Kemenkeu: Realisasi KUR NTT Tembus Rp2,32 Triliun per Oktober 2023, Dorong Ekonomi Lokal
Kementerian Keuangan mencatat realisasi KUR NTT mencapai Rp2,32 triliun hingga Oktober 2023, disalurkan kepada puluhan ribu debitur, menunjukkan geliat ekonomi UMKM di Nusa Tenggara Timur.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan pencapaian signifikan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga 31 Oktober 2023, realisasi penyaluran KUR di seluruh wilayah NTT telah mencapai angka Rp2,32 triliun.
Data ini disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah DJPb Kemenkeu Provinsi NTT, Adi Setiawan, dalam keterangannya di Kupang pada Senin (25/11). Penyaluran dana tersebut telah menjangkau 55.001 debitur, menandakan partisipasi aktif pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam program pemerintah.
Pencapaian ini merupakan bagian integral dari kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) regional Provinsi NTT. Diharapkan, realisasi KUR ini dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan UMKM di berbagai sektor di Nusa Tenggara Timur.
Rincian Penyaluran KUR Berdasarkan Lembaga Keuangan
Adi Setiawan menjelaskan bahwa penyaluran KUR di NTT dilakukan oleh beberapa lembaga keuangan dengan kontribusi yang bervariasi. Bank BRI menjadi penyalur terbesar dengan total mencapai Rp1,91 triliun, menunjukkan dominasinya dalam mendukung UMKM di daerah tersebut.
Setelah Bank BRI, Bank BNI menyusul dengan realisasi penyaluran sebesar Rp203,47 miliar. Sementara itu, Bank Mandiri juga turut berkontribusi dengan menyalurkan KUR senilai Rp166,90 miliar kepada para debitur di NTT.
Secara skema, Adi menambahkan bahwa skema mikro merupakan yang paling dominan dalam penyaluran KUR di NTT. Skema ini mencapai total Rp1,73 triliun, menjangkau 52.320 debitur yang sebagian besar merupakan pelaku usaha kecil.
Distribusi Geografis Penyaluran KUR di NTT
Penyaluran KUR tidak merata di seluruh wilayah NTT, dengan beberapa daerah menunjukkan penyerapan yang lebih tinggi. Kota Kupang tercatat sebagai wilayah dengan penyaluran terbesar, mencapai Rp234,05 miliar untuk 3.302 debitur.
Diikuti oleh Kabupaten Sikka yang menerima penyaluran sebesar Rp164,01 miliar, menunjukkan potensi UMKM yang kuat di wilayah tersebut. Namun, terdapat juga daerah dengan realisasi yang masih minim, seperti Kabupaten Sabu Raijua yang hanya mencapai Rp4,15 miliar.
Distribusi ini mencerminkan perbedaan kebutuhan dan kapasitas UMKM di setiap kabupaten/kota. Upaya peningkatan aksesibilitas dan sosialisasi program KUR perlu terus dilakukan di daerah dengan penyaluran yang masih rendah.
Sektor Ekonomi Unggulan Penerima KUR
Sektor perdagangan besar dan eceran mendominasi penyaluran KUR di NTT, mencatat hingga 53,59 persen dari total realisasi. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki peran vital dalam perekonomian lokal dan menjadi tulang punggung bagi banyak UMKM.
Dominasi sektor perdagangan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar dana KUR digunakan untuk modal kerja dan pengembangan usaha di bidang jual beli. Pemerintah dan perbankan dapat terus mengidentifikasi sektor potensial lainnya untuk diversifikasi penyaluran KUR.
Perkembangan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi)
Selain KUR, Kemenkeu juga mencatat realisasi penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) yang signifikan di NTT. Hingga 31 Oktober 2023, total pembiayaan UMi telah mencapai Rp261,51 miliar, disalurkan kepada 53.733 debitur.
Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi lembaga penyalur UMi terbesar, dengan total Rp253,87 miliar untuk 52.521 debitur. Ini menunjukkan peran penting PNM dalam menjangkau pelaku usaha ultra mikro yang mungkin belum dapat mengakses KUR.
Secara geografis, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan penyaluran UMi terbesar, mencapai Rp27,41 miliar untuk 5.372 debitur. Sementara itu, Kabupaten Sumba Tengah menjadi wilayah dengan penyaluran UMi terkecil, hanya sebesar Rp1,87 miliar.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga mendominasi penyaluran UMi, mencapai 98,68 persen. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum masih menjadi yang paling kecil dalam penyerapan pembiayaan UMi, menunjukkan adanya peluang untuk pengembangan di sektor tersebut.
Sumber: AntaraNews