Dulu Putus Sekolah dan Bantu Usaha Toko Kelontong, Kini Jadi Pemilik Gerai Alfamart Berharta Rp57 Triliun
Namanya kini identik dengan jaringan ritel Alfamart, yang gerainya tak hanya menjamur di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga merambah manca-negara.
Membangun bisnis ritel terbesar bukanlah perkara mudah, namun Djoko Susanto berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan dapat mengantarkan seseorang menuju puncak kesuksesan.
Namanya kini identik dengan jaringan ritel Alfamart, yang gerainya tak hanya menjamur di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga merambah manca-negara.
Melansir dari berbagai sumber, kisah perjalanan Djoko menuju puncak tidaklah mulus. Ia harus menempuh jalan berliku sebelum menjadi sosok penting di industri ritel Tanah Air.
Pada tahun 1966, kebijakan pemerintah yang menutup sekolah-sekolah Tionghoa memaksanya putus sekolah saat baru duduk di bangku kelas satu SMA. Meski pendidikannya terhenti, semangatnya tak pernah padam.
Setelah meninggalkan bangku sekolah, Djoko sempat bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan perakit radio. Namun pekerjaan itu tidak membuatnya betah.
Dia akhirnya memutuskan untuk membantu usaha kelontong milik orang tuanya, Toko Sumber Bahagia, yang terletak di Pasar Arjuna, salah satu pasar tradisional di Jakarta. Di sana, Djoko menjual berbagai kebutuhan pokok, mulai dari minyak sayur, kacang tanah, hingga rokok.
Seiring waktu, fokus toko bergeser menjadi penjualan rokok dalam skala besar. Kejelian Djoko dalam mengelola usaha ini menarik perhatian Putera Sampoerna, tokoh besar di industri rokok nasional.
Pertemuan mereka pada awal 1980-an menjadi titik balik penting. Pada tahun 1985, keduanya sepakat membuka 15 kios di berbagai lokasi di Jakarta, menjual produk-produk Sampoerna.
Kemampuannya dalam memasarkan rokok membuat Djoko dipercaya menjadi direktur PT Panarmas, distributor rokok Sampoerna. Ia juga turut memasarkan produk unggulan Sampoerna, A Mild, yang diluncurkan pada 1989 dan sukses besar di pasaran.
Dirikan PT Alfa Retailindo
Di tahun yang sama, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo, yang menjadi cikal bakal jaringan toko ritel miliknya. Menggunakan bekas gudang milik Sampoerna di Jalan Lodan Nomor 80, Djoko membangun Toko Gudang Rabat.
Awalnya toko ini difungsikan sebagai distributor rokok baru Sampoerna, namun kemudian mulai menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga lainnya. Keberhasilan toko ini mendorong Djoko untuk membuka cabang di berbagai kota.
Memasuki era 1990-an, Gudang Rabat menjelma menjadi pesaing kuat Salim Group yang mengelola Indomaret. Melihat potensi besar bisnis ini, Djoko melakukan rebranding pada tahun 1999 dan melahirkan Alfa Minimart di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya.
Kemudian, pada 2003, nama Alfa Minimart resmi berganti menjadi Alfamart, yang kini memiliki ribuan gerai di seluruh Indonesia.
Tak berhenti di situ, Djoko kembali melakukan ekspansi dengan mendirikan jaringan gerai baru bernama Alfamidi pada 2007. Gerai ini dikelola oleh PT Midi Utama Indonesia Tbk dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, menyasar segmen ritel dengan skala yang lebih besar dibanding Alfamart.
Seiring waktu, Djoko Susanto terus memperluas imperium bisnisnya. Ia kini menaungi sejumlah perusahaan yang berkembang pesat, antara lain PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi), Alfa Express, Lawson Indonesia, Dan+Dan, Alfagift (Alfa Digital), PT Sumber Indah Lestari, unit produksi private label Alfamart, hingga yayasan sosial Alfa Foundation.
Kesuksesan Alfamart turut mengantarkan Djoko Susanto masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Dia menempati peringkat ke-14 dengan total kekayaan mencapai USD3,5 miliar atau sekitar Rp57,3 triliun (kurs Rp16.398).