Konsumsi listrik Indonesia kalah dibanding Malaysia dan Thailand
Kehadiran proyek 35.000 MW akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sektor industri.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, berdasarkan data Bank Dunia, penggunaan listrik atau kilo Watt per hour (kWh) per kapita Indonesia hanya mencapai 700 kWh. Jumlah itu masih kalah ketimbang Malaysia dan Thailand yang mencapai masing-masing 4.000 kWh dan 2.000 kWh.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, mengatakan rendahnya konsumsi listrik ini membuat daya saing industri Tanah Air kalah dibandingkan negara tetangga. Maka dari itu, kehadiran program 35.000 megawatt (MW) sangat penting untuk Indonesia.
"Target kita baru 2019 (konsumsi listrik) itu mendekati 1.500 kWh," ujar dia di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/5).
Menurut dia, rendahnya penggunaan kWh tersebut disebabkan volume industri Tanah Air tidak terlalu besar. Imbasnya, penyerapan tenaga kerja menjadi sedikit. Diharapkan, proyek 35.000 MW bakal membuat penyerapan tenaga kerja industri semakin meningkat.
"Jadi 35.000 MW itu hal yang mutlak harus dilakukan untuk menumbuhkan industri kita," kata dia.
Selain itu, idealnya, PLN harus menyediakan cadangan listrik setidaknya hingga 30 persen. Kehadiran proyek 35.000 MW dipercaya akan meningkatkan cadangan energi Indonesia.
"Di listrik itu ada sistem LOLP. Itu mewajibkan bahwa sistem harus punya margin 30 persen dari demand. Dan itu hanya Jawa saja. Ini yang harus dikawal supaya jangan turun," pungkas dia.
Baca juga:
Baru 1 persen, DPR pertanyakan komitmen PLN bangun 35.000 MW
PLN: Banyak orang mau listrik tapi ogah ada tower
Jokowi: Banyak tak percaya proyek 35.000 MW, pesimis sekali kita ini
FSRU Lampung siap dukung proyek kelistrikan 35.000 MW
Tim TP4P kawal mega proyek listrik Sulawesi-Nusa Tenggara
Menteri ESDM sebut 35.000 MW bukan hanya proyek tapi sebuah gerakan
Target 35.000 MW Jokowi hanya terealisasi di atas kertas