Gubernur NTB Dorong Strategi Pemasaran Kerajinan NTB, Angkat Nilai Seni
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mendorong perubahan strategi pemasaran kerajinan NTB dengan fokus pada narasi dan nilai seni. Ini bertujuan agar produk lokal memiliki harga jual lebih tinggi dan mampu menembus pasar premium.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mendorong perubahan signifikan dalam strategi pemasaran produk kerajinan lokal. Perubahan ini bertujuan untuk memperkuat narasi dan nilai seni yang melekat pada setiap karya, sehingga mampu meningkatkan harga jual dan menembus pasar premium.
Pernyataan tersebut disampaikan Iqbal saat menghadiri acara Karya Kreatif NTB 2026 yang berlangsung di Epicentrum Mall, Mataram, pada hari Jumat. Ia menyoroti bagaimana cara pandang terhadap perajin sangat memengaruhi apresiasi terhadap produk yang mereka hasilkan.
Menurut Iqbal, selama ini pekerjaan perajin lokal seringkali hanya dipandang sebatas pembuat kerajinan tangan, bukan sebagai seniman pencipta karya seni. Pandangan ini menyebabkan produk kerajinan lokal berkualitas tinggi cenderung dihargai murah, karena dianggap hanya sebagai handycraft.
Mengangkat Nilai Seni di Balik Kerajinan NTB
Iqbal menekankan bahwa strategi pemasaran kriya harus bergeser dari sekadar menjual produk fisik menjadi menonjolkan cerita, ide, dan nilai seni di baliknya. Dengan demikian, produk kerajinan NTB tidak lagi dipandang remeh sebagai kerajinan tangan biasa.
Ia memberikan contoh produk dari negara maju seperti Austria dan Swiss yang mampu dijual dengan harga tinggi karena diposisikan sebagai karya seni atau art. Hal ini menunjukkan bahwa nilai seni yang kuat dapat meningkatkan daya saing dan harga jual produk secara signifikan.
Mantan Duta Besar Turki ini juga menceritakan pengalamannya menemukan produk keramik sederhana di luar negeri yang diyakininya bisa dibuat lebih baik oleh pelajar sekolah vokasi atau perajin gerabah di Lombok. Ia berharap produk-produk dari perajin NTB dapat "naik kelas" dari kerajinan tangan menjadi produk seni.
Kisah Tenun Muna Pa'a: Bukti Nilai yang Terabaikan
Sebagai ilustrasi konkret, Iqbal menceritakan tentang kain tenun tradisional Muna Pa'a dari Kabupaten Dompu di Pulau Sumbawa. Kain ini memiliki kualitas sangat baik dengan ciri khas motif kotak-kotak tiga dimensi menyerupai anyaman gedek.
Meskipun bahan baku kain tenun Muna Pa'a bernilai Rp400 ribu dan proses pembuatannya memakan waktu hingga sepekan, harga jual selembar kain ini di pasaran hanya sekitar Rp600 ribu. Ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara nilai produksi dan harga jual yang diterima perajin.
Iqbal bahkan secara pribadi pernah membayar kemeja tenun Muna Pa'a hingga tiga kali lipat dari harga yang ditawarkan perajin, karena sangat puas dengan kualitas karya yang dipesan secara khusus tersebut. "Begitu dikirim ke saya, saya lihat luar biasa hasilnya. Hari itu juga saya transfer tiga kali lipat dari harga yang ditawarkan," ujarnya.
Pengalaman ini menggarisbawahi pentingnya menghargai waktu dan ketelitian yang dibutuhkan perajin untuk menghasilkan karya sempurna. "Mari melihat produk-produk perajin bukan sekadar kerajinan tangan, tapi seni, karena butuh waktu sangat panjang untuk sampai ke sebuah hasil yang sempurna," pungkas Iqbal.
Mendorong Kerajinan NTB Menuju Pasar Premium
Dorongan Gubernur NTB ini merupakan langkah strategis untuk mengangkat derajat perajin lokal dan produk mereka di mata pasar. Dengan fokus pada narasi, ide, dan nilai seni, kerajinan NTB diharapkan dapat menarik perhatian segmen pasar premium.
Peningkatan apresiasi terhadap nilai seni akan secara langsung berdampak pada peningkatan harga jual, memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi para perajin. Ini juga akan mendorong inovasi dan kreativitas dalam pembuatan produk.
Melalui pendekatan ini, produk kerajinan NTB tidak hanya akan dikenal karena keindahan fisiknya, tetapi juga karena cerita dan filosofi di baliknya. Hal ini akan memperkuat identitas budaya lokal sekaligus membuka peluang lebih luas di pasar global.
Sumber: AntaraNews