Fakta Menarik: Kinerja Industri Kimia Farmasi Tekstil Melonjak, Sumbang 3,82% PDB Nasional Hingga Pertengahan 2025
Kinerja Industri Kimia Farmasi Tekstil (IKFT) Indonesia melonjak signifikan hingga pertengahan 2025, berkontribusi 3,82% PDB nasional. Simak rincian subsektor pendorong pertumbuhan ini dan kebijakan Kemenperin!
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan adanya lonjakan kinerja yang signifikan pada sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) hingga pertengahan tahun 2025. Capaian positif ini menunjukkan penguatan struktur industri dalam negeri yang didukung oleh peningkatan kinerja ekspor serta kebijakan pemerintah yang konsisten.
Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT Kemenperin, Sri Bimo Pratomo, pada Minggu (05/10) di Jakarta, menjelaskan bahwa sektor IKFT telah memberikan kontribusi sebesar 3,82 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini menegaskan peran strategis sektor tersebut sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Lonjakan kinerja ini didorong oleh beberapa subsektor kunci yang menunjukkan pertumbuhan impresif, dengan industri bahan galian non logam mencatat kenaikan tertinggi. Berbagai kebijakan strategis terus diimplementasikan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat daya saing industri nasional.
Subsektor Pendorong Kinerja Industri Kimia Farmasi Tekstil
Kinerja positif sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) ditopang oleh beberapa subsektor yang mengalami pertumbuhan signifikan. Industri bahan galian non logam menjadi primadona dengan kenaikan tertinggi sebesar 10,07 persen pada triwulan II tahun 2025.
Angka ini menunjukkan lonjakan besar dibandingkan triwulan sebelumnya, di mana subsektor ini sempat mengalami penurunan sebesar 1,68 persen di triwulan I tahun 2025. Lonjakan ini mengindikasikan pemulihan dan penguatan yang cepat di sektor tersebut.
Selain itu, subsektor industri farmasi dan obat tradisional turut mencatat lonjakan pertumbuhan yang signifikan, mencapai 9,39 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I tahun 2025 yang hanya sebesar 3,68 persen, maupun 4,47 persen pada triwulan IV tahun 2024. Industri kulit, barang kulit, dan alas kaki juga menunjukkan performa positif, naik menjadi 8,31 persen dari 6,95 persen pada triwulan I 2025.
Kontribusi Ekspor dan Indeks Kepercayaan Industri
Capaian positif sektor IKFT juga didukung oleh kinerja ekspor yang mengesankan dari sektor unggulan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor alas kaki (HS 64) sepanjang Januari hingga Agustus 2025 mencapai 5,16 miliar dolar AS, tumbuh 11,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar 4,61 miliar dolar AS.
Ekspor tekstil dan produk tekstil (HS 50-63) juga mencatat kenaikan 0,24 persen menjadi 8,01 miliar dolar AS dari sebelumnya 7,98 miliar dolar AS. Secara total, ekspor gabungan alas kaki dan TPT menembus 13,17 miliar dolar AS, naik 4,51 persen dibanding capaian tahun lalu yang mencapai 12,59 miliar dolar AS. Produk kimia (HS 38) juga memberikan kontribusi signifikan dengan nilai ekspor mencapai 6,12 miliar dolar AS.
Kinerja ini sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode September 2025, yang menunjukkan industri manufaktur masih berada dalam zona ekspansi dengan nilai mencapai 53,02 poin. Berdasarkan hasil IKI selama tiga bulan terakhir, seluruh subsektor IKFT konsisten menunjukkan fase pertumbuhan yang positif, menandakan optimisme pelaku industri.
Kebijakan Strategis Kemenperin untuk Penguatan Industri
Kementerian Perindustrian terus berkomitmen dalam mendorong pengembangan dan penguatan industri melalui berbagai kebijakan strategis. Untuk sektor IKFT, langkah yang ditempuh meliputi peningkatan ekspor, menjaga serta menjamin ketersediaan bahan baku dan energi bagi industri dalam negeri, serta mendorong peningkatan utilisasi kapasitas produksi.
Demi menjaga momentum pertumbuhan ini, Kemenperin mendorong kebijakan hilirisasi, khususnya pada industri kimia berbasis minyak dan gas, serta sektor bahan galian bukan logam. Selain itu, penguatan basis ekspor pada komoditas andalan seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki juga menjadi prioritas. Sri Bimo Pratomo menyatakan, "Tindakan strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan."
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa langkah strategis yang ditempuh berupa kebijakan hilirisasi dan substitusi impor bertujuan untuk mencapai peningkatan nilai tambah dan kemandirian industri nasional. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah tidak hanya memperluas basis ekspor, namun juga memperkuat ketahanan pasokan bahan baku dalam negeri. Komitmen ini turut diiringi dengan kerja sama internasional sebagai upaya membuka akses pasar yang lebih luas serta menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi investasi pada sektor industri. Menperin menambahkan, "Capaian ini telah menunjukkan industri pengolahan nonmigas memiliki peran strategis dalam menjaga kinerja ekspor sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional."
Sumber: AntaraNews