkan utang diambil dengan pendekatan yang terukur sebagai stimulus untuk memastikan roda ekonomi tetap berputar. Menurutnya, menyelamatkan ekonomi dari potensi krisis sistemik adalah prioritas utama sebelum pemerintah melakukan konsolidasi atau penyehatan kembali anggaran negara.
Strategi "tata ulang" yang dimaksud oleh Menkeu mencakup komitmen untuk menyehatkan kembali APBN melalui optimalisasi pendapatan negara setelah kondisi ekonomi dinyatakan stabil. Ia menjamin bahwa langkah ekspansi fiskal ini bersifat sementara dan akan segera diikuti dengan upaya efisiensi di berbagai sektor.
Purbaya juga mengingatkan agar sektor jasa keuangan tetap optimis dalam menyalurkan likuiditas. Harapannya, langkah-langkah penyelamatan yang diambil pemerintah dapat memberikan ruang bagi dunia usaha untuk tetap berkembang, sehingga pemulihan ekonomi dapat berlangsung lebih cepat tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas.
Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi Capai 6%
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Menkeu Purbaya) menetapkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melebihi 6 persen pada tahun 2026. Target ini lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN yang ditetapkan sebesar 5,4 persen. Purbaya menilai capaian tersebut sebagai langkah untuk keluar dari pola pertumbuhan yang selama ini stagnan di kisaran 5 persen.
"Karena apalagi terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen," ungkap Purbaya dalam forum Indonesia Economic Outlook pada Jumat (13/2).
Menekankan pentingnya untuk tidak terjebak dalam pertumbuhan yang stagnan, Purbaya memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpotensi tumbuh di rentang 5,5 hingga 6 persen. Ia menekankan bahwa target tersebut bukan sekadar angka formal, tetapi mencerminkan penguatan momentum pemulihan ekonomi.
Menurutnya, fondasi ekonomi nasional saat ini berada dalam kondisi yang solid, dan berbagai program prioritas, termasuk stimulus serta belanja sosial, dipercepat untuk menjaga daya beli masyarakat serta likuiditas di sistem keuangan.
Purbaya juga mengungkapkan optimisme terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik, dengan harapan untuk mencapai Indonesia Emas jika pertumbuhan ekonomi terus terjaga dengan baik. Ia menegaskan bahwa semua kebijakan fiskal pemerintah saat ini diarahkan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.
Dalam konteks ini, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam APBN, tetapi ia berharap angka tersebut dapat mendekati 6 persen. Ia menyebutkan bahwa banyak pihak mempertanyakan prospek ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang, bukan hanya dalam satu atau dua kuartal.
Untuk menjawab keraguan tersebut, Purbaya menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia biasanya bergerak dalam siklus, yang terdiri dari masa pertumbuhan (ekspansi), diikuti oleh perlambatan (resesi), sebelum akhirnya tumbuh kembali. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat lebih optimis terhadap arah pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Peningkatan di Indikator Ekonomi
Menurut Purbaya, pasca masa resesi singkat, Indonesia umumnya dapat menikmati periode pertumbuhan yang cukup panjang. "Ini bola kristal ekonomi Indonesia saya keluarkan lagi, ekonomi kita biasanya ada ekspansi, resesi, ekspansi, resesi. Ekspansi bisa berlangsung antara 7-10 persen habis itu resesi setahun, kemudian ekspansi lagi. Jadi anda nggak usah takut prospek jangka menengah ekonomi kita, itu akan terjadi betul karena kebijakan kita pas, menterinya pas lah kira-kira," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, di mana indeks yang mencerminkan arah ekonomi untuk enam hingga dua belas bulan ke depan sempat mengalami penurunan, namun kini telah menunjukkan kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Purbaya menilai bahwa indikator kondisi ekonomi saat ini juga memperlihatkan tren yang lebih positif. Jika keadaan ini dapat dipertahankan dan kebijakan tetap konsisten, Indonesia berpeluang untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya hingga tahun 2033.
Ia optimis bahwa Indonesia bisa menuju arah yang lebih baik, yaitu Indonesia Emas, bukan sebaliknya. "Jadi kelihatannya kita ada kemungkinan besar bisa membawa ekonomi Indonesia ke Indonesia emas, bukan Indonesia suram," pungkasnya.