Kemen PU Tuntaskan Pemasangan Jembatan Bailey Krueng Beutong, Akses Aceh Kembali Normal
Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) berhasil menuntaskan pemasangan Jembatan Bailey Krueng Beutong di Nagan Raya, Aceh, memastikan konektivitas vital kembali pulih pasca bencana dan memperlancar distribusi logistik.
Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh telah merampungkan pemasangan Jembatan Bailey Krueng Beutong. Jembatan ini berlokasi di Kecamatan Beutong Ateuh Benggala, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Penyelesaian ini menandai langkah penting dalam pemulihan aksesibilitas di wilayah tersebut.
Pemasangan jembatan darurat ini menjadi prioritas utama pemerintah untuk menjaga konektivitas. Hal ini sangat krusial dalam situasi darurat bencana yang dapat menghambat mobilitas masyarakat. Jalan dan jembatan memiliki peran strategis sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi dan distribusi logistik.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menekankan pentingnya akses yang tidak terputus. “Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat,” ujarnya, menegaskan komitmen pemerintah. Ini memastikan bantuan kemanusiaan dan distribusi logistik dapat berjalan lancar.
Prioritas Konektivitas dalam Penanganan Bencana
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa menjaga konektivitas menjadi prioritas utama pemerintah, terutama dalam menghadapi situasi darurat bencana. Peran strategis jalan dan jembatan sangat vital sebagai penggerak utama aktivitas masyarakat serta distribusi logistik. Dalam kondisi bencana, memastikan akses tetap terbuka adalah hal terpenting agar mobilitas warga dan bantuan kemanusiaan tidak terhenti.
Melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Kemen PU terus melakukan berbagai upaya pemulihan akses secara intensif. Fokus utama adalah pada ruas-ruas strategis yang terdampak longsor dan kerusakan jembatan. Penanganan darurat ini dilakukan secepat mungkin dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia.
Hingga 7 Januari 2026, sebagian besar ruas strategis di lintas tengah Aceh telah berhasil terhubung kembali dan fungsional. Pemulihan ini dilakukan baik secara permanen maupun melalui penanganan darurat. Contohnya adalah pemasangan Jembatan Bailey dan pengalihan ke jalur alternatif untuk memastikan kelancaran lalu lintas.
Pemulihan Akses Lintas Tengah Aceh yang Strategis
Sejumlah ruas utama di Aceh telah kembali terhubung, menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya pemulihan infrastruktur pasca bencana. Ruas-ruas ini sangat penting untuk mobilitas warga dan distribusi barang di wilayah tersebut. Konektivitas yang pulih ini mendukung percepatan pemulihan ekonomi lokal.
Beberapa ruas yang telah fungsional kembali antara lain Ruas Kota Bireuen–Batas Bireuen/Bener Meriah, serta Ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram. Selain itu, Ruas Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya juga sudah dapat dilalui kendaraan. Ini menunjukkan cakupan luas dari upaya perbaikan yang dilakukan.
Aksesibilitas juga telah pulih pada Ruas Batas Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren. Selanjutnya, Ruas Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane hingga Ruas Kota Kutacane–Batas Provinsi Sumatera Utara juga telah dapat dilalui kembali. Percepatan penanganan ini difokuskan pada pembukaan kembali akses transportasi darat sebagai jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Penanganan Lanjutan dan Target Fungsional Jembatan Bailey
Meskipun banyak ruas telah pulih, penanganan di beberapa ruas lainnya masih terus berlangsung. Salah satunya adalah Ruas Blangkejeren–Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara, yang sempat kembali mengalami longsor pada awal Januari 2026. Ruas ini sedang dalam penanganan intensif dengan target fungsional kembali pada 9 Januari 2026.
Sementara itu, pada Ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram, saat ini tengah dilakukan pengujian beban pada Jembatan Bailey yang telah terpasang. Pengujian ini penting untuk memastikan keamanan dan kekuatan jembatan sebelum dibuka sepenuhnya untuk umum. Proses ini merupakan bagian dari standar operasional yang ketat.
Kepala BPJN Aceh, Heri Yugiantoro, menyatakan bahwa penanganan darurat terus dilakukan secepat mungkin. “Masih terdapat ruas di wilayah Aceh Tengah yang belum sepenuhnya tersambung dan sedang kami tangani,” jelas Heri. Ia menambahkan bahwa meskipun sudah terbuka, masih dibutuhkan penyesuaian agar layak untuk kendaraan roda empat, dengan laporan lapangan menunjukkan fungsional pada 9 Januari 2026.
Sumber: AntaraNews