DPD RI Dukung Kementan Perkuat Penguatan Inseminasi Buatan untuk Ketahanan Pangan Nasional
Komite II DPD RI memberikan dukungan penuh kepada Kementan dalam program Penguatan Inseminasi Buatan demi meningkatkan mutu genetik ternak dan menjaga ketahanan pangan nasional berkelanjutan.
Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memperkuat program inseminasi buatan (IB). Dukungan ini bertujuan meningkatkan mutu genetik ternak, produktivitas peternak, serta memperkokoh ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan melalui layanan reproduksi. Inseminasi buatan dianggap sebagai isu strategis yang harus dikawal bersama oleh berbagai pihak.
Ketua Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako, yang akrab disapa Angelo, menekankan pentingnya program ini saat kunjungan kerja ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Jawa Barat. Angelo, yang juga menjadi peserta pelatihan inseminator, menegaskan bahwa IB berkaitan langsung dengan stabilitas pangan nasional. Kehadiran negara melalui program ini diharapkan dapat dirasakan langsung oleh peternak di seluruh Indonesia.
Program inseminasi buatan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pemberdayaan sumber daya manusia di lapangan. Petugas inseminator diharapkan menjadi pendamping utama bagi peternak, membantu mereka meningkatkan kualitas usaha. Dengan demikian, kepercayaan diri peternak dalam mengembangkan usahanya akan meningkat, berujung pada ketahanan pangan yang lebih kokoh.
Tantangan dan Solusi Penguatan Inseminasi Buatan
Meskipun memiliki peran strategis, implementasi inseminasi buatan di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan signifikan. Salah satu kendala utama adalah rendahnya tingkat adopsi teknologi oleh peternak, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman atau akses informasi. Selain itu, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia atau inseminator juga menjadi penghambat efektivitas program.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kendala distribusi semen beku ke berbagai daerah di Indonesia, terutama wilayah terpencil. Hal ini dapat menghambat akses peternak terhadap bibit unggul yang diperlukan untuk perbaikan genetik ternak. Kondisi geografis Indonesia yang luas dan beragam seringkali menjadi faktor penyulit dalam proses distribusi.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terkait. Sinergi ini akan memastikan program inseminasi buatan dapat berjalan lebih efektif dan efisien di seluruh wilayah. Selain itu, penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis kebutuhan peternak juga krusial agar pelaksanaan program berjalan optimal.
Peran Strategis Peternakan dan Ketersediaan Bibit Unggul
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa subsektor peternakan memiliki peran vital dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Ketersediaan daging, susu, dan telur sangat menunjang ketahanan pangan nasional, yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Upaya peningkatan populasi dan produktivitas ternak terus dilakukan.
Indonesia telah mencapai surplus untuk daging ayam dan telur. Namun, untuk daging sapi dan kerbau, produksi nasional pada tahun 2026 diproyeksikan hanya mencapai 479 ribu ton, atau sekitar 50 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 964 ribu ton. Sementara itu, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional, menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu diatasi.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi dan produktivitas sapi serta kerbau, salah satunya melalui penerapan teknologi inseminasi buatan. Tujuan utama IB adalah memperbaiki mutu genetik ternak, meningkatkan angka kelahiran ternak secara teratur, serta mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul. Selain itu, IB juga berperan penting dalam mencegah penularan penyakit pada ternak.
Kementan memastikan ketersediaan semen beku berkualitas tinggi melalui dua Balai Inseminasi Buatan nasional, yaitu Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari di Jawa Timur dan BIB Lembang di Jawa Barat. Saat ini, Indonesia telah swasembada semen beku dari sisi jumlah, dengan stok mencapai 6,9 juta dosis di BIB Lembang dan 4,8 juta dosis di BBIB Singosari.
Capaian dan Target Program Inseminasi Buatan
Program inseminasi buatan telah menunjukkan hasil nyata yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Melalui program Upsus SIWAB dan SIKOMANDAN yang dilaksanakan dari tahun 2017 hingga 2023, layanan IB berhasil menjangkau 25,5 juta akseptor sapi di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini berdampak pada peningkatan angka kelahiran ternak secara substansial.
Dari total akseptor sapi tersebut, tercatat kelahiran ternak mencapai 13,85 juta ekor. Angka kelahiran ini merepresentasikan nilai ekonomi yang sangat besar, diperkirakan mencapai Rp69,3 triliun. Pencapaian ini menunjukkan kontribusi nyata program inseminasi buatan terhadap perekonomian peternak dan ketahanan pangan nasional.
Untuk tahun 2026, Kementan menargetkan layanan inseminasi buatan di 20 provinsi wilayah introduksi. Target ini mencakup fasilitasi 250 ribu dosis semen beku dan 14.089 liter nitrogen cair. Selanjutnya, Kementan juga menetapkan target kelahiran pedet sebanyak 142.500 ekor pada tahun 2027, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak nasional.
Sumber: AntaraNews