Ekonom: Perbaikan Sisi Suplai Kunci Pacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lebih Tinggi
Kepala Ekonom IEI Sunarsip menekankan perbaikan sisi suplai sebagai kunci utama memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, melampaui capaian optimal saat ini dan mendorong konsumsi rumah tangga.
Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, menyoroti pentingnya strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berfokus pada penguatan sisi suplai. Menurutnya, meskipun capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2025 sudah optimal, angka tersebut belum cukup untuk mendorong perekonomian ke tingkat yang lebih tinggi.
Sunarsip menjelaskan bahwa kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bukan hanya menciptakan permintaan, melainkan memperbaiki sisi suplai sektor-sektor terkait. Pendekatan ini dianggap krusial untuk mengatasi berbagai hambatan yang selama ini membatasi potensi ekonomi nasional.
Pandangan ini disampaikan dalam sebuah diskusi di Jakarta pada hari Kamis, di mana Sunarsip menegaskan bahwa tanpa penyelesaian masalah di sisi suplai, upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan akan terhambat. Fokus pada perbaikan suplai diharapkan dapat membuka jalan bagi peningkatan daya saing dan produktivitas.
Hambatan Sisi Suplai dan Dampaknya pada Konsumsi Rumah Tangga
Sunarsip mengidentifikasi beberapa hambatan utama di sisi suplai yang perlu segera diselesaikan. Keterbatasan pembiayaan, kapasitas industri yang belum optimal, dan rendahnya minat investasi menjadi faktor-faktor krusial. Jika masalah-masalah ini tidak diatasi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan sulit menembus level 5 persen.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam beberapa kuartal terakhir terus melemah, dengan laju 4,89 persen (yoy) pada kuartal III 2025. Kondisi ini, menurut Sunarsip, disebabkan oleh belum pulihnya industri pascapandemi COVID-19, khususnya di Pulau Jawa yang merupakan pusat kegiatan ekonomi dan penyumbang tenaga kerja terbesar nasional.
Apabila bottleneck di sisi suplai dapat diselesaikan, Sunarsip meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dapat menembus di atas 5 persen, bahkan tanpa insentif fiskal tambahan. Ini menunjukkan bahwa perbaikan struktural di sisi produksi memiliki dampak yang lebih fundamental dan berkelanjutan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi 53,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 5,04 persen, menunjukkan adanya investasi yang perlu terus didorong.
Strategi Hilirisasi dan Penguatan Industri Domestik
Meskipun ekspor tumbuh sebesar 9,91 persen (yoy) pada kuartal III 2025 dan menjadi salah satu penopang ekonomi, Sunarsip menyoroti bahwa sebagian besar kinerja tersebut bersumber dari sektor hilirisasi yang padat modal. Sektor ini cenderung berlokasi di luar pusat konsumsi utama, sehingga efek berganda terhadap peningkatan daya beli masyarakat di wilayah padat penduduk masih terbatas.
Untuk mengatasi hal ini, Sunarsip memandang perluasan hilirisasi ke sektor pertanian dan industri manufaktur di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan sebagai momentum penting. Langkah ini tidak hanya akan memperkuat basis industri domestik tetapi juga mendorong ekspor yang lebih berkelanjutan dan merata.
Dengan pulihnya industri yang sebelumnya lesu, ekspor diharapkan akan tumbuh lebih tinggi, dan pasar domestik akan ikut menguat. Peningkatan ini secara otomatis akan mendorong konsumsi rumah tangga, menciptakan siklus pertumbuhan yang lebih sehat dan inklusif.
Oleh karena itu, Sunarsip menyarankan pemerintah untuk menyeimbangkan strategi antara penguatan permintaan dan perbaikan sisi suplai. Keseimbangan ini penting agar perekonomian tidak hanya tumbuh stabil, tetapi juga mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sumber: AntaraNews